Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

00:04 ,
MABESnews.com�Jakarta�Mantan Jaksa Agung RI 1998-1999 di era Presiden BJ Habibie, Andi Muhammad Ghalib ikut serta meramaikan bursa calon legislatif (caleg) daerah pemilihan II Sulsel untuk pileg 2014 mendatang. Dengan bismillah, ia memulai niat baiknya tersebut.

Seperti catatan KPU, Andi Ghalib akan berkompetisi terlebih dahulu dengan �jagoan� caleg PPP di dapil II Sulsel untuk melenggang ke senayan. Mantan Duta Besar untuk India ini harus bersaing dengan politisi PPP seperti Andi Jamaro Dulung, Muhammad Aras, Bachri Mappiasse, Samsibar, Andi Mariattang, dan sejumlah tokoh lainnya. Belum lagi dari pesaing para politisi nasional partai lain di Dapil Sulsel II yang meliputi 9 Kabupaten: Sinjai, Bone, Maros, Bulukumba, Pangkep, Barru, Soppeng, Wajo, dan Kota Parepare.

Saat dihubungi, ia mengatakan bahwa alasan utama menjadi caleg dari PPP sebagai bentuk pengabdiannya pada umat Islam yang mayoritas di Indonesia. Selain itu, ia juga ingin umat Islam yang mayoritas di Indonesia memiliki kehidupan berkualitas dengan mengacu dengan syariat Islam yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW.

�(Tujuan saya menjadi caleg PPP) sebagai bentuk pengabdian saya yang tiada akhir untuk mengembalikan kejayaan Islam melalui partai Islam satu-satunya, yaitu PPP,� jelas mantan Wakil Gubernur Sulsel ini.

Andi Ghalib mengatakan, kondisi hukum di tanah air juga cukup memprihatinkan. Persoalan yang menyentuh rasa keadilan masyarakat diabaikan pemerintah. Keprihatinan yang mendalam tentunya reformasi hukum yang masih berjalan lambat.

Mantan  Anggota DPR RI periode tahun 2004�2009 ini mengaku dirinya merasa terpanggil dan prihatin dengan kondisi hukum yang terjadi sekarang ini. Bukan karena reformasi tapi karena tidak konsisten pimpinan dalam melaksanakan hukum itu tersendiri.

�Kita perlu memperbaiki terus menerus proses berbangsa dan bernegara kita, khususnya soal pengelesaian hukum di Indonesia karena ini sangat menentukan masa depan negara kita,� ujar Letnan Jenderal (Pur) ini, di balik telpon selulernya, Selasa (23/07/2013). (HMS) Sumber: www.mabesnews.com



Pemekaran provinsi Papua Tengah, merupakan suatu wilayah astimintrasi negara. Pemekaran bertujuhan untuk mempermudah dan mengakses pembangunan dari berbagai aspek dan sector kehidupan manusia. Maka ada kerja keras dari elit politik untuk memekarkan provinsi Papua Tengah. Pemekaran itu telah di setujuhi oleh beberapa kabupaten, dan kabupaten yang mendukung adalah nota benenya kabupaten- kabupaten yang baru dimekarkan, misalnya Dogiayi, Deiyi, Intan Jaya dll. Maka kita sebagai kaum intelek mengkritisi, mengapa harus mereka yang mendukung ketimbang kabupaten yang lama.
Ada sebuah ilusterasi, sebelum penjelasan selanjutnya:
� seorang laki-laki menika seorang gadis baru dari negri sebrang, ia mempunyai banyak tanggungjawab yang harus selesaikan setelah gadis itu masuk rumah. Yang pertama laki-laki menyelesaikan maskawi dari gadis itu, membuat rumah yang layak untuk hidup, membuat kebun,dll. Dan setelah selesai urusan sebagai kepala keluarga maka ia bisa merencanakan kegiatan yang lain�.
Cerita atau ilustrasi di atas mau mengatakan kepada kabupaten-kabupaten baru mekar yang ada membenahi duluh Rumah tangganya terlebih duluh (kabupatenya), baru memikirkan pembentukan pemekaran propinsi. Kalo belum beres maka pemekaran di tundah atau tidak usah, karena akan merusak kehidupan rumah tangganya.
Saya sebagai salah seorang kaum intelek tidak sependapat untuk pemekaran provinsi Papua Tengah karena setiap kabupaten yang ada di wilayah yang mau pemekarang masi belum maju dalam hal pembangunan fisik maupun manusia.
Secara singkat bereskan terlebih dahulu rumah tanggahnya masing-masing kabupatennya maka kemudian memikirkan rumah tanggah yang lebih besar lagi.

Migani ju dole�!!!!!
Oleh:Benyamin Magay
 Penulis adalah Mahasiswa STFT �Fajar Timur� Jayapura Papua.



Seraya berkata dengan menyadari ketidak mampuan orangtua dengan berlatarbelakang petani, semua mahasiswa sebagai intelektual tertuju kepada nun Jahu sana dari negeri orang. Kami memandang ke dunia timur. Kami dasar bahwa demi pembentukan karakter berpikir kita kedepan untuk merubah alam dan manusia Intan Jaya dari arus perkembangan di era praneter pada dunia dewasa ini. Kami sunguh-sungguh sadar akan pentingnya pendidikan maka kami merancang ulang kembali program kerja dari sisi pendidikan. Dengan pendidikana mengarahkan kami putr-putri Intan Jaya berambisi untuk memandang jahu kedepan seraya menyadari tandangan dan tanggungjawab kami yang harus kami emban bagi anak cucu kami.

Untuk menaklukannya tidak ada pendorong sementara mata tertuju kepada dunia timur untuk datang mengangat kami dari perjuangan penderitan tetap sampai detik ini sulit terwujudkan. Kami sadar dengan kesadaran pendidikan pelajar dan mahasiswa Intan Jaya siap melakukan upaya yang intensif untuk merumuskan kembali pendidikan kami sehubungan dengan disiplin ilmu di setiap tingkat kampus yang berbeda tetapi kami ingin mau menyatukan perbedaan presepsi demi membangun Intan Jaya.

Kami sungguh menyadari bahwa kamilah tongkat estafet Intan Jaya yang akan nanti menjadi posisi pendambing program kerja Intan Jaya untuk pendidikan, kesadaran masyarakat, dan pelatihan tentang kebelanjutan (the Intan Jaya work program on education, public awareness and training for sustainability). Dengan analisa ini, betapa pentingnya pendidikan untuk itu, melalui refleksiku mengambil kesimpulan bahwa satu tujuan, satu harapan menuju intan jaya dari kota study menjadi buyar atau tidaknya tergantung dunia timur Intan Jaya mau meringankan keinginan dan harapan kami. Untuk mengimplemantasikan pendidikan akan berkarakter pemimpin sebagai pola perubahan secara fundamental dan hakiki pada orentasi radikalisme.

Kami sadar bahwa dengan pendidikan di kampus pun kami memahami dan mengerti tetapi disamping itu kami mau bahwa demi pembaruhhan membutuhkan uluran tangan pemerintah Intan Jaya. Pendidikan baru demi masa depan yang berkelanjutan memalaui pembaharuan kebijakan-kebijakan dan program-program pendidikan yang signifikan dan komfrensif demi pengembangan kami pelajar dan mmahasiswa untuk bergerak maju bukannya mudur terhadap ralitas yang terus berkembang dan maju ini sangat penting untuk di pahami dan di mengerti di masa depan pendidikan Intan Jaya.

Jadi harapan sebenarnya kapankah akan datang pemerintah Intan Jaya sementara surat dispensasi sudah, sedang dan akan terus tersusun rapi dimeja belajar.

 Oleh: Krismas Bagau penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa APMD/STPMD Yogyakarta.

Pemekaran merupakan suatu tujuhan yang mulia, karena dengan Pemekaran akan menghadirkan banyak hal (persoalan) yang menguntungkan maupun merugikan. Pemekaran akan sah kalo adanya kelengkapan astimintrasi yang akurat sesuai dengan fakta yang ada di daerah pemekaran (lapangan). Maka kita memperhatikan hal-hal yang menjadi dasar untuk membentuk pemekaran kabupaten misalnya penduduk, geografis wilayah, sumber daya alama serta hal yang paling inti, adalah bagimana kita menganalisis dan melihat kedepan setelah pemekaran kabupaten tersebut.
Bagi saya dampak pemekaran akan mengandung dua dampak yang besar yaitu dampak positif dan dampak negative.
Dampak positif, dengan pemekaran lebih mempermudah dalam mengakses pembangunan imprastruktur, mempermuda transportasi, perkembangan ekonomi dan juga bagimana untuk berpolitik dalam pemerintahan.
Dampak negatif, dengan pemekaran akan menghadirkan masalah-masalah sosial semakin pesat antar induvidu, kelompok, alam dan Tuhan sendiri. Dan juga membuat rakyat menjadi mental insane dan yang lebih para lagi kalo budaya atau kulturnya dibongkar bangkir. Dan masih banyak hal lagi tetapi secara garis besar demikian.
Maka kita mengambil keputusan pemekaran seharusnya mempertimbangkan dua dampak, baik positif maupun negative. Dan juga bisa membertimbangkan penghasilan SDM yang memadai untuk kedepan dalam menduduki kabupaten pemekaran tersebut.
Saya sebagai kaum intelek membandingkan bahwa belum banyak para sarjanh dan professor untuk mencukupi sebua kabupaten yang baru serta jumlah membandingkan penduduk yang ada. Misalnya pemekaran ini terjadi dan SDM kurang maka penduduk asli dari kabupaten terebut bukan menjadi tuan atas kabupatenya melainkan hamba di kabupatenya sendiri (di tanahnya sendiri).
Dengan demikian saya sebagai salah seorang mahasiswa Migani memberi tawaran solusi kepada para senior intelektual yang power untuk memekarkan kabupaten Kugapa terlebih dahulu memperhatikan SDM ketimbang pemekaranya. Karena dengan SDM yang mutu dan banyak, bisa mendirikan kabupaten atau pasti kita akan menguasai kabupaten induk misalnya Paniai, Dogiai, Intan Jaya, Nabire dan Deyai bahkan juga menguasai provinsi Papua.
Saya usulkan kepada kaum intelek mahasiswa/pelajar yang berasal dari weandoga dan sekitarnya, agar kita musti mempertimbngkan pemekaran kabupaten baru ini, karena kita adalah ekstapet masa depan daerah. Dan kita musti jelih melihat persoalan ini secara kritis dan mempertimbangkan dampak yang akan terjadi setelah pemekaran ini terjadi.
Wajib dibaca dan tanggapan kritis kita, dan kita musti sampaikan kepada para

Oleh:
Benyamin Magay
 Penulis adalah Mahasiswa STFT �Fajar Timur� Jayapura Papua.

Jika Disiplin Ilmu Tidak di Tegahkan maka Menciptakan
D5P. (Datang, Duduk, Diam, Dengar, Duit dan Pulang.


Terbayang di nun jahu di negeri orang ketika mendengar realitas hidup di alamku Intan Jaya yang akan menghapi pesta demokrasi kursi DPRD yang pertama sekali pemilihan yang umum, bebas, rahasia yang menentukan pemimpin Intan Jaya secara hati nurani. Isu hangat membakar semangat untuk merahinya pun sudah sedang dan akan terus dirancang. Ambisi untuk mencapi kursi DPRD Intan Jaya dari rumah-ke rumah pun isu hangat dibicarakan dalam rumah dan di luaar rumah. Dalam situasi itu pun manusia mulai berbicara ini dia orangnya dan itu bukan orangnya.

Diam membisu mendengar isu perkembangan politik tetang pemilihan DPRD Kabupaten Intan Jaya yang pertama sekali yang dapat memanas sehingga para pemimpin partai pun tidak berdiam diri dalam ruang tertentu, tetapi mulai mempersiapkan kadernya yang terbaik untuk siap berperang mengerut suara melalui partainya untuk itu mereka mulai menyusung anak panah untuk siapa yang maju dan siapa yang tidak maju pun tercium dan terdengar alam dan manusia. Visi dan misi pun sudah, sedang dan akan rancang untuk mengerut masa. Apa si yang mau di capai melalui DPRD? Benakku menyeret di arena sandiwara politik DPRD dengan berbagai pertanyaan demi pertanyaan nun jahu di negeri orang.

Dalam refleksi terlitnas argument demi argument dengan jawaban ketidakpastian asumsi yang tidak pada tempatnya untuk menemukan jawaban pasti. Banyak orang mempunyai ambisi menjadi DPRD. Dan boleh saja menjadi DPRD Tetapi yang menjadi persoalan adalah bisakah seorang masyarakat dengan pendidikan SD atau SMP bisa menyusun program kerja yang baik untuk keperpihakan kepada masyarakat. Jangan bermimpi menjadi seorang DPRD sementara argument tanpa tulisan tidak menghasilkan sesuatu atau menunjukan keperpihakan dalam visi dan misi yang menjadi orentasi dan runjukan dalam kinerja nanti setelah menjadi DPRD. dan lebih para lagi tidak bisa membuat sesuatu yang berguna. Atau mungkin DPRD temapatnya mendapat uang banyak, mobil banyak. Dan dengan uang bisa menyelesikan persoalan atau masalah yang berkembang dalam masyarakat.

Persoalan di atas itu hal biasa dan manusiawi tetapi yang lebih penting untuk menaklukan persoalan perkembangan membutuhkan manusia yang memang handal dan tahan uji dalam berbagai situasi yang sudah siap pakai dari sisi budaya, adat istiadat,dan perkembangan sesuai dengan disiplin pendidikan minimal D3. Hal demikianlah yang bisa mendeteksi perkembangan pembangunan manusia dan alam intan jaya secara keseluruhan dimensi kehidupan realitas hidup.

Analisa jangan sampai yang menjadi DPRD mengunakan dimensi strategis dari orang di luar Intan Jaya datang dapat menysitir orang dalam intan Jaya yang sama sekali tidak sama sekali tahu tentang adat dan budaya setempat, dari sisi lain juga DPRD mampu menaklukkan, dalam hal ini kapitalisme menyodorkan sejumlah uang dan terlena dan termakan akhirnya orentasi tidak jelas dan visi dan misi pun tidak jelas akhirnya uang pun di terima dan kapitalisme di persilahkan masuk hanya karena melihat uang. Untuk itu manusia yang dengan perpendidikan SMP tidak perluh diterima justru menghanculkan pembangunan dan manusia intan jaya nanti, walaupaun pola berpikir sudah matang tetapi untuk mengkonsepkan pembangunan amat sulit sehingga orang lain yang akan diperalatkan.

Saya lebih mendukung note yang dinaikan di facebook dengan argument saudara Paskalis Belau dengan mengatakan. Calon DPRD Kabupaten Intan Jaya tanpa orientasi ke depan yang jelas. Sejak jadwalkn pendaftaran bakal calon DPRD rekruitman bakal calon tanpa orientasi yangg jelas agar dan untuk memenuhi partai tanpa pengader partai. Intan jaya saat Ini banyak bakal calon yang maju rata-rata dari pendidikn SLTA. Sayangnya mereka maju orientasi mobil kaca gelap dan beristri lebih dari satu. sayang hal ini bertentangan dengan prosedur hukum. Sebenarnya fungsi DPRD adalah mengaspirasi keluhan masyarakat daalm keterlibatan pembangunan serta kawali kinerja pemerinta dalam pembangunan. dalam kenyataan orientasi materialism semata seperti: mobil kaca gelap dan prempuan, sementara program kerja tidak jelas maka perlu ada masukan dari berbagai kalangan. Apa yg di aspirasikn oleh DPRD sementara yang ada dan ada adalah aspirasi datang, duduk, dengar, duit lalu bar bir dan bor.

Memang tidak salah note saudara paskalis Belau yang di naikan note di atas. Pernyataan itu membangun kesadaran manusia yang berambisi kursi DPRD. Manusia dengan orentasi demikian akan menciptakan konflik holisontal dan vertical karena hanya tahu berbicara tetang keperpihakan kepada masyarakat tetapi berbicara tanpa konsep yang jelas sama saja mematikan pembangunan. Lebih parah lagi manusia yang mengandalkan masa untuk menduduki jabatan DPRD menyuarakan hak-hak masyarakat tetapi iya membalik telapak tangan dan melihat penderitan rakyatnya menjadi hal yang biasa-biasa. Justru mereka diangat untuk menyurakan hak-hak mereka tetapi itu tidak di lakukan tetapi hanya menciptakan mental korupsi karena memang mau buat apa dan mau lakukan apa yang tidak ada konsep ko yang jelas cecara tertulis.

Waspada, manusia model itu bisa juga menghanculkan pola perkembangan dan penyelamatan pembangunan manusia dan alam akan hancul. Untuk itu, manusia harus sadar bahwa pembangunan membutuhkan manusia yang bisa membagun dangan mengkonsepkan sesuatu yang menyelamatkan. Jika tanpa konsep sama saja manusia model itu yang menjadi biang keladi untuk datang, duduk, diam, dengar duit dan pulang tanpa fungsi kerja yang jelas.

Demi mengantisipasi hal demikian manusia harus mendeteksi dengan orentasi pembangunan bahwa manusia DPRD ini yang bisa dan kinerjanya yang jelas, criteria yang jelas demi keselamatan Kabupaten Intan Jaya. Jangan sampai sulit untuk dapat mengkonseptualisasikan dalam realitas hidup akhirnya korbannya adalah masyarakat jelata yang tidak tahu sama sekali dengan dunia perkembangan. Pada perkembangan di era praneter ini masyarakat berada pada tarap berpikir yang skeptis dengan perkembangan. Sebab perkembangan menjadi korban kekerasan terhadap mereka. Untuk melwan itu musti manusia yang mampu melawan arus perkembangan harus memilih manusia yang berpendidikan memadai untuk mampu menghadapi realitas yang terus berkembang di era praneter ini.

Persoalan yang dipersoalkan adalah Jangan sampai kita memilih manusia yang orentasinya tidak jelas visi dan misi tidak jelas dan hanya orentasinya Datang, Duduk, Dengar,diam, Duit, dan Pulang karena tidak ada konsep sama sekali. Konsep bukan secara lisan aspirasi sebagai seorang DPRD menyampaikannya untuk mempertanggungjawabkanya tetapi konsep yang di butuhkan adalah konsep yang secara tertulis. Konsep tertulis itulah yang dibutuhkan untuk menyampaikan untuk membangun kesadaran pradaban pembangunan baru dalam perkembangan ini.

Seandainya manusia memilih dalam pemilihannya yang tidak punya konsep dan orentasi berpikirnya uang, uang dan uang itulah yang akan mematikan pembangunan Kabupaten Intan Jaya sehingga hal yang lebih penting seorang DPRD adalah menyusung dan melaksanakan program peraturan pemerintah daerah. Dan manusia yang hanya ambisi saja dan tidak bisa membuat sesuatu untuk mengaspirasi hak masyarakat saya kira sama saja memaikan pembangunan. Pembangunan melaui konsep akan berhasil dari pada hanya berbicara saja secara lisan. Lisan tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang bermanfat untuk keperpihakan kepada masyara sehingga akan memperalat aspirasi karena sulit mengkonsepkan. Demi mengantisipasi masalah seperti itu perlu adanya disiplin ilmu harus ditegahkan supaya masyarakat menjadi tuan di negerinya sendiri melalui perjuangan DPRD.

Dalih ambisi itu hal biasa tetapi namanya kursi DPRD adalah menyuarakan aspirasi masyarakat supaya masyarakat setempat menjadi tuan di negerinya sendiri maka sangat pelu sekali manusia yang fower vokal tetapi sulit mengkonsepkan sesuatu secara tertulis tidak perlu menjadi DPRD dan manusia yang vokal dan mampu mengkonsepkan itulah yang di pilih melalui pemilihan umum, bebas dan rahasia. Sehingga dapat mengatasi problematika persoalan secara jernih dan masuk akal yang dapat di pertanggungjawbkan demi kemajuan secara fundamental dan hakiki yang berdasarkan orentasi yang radikal.


Oleh: Krismas Bagau
penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa APMD/STPMD Yogyakarta.
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget