Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

Biografi - Jauh sebelum Indonesia berpeluang menjadi negara utuh yang berdiri sendiri dan berdaulat penuh, Sunario Sastrowardoyo sudah memikirkan konsep yang dirasanya paling tepat untuk wilayah luas yang dulu dikenal sebagai Nusantara itu. Mr. Sunario –begitu ia akrab dipanggil– berkeyakinan bahwa Indonesia tidak cocok dijadikan sebagai negara federal. Baginya, negara kesatuan adalah yang paling ideal.

Sunario menguraikan itu saat menjadi pembicara di Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928 di Jakarta. Mengutip pemikiran filsuf Prancis, Ernest Renant, dalam artikel berjudul “Qu'est-ce Qu'une Nation”, ia tidak sepakat dengan konsep negara federal dengan memaparkan kemajemukan yang dimiliki bangsa Indonesia.

Berbicara pada sesi terakhir di depan peserta kongres melalui pidatonya yang bertajuk "Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia”, Sunario berkeyakinan bahwa perbedaan ras, bahasa, agama, kepentingan, hingga melimpahnya sumber daya alam akan membuat bangsa ini lebih kuat jika punya keinginan untuk hidup bersama, atau dalam istilah Renant: le desir de vivre ensemble. Selanjutnya

05:49 , , ,
Biografi - Usai terpilih dan menjelang hari pelantikan. Diduga ada sejumlah oknum yang mengaku anggota tim sukses atau pemenangan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah, melakukan pendekatan dengan sejumlah pihak. Baik pejabat SKPA di jajaran Pemerintah Aceh maupun kabupaten dan kota. Termasuk pada sejumlah pengusaha di Banda Aceh.

Kabarnya, mereka tak segan-segan untuk bertemu dan mengirim pesan melalui WhatApps (WA) untuk meminta sejumlah dana dan proyek. “Operasi ini semakin muda dan terbuka jalan, paska kehadiran Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah  atau akrab disapa Abu Doto pada Kongres I Partai Nasional Aceh (PNA), 1-2 Mei 2017 lalu di Banda Aceh. “Mereka memanfaatkan momentum itu, seolah-olah Abu Doto juga sudah restu,” ungkap seorang sumber media ini.

Sumber media itu mengaku. Pihaknya sudah mulai didatangi sejumlah oknum yang mengatasnamakan tim pemenangan Irwandi-Nova. Ada yang meminta dana segar dengan alasan untuk biaya kongres. Ada juga meminta proyek dengan janji akan direkomundasikan kepada pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh terpilih sebagai salah satu kepala dinas. “Kalau saya tidak goyah. Sebab, saya tahu persis sikap Pak Irwandi dan Nova. Tidak mungkin itu dilakukan. Selain itu, dari nama-nama timses yang saya tahu dan check, nama oknum tersebut tidak terdaftar. Biasalah, bahkan ada yang menjual nama Kapolda, Pangdam serta Kajati Aceh. Saya yakin ini penipuan,” ungkap seorang pejabat di Banda Aceh.

Karena alasan keamanan, dia minta namanya tidak disebutkan. Selain itu, dia pun sungkan untuk mengabarkan kondisi itu kepada Irwandi-Nova. Dia khawatir dinilai sedang mencari muka. “Ini hanya saya sampaikan kepada Anda. Dan saya yakin tidak benar serta penipuan,” kata sumber itu.

Menurutnya, oknum tadi masih memakai pola lama. Harusnya dia paham betul bahwa untuk mengisi sejumlah jabatan SKPA, Irwandi-Nova akan melakukan penjaringan melalui fit and propertest. “Itu telah disampaikan saat penyampaian visi dan misi ketika debat dan kampanye dulu,” sebut sumber ini sambil tersenyum.

Sementara itu, salah seorang pengusaha di Banda Aceh juga mengaku ada didatangi oknum yang mengaku dari tim pemenangan Irwandi-Nova. Kepada dia, oknum tadi juga meminta sejumlah dana dengan dalih akan melakukan konsolidasi ke kabupaten dan kota, menyambut pelantikan Irwandi-Nova di Banda Aceh. “Kepada saya oknum itu mengaku akan membicarakan kepada Pak Irwandi untuk diberikan proyek. Oknum tadi salah, dia tak tahu bagaimana hubungan saya dengan Pak Irwandi,” ungkap sumber tersebut.

Sementara itu, Wakil Gubernur  Aceh terpilih Nova Iriansyah mengaku belum mendapat laporan dan mendengar adanya praktik oknum tidak bertanggungjawab tersebut. “Hal-hal seperti ini bisa saja terjadi dalam konteks penipuan. Seolah-olah dilakukan tim pemenangan Irwandi-Nova, kami belum mendengar dan akan kita telesuri,” tegas Nova.

Menurutnya, saat ini tim Irwandi-Nova sedang melakukan langkah-langkah singkronisasi RPJM, sesuai dengan visi dan misi mereka. Namun, diakui Nova Iriansyah, langkah tersebut tidak dilakukan terlalu jauh, karena tidak etis. Namun, diakuinya juga tidak mau terlalu lama menunggu sehingga tak terlambat. “Terima kasih informasi, kami akan terlusuri itu,” sebut Nova pada media ini melalui telpon seluler, Rabu malam (17/5/2017). Sementara itu, Irwansyah atau akrab disapa Tgk Maksalmina,  mantan Ketua PNA yang juga penanggungjawab Tim Pemenangan Irwandi-Nova belum berhasil dimintai pendapatnya. Nah, lepas dari semua itu, tak salah jika para pihak lebih ekstra hati-hati dan tidak mudah percaya dengan oknum yang tidak bertanggungjawab tersebut.(ModusAceh)

TIM medis Puskesmas Pulau Banyak memeriksa kesehatan korban yang diselamatkan oleh Tim SAR Gabungan dari speed boat yang mengalami kerusakan mesin di Perairan Pulau Banyak, Minggu (14/5).
Bripka Maulidin (32) beserta istri, termasuk tiga anak mereka, salah satunya masih berusia delapan bulan, terombang-ambing di tengah lautan lantaran speedboat yang mereka tumpangi dari Singkil ke Pulau Banyak, Aceh Singkil, tiba-tiba rusak mesinnya pada Minggu (14/5) sore.

Korban berhasil diselamatkan tim gabungan Search and Rescue (SAR) Kepulauan Banyak di sekitar Pulau Jawi-jawi (antara Kuala Baru dengan Pulau Banyak) pukul 21.25 WIB. Namun, masih mengalami trauma berat, terutama anak-anaknya yang ikut terapung-apung di lautan yang berombak besar.

“Kondisi korban dalam pemulihan dan masih trauma,” kata Yudistira, Sekretaris Satgas SAR Kepulauan Banyak kepada Serambi di Singkil, Senin (15/5).

Menurut Yudistira, ada enam penumpang dalam speedboat yang dinakhodai Ganti (40) itu. Selain Bripka Maulidin yang merupakan warga Banda Aceh, ada juga istrinya, Hesti (28), penduduk Pulau Baguk, Kecamatan Pulau Banyak, dan tiga anak mereka. Selain yang berusia delapan bulan tadi, ada dua lagi yang masing-masing berumur empat dan delapan tahun.

Speedboat itu berangkat dari Singkil sekitar pukul 16.00 WIB. Setengah jam kemudian mengalami kerusakan mesin. Lalu Maulidin mengabarkan kejadian itu via handphone kepada keluarganya di Pulau Banyak. “Sekitar pukul 18.10 WIB masuk laporan ke Satgas SAR Kepulauan Banyak bahwa ada speedboat dari Singkil menuju Pulau Banyak yang mengalami kerusakan mesin saat badai dan gelombang tinggi,” jelas Yudistira.

Mendapat informasi tersebut, Satgas SAR Kepulauan Banyak bersama Pos AL Pulau Banyak, Polsek Pulau Banyak, dan Koramil 01/Pulau Banyak dibantu Panglima Laut, membentuk Tim SAR gabungan berkekutan 12 orang. Selanjutnya, dalam kondisi badai mereka menggunakan KM Putra Sulung, berangkat melakukan pencarian.

Usaha keras yang dilakukan tim SAR membuahkan hasil. Korban ditemukan dalam kondisi basah kedinginan dan trauma. Speedboat yang mereka tumpangi dalam kondisi terisi air.

Sekira pukul 23.30 WIB korban berhasil dievakuasi ke Pulau Banyak. “Setelah dilakukan pemeriksaan, petugas puskesmas korban pun pulang menuju kediamannya di Pulau Baguk,” ujar Yudistira.

Sementara itu, Kapolres Aceh Singkil AKBP Ian Rizkian mengatakan, Bripka Maulidin merupakan anggota Polresta Banda Aceh. Kondisi yang bersangkutan beserta keluarganya dalam keadaan selamat. “Alhamdulillah, selamat,” kata Ian Rizkian. (Srb)

01:59 , ,
Selama terjun di dunia hiburan, sosok Aura Kasih tak hanya dikenal sebagai penyanyi dan aktris. Ia juga kerap menjalani aktivitasnya sebagai seorang model. Bahkan, Aura Kasih dikenal tak ragu untuk tampil seksi di hadapan fotografer.

Belakangan ini, Aura Kasih tampak kembali mengulang pose seksinya dalam sebuah sesi foto. Salah satu hasil fotonya diunggah sendiri oleh Aura Kasih melalui akun Instagram @aurakasih, Senin (15/5/2017).

Di foto tersebut, tubuh Aura Kasih terlihat dari samping kiri dengan wajah menghadap ke kamera. Kostum yang dikenakannya terbilang seksi karena ia mengenakan baju tipis.

Bila dilihat lebih cermat, tampak jelas bahwa bagian punggung pada kostum Aura Kasih ini dilapisi dengan kain furing sewarna kulit. Hal tersebut bisa dilihat melalui lekukan kain yang ada di bagian pinggangnya. Hasilnya, pakaian ini seolah memperlihatkan punggung Aura, sekaligus ilusi bahwa artis 30 tahun ini tidak mengenakan bra.

"I Fashion You...😉," tulis Aura Kasih sebagai keterangan foto unggahannya. Foto tersebut merupakan salah satu dari rangkaian sesi foto Aura Kasih yang diambil oleh FD Photography. Dua foto lain diunggah melalui akun  Selanjutnya

BRILIAN: Naufal Raziq, 15, dan pohon listriknya di Jakarta, (10/5). (SYAHRIR LANTONI/INDOPOS)
Energi baru dan terbarukan di Indonesia belum banyak ditemukan. Namun, sebuah penemuan membanggakan lahir dari seorang bocah asal Aceh. Naufal Raziq berhasil menemukan energi listrik dari pohon kedondong pagar. Bagaimana kisahnya?

Syahrir Lantoni, JAKARTA


NADA bicaranya teratur, penjelasannya runtut. Usianya baru 15 tahun, tapi layaknya sudah dewasa. Namanya Naufal Raziq. Walau hanya bocah Kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Negeri, tapi dia adalah penemu energi listrik dari pohon kedondong (Spondias Dulcis Forst).

Rabu (10/5) lalu, INDOPOS (Jawa Pos Group) menemui Naufal dan ayahnya di kawasan Tebet Jakarta Selatan. Saat berbincang, siswa kelas III MTS Negeri Langsa Lama, Kota Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) itu cukup cekatan menjelaskan penemuan energi listrik dari dalam batang pohon kedondong pagar.

Naufal juga memperlihatkan tiga pohon yang sudah dipermak menjadi sumber listrik. Energi listrik dari pohon kedondong itu biasa menjadi pagar halaman rumah warga di Langsa. Untuk menghasilkan energi listrik, pohon itu dipasangi rangkaian yang terdiri pipa tembaga, batangan besi, kapasitor, dan dioda.

Temuan Naufal menghasilkan daya sebesar 0,5–1 Volt per elektroda dari dipasang pada rangkaian pohon kedondong. Menurut Naufal, arus listrik yang dihasilkan sangat bergantung kepada kadar keasaman pohon. Ini melalui beberapa evaluasi dan perbaikan, pohon listrik itu telah menerangi puluhan rumah di Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Langsa, Aceh, untuk pencahayaan lampu pada malam hari.

”Saya senang sekali dan bangga penemuan ini bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar,” ujar Naufal yang mengaku mengidolakan mantan Presiden RI B.J. Habibie dan penemu lampu pijar, Thomas Alva Edison, ini.

Butuh waktu lama untuk menemukan energi listrik dari pohon kedondong. Itu berawal saat dia mempelajari ilmu pengetahuan alam dan membaca bahwa buah yang mengandung asam bisa menghantarkan listrik.

Mula-mula Naufal menguji pada buah kentang. Setelah itu dia berpikir jika buahnya mengandung asam berarti pohonnya juga mengandung asam. "Akhirnya saya mulai melakukan eksperimen,” ujar bocah kelahiran Langsa, 20 Maret 2002.

Dari pohon kentang, lalu Naufal melakukan eksperimen pada pohon mangga dan ternyata tidak layak. Setelah itu, dia mencoba jenis pohon lainnya. ”Akhirnya saya menemukan kedondong pagar yang kadar asam atau getahnya mampu menghantarkan listrik,” ujarnya bercita-cita ingin menjadi ilmuwan dan masuk ITB (Institut Teknologi Bandung) itu.

Puaskah Naufal? Tidak. Karena itu kini Naufal tengah mencari cara agar ada akselerasi daya pemulihan (recovery) energi listrik dari pohon kedondong itu secara optimal. Sebab, dari percobaan sebelumnya, kemampuan pemulihan dari pohon kedondong membutuhkan waktu lama dan belum stabil.

Saat ini, putra pertama dari tiga bersaudara pasangan Supriaman dan Ny Deski ini mengaku sedang melakukan uji coba dengan proses penyimpanan energi dari pohon kedondong ke charger baterai dan dari sana ke lampu atau mirip proses solar cell.

”Saya berharap nyala lampu bisa stabil karena pada proses sebelumnya dengan langsung dari pohon ke lampu, energinya tidak stabil dan lama kelamaan drop serta recovery secara alaminya lambat sekali,” jelasnya.

Penemuan Naufal ini memang tidak datang begitu saja. Bahkan tidak hanya dari sekolah. Dukungan sang ayah sangat membantu dalam percobaannya tersebut. ”Kebetulan ayah bekerja di bidang elektronika. Jadi sedikit banyak saya tahu alat-alat elektronik,” ujarnya.

Ayah Naufal, Supriaman mengatakan, saat ini sejumlah pihak menjajaki kerja sama dalam pengembangan energi pohon listrik temuan anaknya. Namun, semua dikembalikan kepada PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero).

”Kalau mau kerja sama dengan Naufal, silakan berbicara dengan Pertamina EP karena aktivitas Naufal terkait pohon listrik ini juga berkat bantuan dari Pertamina EP Aset I Field Rantau,” ujarnya.

Pertamina EP memang telah mendukung penemuan Naufal, termasuk komitmen menyekolahkan dia hingga perguruan tinggi. ”Pertamina EP juga telah membantu pengurusan hak paten pembangkit listrik menggunakan pohon kedondong dari Kementerian Hukum dan HAM,” ujar Supriaman.

Manajer Humas Pertamina EP, Muhammad Baron mengatakan, Pertamina EP Aset I Field Rantau membantu pengembangan energi listrik dari pohon kedondong menuju skala yang lebih besar, terutama untuk menerangi kampungnya yang memang belum tersentuh jaringan listrik. Apalagi, Naufal memang berasal dari Tampur Paloh, dusun yang jauh di pedalaman pelosok Aceh.

Menurut Baron, penemuan Naufal merupakan kisah sukses sinergi antara Pertamina dan masyarakat dalam menciptakan inovasi yang memberikan solusi bagi permasalahan yang ada. Ini perlu dicontoh oleh daerah-daerah lain di Indonesia.

”Naufal ini discovery untuk bangsa. Kami akan mendukung apabila muncul Naufal-Naufal lain dari wilayah kerja Pertamina EP lainnya demi kemandirian energi nasional,” katanya. (JPG)

Sosok Habib Abdurrahman Al-Zahir selama ini dipersepsikan sebagai tokoh kontroversial, karena pernah menyerah kepada Belanda. Sejarah mencatat, dalam banyak episode sejarah melawan Belanda, dia adalah pahlawan yang memperjuangkan Aceh melalui jalur diplomasi, bahkan militer. Siapa sebenarnya Habib Abdurrahman Al-Zahir?

Ketua Institut Peradaban Aceh (IPA) Haekal Afifa mengatakan, kontribusi Habib Abdurrahman terhadap kerajaan Aceh begitu besar. Setiap kali bicara diplomasi Aceh di dunia internasional, maka tidak bisa menafikan peran sang Habib.

“Dia telah memainkan peranan yang besar dalam dunia diplomasi kerajaan Aceh menjelang pecahnya perang antara Belanda dan Aceh pada 26 Maret 1873,” kata Haekal dalam seminar Peran dan Kontribusi Golongan Sayid dalam Perang Aceh di gedung Mini Theater PKP2A IV LAN, Banda Aceh, Sabtu (13/5/2017).

Seminar yang diselenggarakan Asyraf Aceh ini menghadirkan dua pemateri, yakni Haekal Afifa dan Sayid Murtada.

Haekal yang di makalahnya mengutip puluhan penulis dari dalam dan luar negeri itu mengatakan, setelah ibunya meninggal, Habib Abdurrahman kecil dibawa oleh ayahnya ke Malabar tahun 1834. Tafsir Alquran dipelajariny di Mesir, setelah itu dia ke Arab.

Dari Arablah, Habib berkeliling Asia Tengah dan Eropa. Setelah berkelana ke berbagai negara inilah, Habib dewasa menjadi pribadi yang paham ilmu diplomasi sekaligus dalam ilmu agamanya.

Sebelum berlabuh di Aceh, Habib Abdurrahman berada di Johor selama satu setengah tahun. Dalam waktu singkat itu, dia berkontribusi dengan membantu pembangunan dan menyelesaikan pembuatan jalan di Kota Johor dengan baik.

“Atas jasa-jasanya, Maharaja Johor memberikan surat penghargaan sebagai apresiasi atas dedikasinya di negeri Johor,” kata Haekal.

Dari Johor, dia bertolak ke Pulau Pinang, lalu berangkat menuju Pidie dan selanjutnya menuju Banda Aceh Darussalam. SELANJUTNYA
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget