Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

01:59 ,
Andi Muhammad Ghalib, SH, MH
SOPPENG, SUMBER: RAKYATSULSEL.COM � Andi Galib, mantan Jaksa Agung ikut angkat bicara terkait penangkapan ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Mochtar oleh penyidik KPK. Kata Galib, hukuman yang tepat bagi Akil Mochtar adalah ditambah sepertiga atau sepertiga lebih berat dari ancaman hukuman yang ditetapkan.

Hal ini disampaikan kepada wartawan di kafe Damai, Soppeng, di sela-sela road shownya di kota kalong, Soppeng, Minggu, (6/10).

Mantan Jaksa Agung yang juga mantn Duta Besar RI dan berkuasa penuh India ini mengaku, sangat menyayangkan kasus yang menjerat Ketua MK, Akil Mochtar ini. Pasalnya, MK adalah benteng terakhir penegakan hukum konstitusi tapi kini justru roboh disebabkan kasus suap yang menerpa seorang ketuanya.

�Saya berharap kepada KPK agar mengambil tindakan tegas memberi hukuman maksimal dan kalau perlu hukum yang berat seperti hukuman mati misalnya, karna kita tahu di dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku jika pejabat yang melakukan tindak pidana korupsi itu hukumannya di tambah sepertiga dari jumlah yang di tetapkan, � kata Galib.

Selaku mantan Jaksa Agung, imbuhnya, di era saat itu tidak ada pejabat yang berbuat. Jika ditemukan, maka dirinya akan memberikan hukuman berat karena hal tersebut merupakan tamparan keras bagi penegakan hukum di Indonesia dan juga tamparan buat DPR agar perlakuan dalam penjaringan seorang hakim agung lebih di perketat.


�Ini juga merupakan ujian berat buat KPK karena ternyata korupsi masih meraja lela. Para penegak hukum harus lebih mawas lagi jika tidak ingin penegakannya kedodoran,� jelas Andi Galib yang kini Caleg DPR RI untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Sul-Sel 2.

06:31 ,
H Andi M Ghalib

MABESnews--BONE---Selama H Andi Muhammad Ghalib menjabat  sebagai Duta Besar India belum pernah pulang kampung sejak 2008 lalu. Jenderal Andi Ghalib�begitu biasa disapa�pulang kampung dalam rangka peletakan batu pertama gedung Taman Pendidikan Al-Qur�an (TPA) Yayasan Darul Da�watul Irsyad di kampung Kaju, Desa Tunreng Tellue, Kec Sibulue, Bone, Sulawesi Selatan (Senin,09/09/2013).

Yang hadir pada peletakan batu itu tokoh masyarakat seperti Ibu Desa Hj Andi Sadjerah (Adik H Andi Muhammad Ghalib), Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) yang merangkap ketua pembangunan TPA H Andi Passamura, Sekretaris BPD Andi Mappasse, Imam Desa Mustamin, Sekretaris Pembangunan TPA H Andi Asdar, Penasehat Pembangunan TPA H Andi Ilyas, dan beberapa tokoh pemuda. 

Pada kesempatan tersebut,  ia berpesan bahwa fungsi TPA di kampung-kampung sangat vital. Karena TPA sebagai awal menanamkan aqidah Islam bagi pendidikan anak-anak. Melalui pendidikan ini mampu mengajarkan anak-anak hidup sebagai hamba Allah secara utuh. Termasuk bagaimana mendidik anak usia sekolah untuk bisa membaca al-Qur�an dengan baik dan belajar mendirikan salat.

�Jika sejak usia dini anak-anak kita diajarkan menjalankan agamanya sesuai dengan al-Qur�an dan al-Hadits, maka  di usia dewasa nanti sudah terbiasa menjalankan salat. Melalui TPA ini bisa menentukan masa depan anak ke depannya. Karena jika salat itu baik maka sikap serta perilaku kita tersebut baik pula,� ujar Calon Legislatif PPP DPR RI Dapil Sulsel 2 Nomor Urut 1 (meliputi Maros, Pangkep, Barru, Pare-pare, Soppeng, Wajo, Sinjai, Bone dan Bulukumba), ini menjelaskan.

Menurut Ibu Desa Tenrung Tellue Hj Andi Sadjerah, di kabupaten Bone belum ada lembaga TPA yang memiliki gedung sendiri seperti Gedung TPA Yayasan Darul Da�watul Irsyad ini. �Ini (gedung TPA) yang pertama di Kabupaten Bone, dan alhamdulillah ini semua atas dukungan dan partisipasi masyarakat khususnya Puang (H Andi Muhammad Ghalib,� ujar adik kandung Jenderal Andi Ghalib ini. 

Mustamin selaku imam desa mengatakan bahwa atas arahan H Andi Muhammad Ghalib, pembangunan gedung ini dipercepat yang akan memakan waktu 2 bulan saja. Ia melanjutkan, pengurus masjid akan bekerjasama dengan masyarakat mempercepat pembangunan gedung TPA dua lantai ini. 

�Ya segera kita bangun secepatnya TPA ini setelah peletakan batu pertama dilakukan. Iya betul itu (arahan Puang H Andi Muhammad Ghalib) karena untuk kebaikan umat, kita tidak bisa menunda-tundanya sebuah kebaikan, harus segera dipercepat karena gedung ini akan bermanfaat sekali bagi anak TK dan TPA di kampung in,� ungkapnya.

Menurut Mustamin, Andi Muhammad Ghalib bukan ini saja membangun kampung kelahirannya. Kala menjabat Wakil Gubernur, Andi Ghalib membangun jembatan yang membuka akses menuju kampung Kaju, kampung halaman Andi Ghalib. Ia melanjutkan, Andi Ghalib tipe pemimpin yang tak tidak pernah berubah dengan apa yang telah diraihnya. Andi Ghalib tetap berjuang dan "Pengabdian Tiada Akhir" untuk kemajuan umat.

Taman Pendidikan Al-Qur�an ini memiliki murid 77 santri dan memiliki 7 guru pengasuh. TPA ini berdiri sejak tahun 2008 lalu atas prakarsa masyarakat serta pemuka agama/tokoh masyarakat. Murid dari TPA ini banyak menjadi murid teladan di sekolah masing-masing di SMP, SMA,  hingga di perguruan tinggi. Semoga makin bermanfaat buat umat Islam. Amien. (HMS)

20:49 ,

NO
KABUPATEN/KOTA
JUMLAH
PPK 1)
PPS 2)
TPS 3)
DPT 4)
Lk
Pr
Total
1
Bone 
27
372
1,390
262,995
297,309
560,304
2
Wajo 
14
176
888
150,575
168,148
318,723
3
Bulukumba 
10
126
780
150,182
165,632
315,814
4
Pangkep 
13
103
542
115,365
127,150
242,515
5
Maros 
14
103
605
113,063
125,225
238,288
6
Soppeng 
8
70
497
87,344
98,471
185,815
7
Sinjai 
9
80
425
86,872
92,876
179,748
8
Barru 
7
54
409
60,945
65,442
126,387
9
Kota Pare-Pare 
4
22
286
48,770
52,040
100,810
JUMLAH
106
1,106
5,822
1,076.111
1,192.293
2.268.404


20:27 , ,
PANGKEP-MABESnews-Era keterbukaan politik saat ini banyak dari politisi lokal maupun nasional bertarung konsep di arena perebutkan hati masyarakat untuk lolos ke DPRD dan DPR RI. Dari mereka beragam latar belakang dan kemampuan sebagai bekal nantinya jika terpilih untuk mengartikulasikan kepentingan rakyat di lembaga legislatif yang terhormat tersebut.

Adalah Letnan Jenderal Andi TNI (Purn) H. Muhamma d Ghalib, SH, MH punya banyak konsep yang jelas jika nanti terpilih sebagai anggota DPR RI Periode 2014-2019. Sebagai orang berpengalaman baik berkiprah dalam dan luar negeri, ia tahu betul apa saja yang dibutuhkan masyarakat saat ini.

Saat berkunjung ke calon konstituennya di acara menre bola(naik rumah baru) di Bunggoro, Kabupaten Pangkep (Selasa, 03/09/2013), ia menyampaikan bahwa ada tiga hal yang terpenting sebagai prioritas pokok jika terpilih nanti. Dan hal ini yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengangkat kemandiriannya sebagai warga negara.

�Yang pertama adalah bagaimana mendorong pemerintah daerah dan pusat agar memperbaiki infransturkur jalan sebagai akses jalan penghubung untuk mendongrak ekonomi masyarakat tani. Bagaimana hasil pertanian bisa segera dibawa ke kota untuk diperjual-belikan jika jalan rusak dan masih ada masyarakat kesulitan memberdayakan dirinya melalui hasil pertaniannya,� ujar Andi Muhammad Ghalib, pada tokoh masyarakat yang hadir.

Kedua, listrik masih termasuk barang yang sangat dibutuhkan oleh sebagian masyarakat Pangkep dan sekitarnya. Mereka sangat kesulitan mendapatkan penerangan yang tersedia sehingga masyarakat tidak produktif dengan keterbatasan yang ada itu.

�Adapun yang ketiga yang perlu bagi masyarakat adalah sumber air yang bersih. Sebagai contoh, dalam Islam dianjurkan sekali jika berwudhu untuk salat sebaiknya air yang digunakan air bersih yang tidak bau dan tidak berwarna. Kita lihat masih banyak masjid-masjid di pelosok-pelosok perkampungan masih berwudhu dengan tidak bersih. Bagaimana salat mau diterima dan doa dikabulkan jika syarat sah salat tidak terpenuhi? Ini (air bersih) termasuk perhatian saya nanti jika terpilih,� janji Andi Muhammad Ghalib pada masyarakat.

Ia juga mengungkapkan, jika ketiga tersebut terselesaikan sebagai kebutuhan pokok masyarakat. Kemudian dirinya akan mendorong bagaimana pemerintah daerah dan pusat memperhatikan pendidikan bagi masyarakat. Karena pendidikan adalah salah satu pariabel jika seseorang masyarakat ingin mandiri, baik secara financial maupun secara politik. Melalui pembangunan mind set(pola piker) yang baik bagi masyarakat Sulsel supaya bisa melakukan partisipasi dalam negaranya secara berkualitas. (HMS)


16:17 ,
Ujian berat penerapan landreform (reformasi agraria) di Indonesia adalah lemahnya kemauan politik penguasa. Itu bermula sejak era orde baru yang dipimpin Presiden Soeharto lebih mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Hingga di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lebih mengutamakan politik pencitraan dari pada konsistensi menyelesaikan konflik agraria dari tahun ke tahun. Akibatnya, masyarakat tani yang juga dikenal masyarakat miskin menjadi korban dari kebijakan pemerintah itu.

Padahal, jika mencermati dari isi �kampanye� kedua penguasa itu untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera. Soeharto-SBY sama-sama tidak sadar, jika suatu negara ingin adil-sejahtera perlu membangun kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) terlebih dahulu sebagai anggota masyarakat yang kelak mengelola Sumber Daya Alam (SDA). Keduanya sama-sama lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur daripada membangun manusia-manusia-nya. Sehingga SDM yang muncul kemudian berkualitas rendah.
SDA yang mencakup dari hasil bumi, air, ruang angkasa dan kekayaan agraria yang terdapat di dalamnya perlu dijamah tangan-tangan SDM berpengalaman untuk mengelola SDA tadi menjadi sumber pengahasilan tepat guna buat ekonomi negara. Karena negara luas dan SDA terbaik perlu memiliki SDM terampil mengembangkan apa yang dihasilkan bumi. Dan semua dari hasil agraria itu kemudian kemanfaatannya akan dikembalikan kepada negara untuk mensejahterakan rakyat Indonesia.
Dengan alasan itu, reformasi agraria yang seutuhnya diharapkan para penduduk bangsa ini sangat diperlukan. Di mana reformasi agraria merujuk pada distribusi ulang lahan pertanian atas prakarsa atau dukungan pemerintah. Atau reformasi agraria tersebut merujuk pada peralihan sistem agraria suatu negara secara keseluruhan, yang sering kali juga meliputi reformasi pertanahan. Karena reformasi agraria mencakup kebijakan dalam penyatuan tanah, bidang kredit, penyuluhan, pelatihan, dan lain sebagainya. 
Sedikit kembali  melihat Indonesia di masa kerajaan, kala itu yang paling banyak menikmati hasil agraria adalah raja, keluarga raja dan kronikroninya. Sedangkan kepentingan rakyat tani khususnya nampak disepelekan kepentingan oleh raja. Di era penjajahan, yang paling banyak menikmati hasil agraria para penjajah dan antek-antek pemerintahan penjajah. Karena politik agraria yang ada kala itu adalah politik ganda yang tidak pernah berpihak pada kesejahteraan rakyat yang dijajahnya.
Pada masa kemerdekaan pun, politik agraria juga belum berpihak pada rakyat. Sehingga rakyat perlu bersabar selama belasan tahun mewujudkan sebuah UU sebagai jelmaan politik agraria nasional. Tepatnya 24 September 1960 keluar peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA). Diundangkannya UUPA itu sebagai tonggak utama dalam membangun proses hukum Reformasi Agraria Nasional di Indonesia.
Kala UUPA tersebut lahir, dalam pelaksanaanya banyak hambatan yang harus dilalui, termasuk hadangan pro-kontra substansialnya atas kecurigaan terhadap penyusupan paham komunis pada aturan itu. Dampaknya, undang-undang agraria itu berjalan singkat. Pihak yang mengklaim bahwa UUPA itu ada upaya dari pemahaman komunis di dalamnya, mereka belum paham bahwa landreform pertama kali dipopulerkan di negara Amerika Serikat, diikuti Jepang, Taiwan dan Korea Selatan.
Ahli Tanah dari New York, Wlf Ladeijensy, ditugaskan untuk melancarkan kebijakan pembagian tanah guna menangkal pengaruh komunisme. Namun saat diundang oleh Presiden Soekarno untuk membantu melakukan program serupa di Indonesia, Ladeijensky berpendapat program landreform ini akan gagal di Indonesia. Itu karena minimnya pemerintah yang dapat digunakan membeli tanah-tanah luas yang akan dibagikan. Selain itu, setelah kunjungannya yang pertama (1961) beliau mengatakan bahwa keadaan tanah di jawa yang langkah dan penduduk yang banyak maka ketentuan luas maksimun tidak memungkinkan tersedianya tanah yang cukup untuk dibagikan (Prof Erman Rajagukguk, SH, LLM, PhD, 1985;323).
Sejak awal pelaksanaan landreform sekitar 1961 sampai 2002 setidak-tidaknya sebanyak 840.227 hak tanah obyek landreform sudah didistribusikan kepada 1,328 juta lebih keluarga petani yang tersebar di seluruh Indonesia. Itu adanya administrasi pertanahan yang tidak sempurna. Hal ini mengakibatkan luas tanah obyek landreform yang akan dibagikan menjadi tidak tepat. Kelemahan ini sangat rawan dan membuka peluang bagi penyimpangan dan penyelewengan (Kompas,13 Mei 2002).
Walinsky pernah mengatakan bahwa reformasi agraria sebagai permasalahan yang belum selesai (Gunawan Wiradi, 2000:36). Sedangkan Bank Dunia menyimpulkan setelah mengevaluasi permasalahan reformasi agraria dengan pendekatan lima dimensi dari berbagai belahan dunia. Pertama, harga dan liberalisasi pasar, kedua, reformasi pertanahan (termasuk pengembangan pasar pertanahan), ketiga,saluran pasokan atas pengolahan hasil dan input pertanian, keempat, keuangan pedesaan,kelima, institusi pasar. Kelima dimensi ini  menjadi perhatian utama para aktivis yang mendorong terjadinya reformasi agraria di sebuah negara.
Di antaranya permasalah itu, kepastian penguasaan lahan buat para buruh tani, buruh penyewa, penghuni lahan, serta petani penyewa. Dilaksanakannya program landreform di sebuah negara untuk mempertinggi penghasilan dan taraf hidup para penggarap petani, sebagai landasan atau prasyarat guna menyelenggarakan pembangunan ekonomi menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila (Sudargo Gautama, 1990:23).
Karena itu, jika ingin wujudkan masyarakat adil dan makmur kita perlu belajar mengelola konflik agraria dari zaman ke zaman dari sejarah panjang dunia lainnya. Pengalaman sejarah dunia itu banyak mengajarkan kita bahwa ketidak-seimbangan pemilikan tanah yang paling terbanyak menyulut api permasalahan dan akar menyengsarakan rakyat tani. Sedangkan penyebab terjadinya kesejahterahan rakyat tani bersumber karena adanya pemerataan pemilikan dan penguasaan agraria sebuah negara.
Yunani Kuno sebagai negara pioner yang melakukan reformasi agraria kemudian diikuti oleh Romawi Kuno. Berlanjut pula pada negara eropa seperti Inggris, Preancis, juga Rusia. Mereka menyuarakan reformasi agraria untuk mencegah kaum bangsawan dengan fasilitas yang dimilikinya guna menguasai lahan-lahan pertanian yang luas. Di sisi lain, rakyat kecil tidak memiliki keseimbangan atas kepemilikan tanah. Khususnya rakyat kecil sebagai petani yang memiliki lahan terbatas.
 Tepatnya Juni 1979 di Roma berlangsung konferensi dunia oleh FAO (Food and Agriculture Organisation) pada reformasi agraria dan pembangunan pedesaan (World Conference on Agrarian Reform and Rural developent). Konfrensi ini berlangsung sukses yang kemudian merupakan tonggak sejarah penting memperjuangkan perlawanan kaum miskin berkelaparan. Konferensi itu juga berhasil merumuskan deklarasi prinsip-prinsip dan program kegiatan (decleration of principles and Programme of Action) yang kemudian dikenal dengan piagam petani (the Peasants� charter).
Bila ditarik ke Indonesia sebagai salah satu perserta konfrensi kala itu, kita terinspirasi dengan pertemuan tersebut untuk membenahi persoalan pertanahan dalam negari. Maka lahirlah pembaruan aturan di bidang agraria. Tepatnya 1960-an pengaturan agraria Indonesia di mulai dengal lahirnya Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Selanjutnya diikuti beberapa Undang-undang seperti No. 5/1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA), Perpu No. 1/1960 yang kemudian disahkan menjadi Undang-Undang No 1/1961 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian. Untuk aturan pelaksanaannya dikeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 224 Tahun 1961 tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian.
Namun Indonesia setelah 40 tahun lebih berlakunya UUPA, program landreformdalam pelaksanaannya belum menampakkan hasil bahkan program ini terpinggirkan posisinya dalam kebijakan pembangunan nasional. Pergantian pememerintahan silih berganti dari orde lama ke orde baru kemudian reformasi tidak memberikan pengubahan wajah dari pelaksanaan program landreform.  Awal era reformasi ada angin segar mengembalikan program landreform ini dengan dikeluarkannya Keppres No. 48/1999 tentang Tim Pengkajian Kebijaksanaan dan Peraturan. Tapi itu lagi-lagi sebatas harapan yang hanya tertulis di kertas, diundang-undangkan saja. Pelaksanannya belum memberikan angin segara bagi rakyat tani yang terpinggirkan.
Tepatnya Hari Agraria Nasional dan Bulan Bhakti Agraria ke-52 tahun 2012 lalu, sebagai tanda bahwa pemerintah SBY belum mampu melaksanakan program landreform. Hambatan utama pelaksanaan landreformsaat ini, lemahnya kemauan politik penguasa karena lebih mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dan SBY lebih mengejar pola komunikasi politik pencitraan. Sehingga kebijakan pemerintah kurang memberikan keberpihakkan pada masyarakat petani yang memang membutuhkan tanah yang juga dikenal memiliki ekonomi lemah.
Menurut Maria W Soemarjono, persoalan agraria semacam ini karena pemerintah tak pernah menjadikan tanah sebagai acuan pembentukan strategis pembangunan sehingga pelaksanaan UUPA sering terhambat secara politis oleh penguasa.  Pergantian penguasa silih berganti satu per satu, hingga rezim SBY dalam pemerintahannya tidak memberi perubahan signifikan tata pelaksanaan landreform Indonesia.
Saat ini, persoalan pertanahan nasional semakin menumpuk. Persoalan satu belum juga usai, kemudian datang persoalan tanah selanjutnya. Pemerintah belum mengacu pada kebijakan konsep pembaharuan agraria dan paradigma baru tentang sistem ekonomi kerakyatan, demokratis dan partisipatif. Di mana berhasil sebuah kebijakan sistem pertanahan nasional ditentukan dari  kemauan kuat politik pemerintah berkuasa.
Dengan banyaknya kasus konflik tanah seperti di Mesuji, Papua, Riau, Sulsel dan Bima. Ini sebagai sinyal bahwa di dalam konflik agraria tersebut disebabkan oleh ketidak-mampuan negara melaksanakan tugas konstitusionalnya menghadirkan keadilan agraria bagi rakyatnya. Harapan kita ada dua, pertama, DPP PGK mendorong dan memberi kontribusi pada pihak terkait atas terwujudnya reformasi agraria ini. Kedua, menyerukan pada masyarakat bahwa dalam proses terciptanya kepemimpinan nasional 2014 perlu sosok yang mampu menjalankan landreform seutuhnya. Semoga. Yakin Usaha Berhasil (YAKUSA). Amien.

Habibi Mahabbah, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Gerakan Keadilan (DPP PGK) Bidang Agraria 

09:20 ,
Islam Mengajarkan Berbagi Antar Sesama
WAJO�Banjir yang melanda Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, tak hanya menyisakan kerugian bagi petani yang siap panen. Tapi juga menyisahkan pekerjaan rumah bagi pemerintah setempat. Menurut data sementara yang dihimpun Dinas Sosial, masih dua Kecamatan Tanasitolo dan Belawa,  belum lagi kecamatan Tempe dan yang lainnya. Kini kerugian ditaksir mencapai Rp7,7 miliar dan memakan 2 orang orban jiwa.

Dari kesadaran tersebut, Tokoh Nasional sekaligus mantan Wakil Gubernur Sulsel Andi Muhammad Ghalib berkesempatan berbagi kasih jelang lebaran berupa sembako bagi korban banjir di empat titik di kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Senin, hari ini (05/08/2013).

Selain pembagian sembako untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1434 H, Andi M Ghalib juga memberi berupa sarung bagi korban banjir. Sarung pembagian Caleg DPR RI Dapil Sulsel II, ini bermaksud untuk digunakan dalam melaksanakan ibadah salat Idhul Fitri yang tinggal menghitung hari.

�Masyarakat (yang dikenah musih banjir Wajo) ini harus dibantu untuk meringankan musibah yang sedang dihadapinya,� ujar Dubes Luar Biasa Untuk Republik India, ini dalam sambutannya yang dihadiri kader Partai PPP.

Menurutnya, dalam Islam dianjurkan untuk saling membantu dalam kebaikan antar sesama manusia, dan Islam melarang kita saling membantu dalam kejahatan. Dengan adanya musibah di bulan ramadhan ini, Islam menganjurkan untuk bersabar dengan ujian yang kita hadapi ini.

�Dan karena itu PPP harus ada bersama umat, serta membantu umat keluar dari persoalannya. Sebagai Rumah Besar Umat Islam, PPP ada untuk menjalankan tugas juga pengabdian, dan bentuk kegiatan (pembagian sembako) ini sebagai ibadah untuk membesarkan citra positif Islam. Karena jika PPP besar maka (umat) Islam akan jaya,� ujar mantan Jaksa Agung RI di era BJ Habibie, ini yang rencananya berlebaran di kampong halamannya, Bone, Sulawesi Selatan. (HMS)
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget