Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

06:19 ,
Biografi - Satu unit pesawat cargo militer berbendera Amerika Serikat, Jumat (24/3/2016) siang mendarat darurat di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar.

Pesawat mendarat di Bandara SIM sekitar pukul 13.00 WIB, karena ada gangguan pada salah satu mesinnya.

Pesawat ini sendiri lepas landas dari Pangkalan AS Diego Garcia, di Samudera Hindia dengan tujuan Bandara Kazena, Jepang.

Sejauh ini para awak pesawat diinapkan di komplek bandara sekaligus dalam pengurusan pihak imigrasi.

Sumber:serambitv.com

Ibrahim paradeh bersama istri saat menyerahkan bantuan pada keluarga miskin lhoknga
BIOGRAFI- BADAN lusuh bagai tak pernah mandi dengan pakaian lusuh, demikian kondisi Faris Alfurqan (14) dan Riska Ayu Amanda (11), anak dari Nuraini (32) yang kini tinggal di sebuah kebun milik salah satu pengusaha area wisata di Gampong Mon Ikeun, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar.

Suprianto (33), suami ketiga dari Nuraini yang kini hanya sebagai seorang pengembala, mengaku kehidupannya sedang dalam kondisi miris. 

Mengapa tidak, pria asal Medan ini selain menghidupi dua anak yatim tersebut juga harus menghidupi empat anaknya yang masih kecil-kecil dengan pendapatan keluarga tersebut hanya Rp 1 juta perbulan, plus 32 kilo gram beras per bulan.

Hal yang paling mengiriskan hati, Riska yang masih duduk di kelas III SDN I Lhoknga ini, selama ini kerap mendatangi Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Lhoknga. Dia hanya sekedar untuk mendapatkan bahan dalam dari ikan yang diolah oleh tukang ikan setempat hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Tidak jarang, para nelayan setempat menyumbang ikan, segera saat melihat sang gadis kecil itu yang setiap hari datang dan meminta isi dalam dari ikan yang diolah oleh tukang ikan di TPI setempat dengan alasan untuk membawa pulang ke rumahnya.

Saat ini, nasib para bocah tersebut juga terganggu pendidikannya, karena selalu menempuh jarak hingga 3 kilometer antara tempat tinggal dan sekolah tempat mereka belajar saat ini.

Nuraini yang ditemui di tempat tinggalnya, Rabu yang lalu (15/3/2017) , mengisahkan anak-anaknya disuruh untuk mencari perut ikan tersebut karena mereka tidak ada uang untuk membeli ikan segar sebagaimana yang biasa dinikmati orang lain. 

Sedangkan gaji yang diterima dari penggembala ternak dan membersihkan kebun milik Cut Yang (pemilik taman tepi laut Lhoknga) hanya sejuta rupiah per bulan.

Menurut Nuraini, kehidupan terombang-ambing seperti itu dengan enam orang anak. Berawal dari meninggalnya suami pertamanya sekitar tahun 2006 lalu akibat penyakit. Wanita asal Calee Sigli ini telah menjadi warga Aceh Besar sejak tahun 2002 lalu, dan mendiami Gampong Labui Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar. 

Bahkan Nuraini pernah memiliki rumah dan diatas sebidang tanah pada saat itu, namun rumah tersebut disita oleh salah satu perbankan akibat suami keduanya terlibat kredit dan kemudian melarikan diri.

Pada tahun 2010, Nuraini dinikahi oleh Suprianto, sejak saat itu keluarga ini bersama dua anak yatim Nuraini mencoba mempertahankan hidup melalui mencari pekerjaan hingga ke Dumai Riau dan Sumatera Selatan bekerja di perkebunan sawit. 

Namun semua itu tidak membuahkan hasil yang manis karena tidak tahan hidup ditengah-tengah masyarakat tak seagama. Akhirnya memilih pulang kembali ke Provinsi Aceh.

Sekitar setahun setengah lalu, keluarga ini mendiami Gampong Mon Ikeun, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, dengan mata pencaharian sang suami hanya sebagai buruh kasar dan bekerja layaknya buruh lepas. 

Sejak tiga bulan terakhir sang majikan pemilik lokasi wisata tepi Laut Lhoknga memberikan pekerjaan kepada keluarganya dengan menggembala ternak sapi serta membersihkan kebun di sekitar lokasi taman tepi laut atau tepatnya di kaki Gunung Riting dengan diberikan fasilitas rumah seluas 4 x 6 arus listrik, TV, air bersih dan beras seberat 32 kilo gram per bulan serta gaji tetap Rp 1 juta rupiah per bulan.

Ibu enam anak ini mengaku, berterimakasih atas bantuan yang diberikan oleh pemilik lokasi wisata yang terkenal di era 90-an itu. Tapi geraknya menjadi terbatas dan tidak dapat berbuat lain untuk menambah dan membantu ekonomi keluarga, sementara diandalkan dari gaji yang di berikan majikan tersebut sungguh tidak cukup di jaman yang serba mahal ini.

Ia berkeinginan, ada penderma yang sudikiranya membantu dirinya untuk dapat melakukan aktifitas sejenis dagang gerobak, guna menambah ekonomi keluarga.

Kecuali itu, saat ini dirinya juga dalam kondisi sangat membutuhkan uang untuk mengambil surat pindah sekolah anaknya di Medan, karena pihak sekolah setempat sering menakut-nakuti anaknya dengan ancaman tidak akan naik kelas karena tidak memiliki surat pindah.

"Riska kini masih status siswa titipan, karena belum berhasil saya ambil surat pindahnya ke medan," kata Nuraini.
Nur'aini bersama anaknya 

Mencuatnya ada keluarga miskin yang terabaikan ini, saat salah seorang penderma sekaligus anggota Kepolisian Polda Aceh Ibrahim Paradeh yang kini bertugas di Polda Aceh, memergoki sang gadis manis itu saat meminta bahan dalam dari ikan yang diolah oleh tukang ikan di TPI Lhoknga pada Senin 13 Maret lalu.

Mantan Kapolsek Baitussalam dan Ingin Jaya ini mengaku sangat tersentak perasaannya saat mendengar kisah sang pengolah ikan setempat, Abdullah (65), yang mengaku setiap hari gadis kecil tersebut bersama adik tirinya meminta perut ikan ke pihaknya. 

Tidak jarang para nelayan memberikan ikan segar alakadar, jika tidak gadis tersebut hanya membawa pulang perut ikan atau bahan dalaman dari ikan yang seharusnya tidak dimakan karena tidak enak.

Cerita tersebut membuat Perwira Polisi dengan identik cincin batu di seluruh jari tangannya ini, meneteskan air mata, hingga memutuskan menelusuri alamat anak tersebut. 

Menjelang magrib pada hari itu, Ibrahim menelurusi jejak anak tersebut, meski saat itu Ibrahim harus menelusuri dan melewati perkebunan orang dan melewati jalan yang terjal dipenuhi duri kawat pagar kebun di sekitar tepi laut itu.

Sekitar pukul 18.50 WIB, Ibrahim berhasil menemukan tempat tinggal dan keluarga sang gadis yatim itu. Seketika Ibrahim pulang dikarenakan hari sudah malam. Keesokan harinya, Ibrahim ditemani istri kembali mendatangi keluarga tersebut, ironisnya kisah hidup keluarga beranggotakan delapan orang itu cukup histeris.

Sejumlah sembako pun disumbangkan Ibrahim termasuk pakaian kepada keluarga tersebut. Bahkan Ibrahim berencana akan membelikan sepeda kepada dua anak yatim itu supaya mempermudah dalam bersekolah.

"Jika saya ada rezeki akan saya beli sepeda nanti supaya dapat bersekolah dengan nyaman," kata Ibrahim.[ T. Sayed Azhar/ Lintas Atjeh]

Biografi - Kecintaan manusia terhadap Rasulullah SAW menjadi salah satu contoh cinta sejati. Bagaimana tidak, tanpa pernah sekalipun bertemu, kita bisa menjadi begitu menyayangi, mencintai dan mengagumi sosoknya. Hanya melalui kisah-kisahnya lah rindu tersebut bisa sedikit terobati.

Kisah berikut ini juga mengandung hikmah tersendiri. Adalah ketika manusia yang begitu dicintai Allah ini merasakan kesedihan mendalam. Perasaan pilu tersebut melebihi kesedihannya ketika Rasul akan dibunuh pada perang Uhud.

Bahkan Nabi mengatakan jika tidak ada yang paling menyedihkan dalam hidupnya selain hari itu. Ternyata kesedihan ini justru menjadi kemarahan malaikat penjaga gunung. Sampai-sampai, malaikat tersebut ingin mengangkat dua gunung lalu menghimpitkannya ke Kota Mekkah. Seperti apa kisahnya? Berikut ulasannya.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari Volume 4 hadist nomor 3231 Istri Rasulullah SAW Aisyah ra bertanya kepada Rasulullah SAW “Adakah hari dalam hidupmu yang lebih buruk dari pada hari perang Uhud?” Yang manakah hari terburuk dalam hidupmu?  Rasulullah SAW menjawab, Ya, itu adalah hari Aqabah di Thaif.

Dan ketika Rasulullah menyampaikan pesan Islam kepada penduduk Thaif, mereka justru menimpukinya dan mereka tidak mendengarkan pesannya dan mereka tidak mematuhi Rasulullah dan beberapa riwayat mengatakan mereka menimpukkinya dengan batu. Ini adalah hari terburuk dalam hidupnya.

Lalu ketika Rasulullah berbaring dengan wajahnya menghadap matahari dan tiba-tiba Dia melihat segumpal awan kelabu meneduhi kepalanya. Dan ketika Beliau menengadah, Rasulullah melihat malaikat Jibril a.s. Malaikat Jibril a.s berkata:

“Allah telah menyaksikan apa yang mereka lakukan kepadamu, dan bagaimana perlakuan mereka kepadamu. Jadi Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk membantumu,”

Kemudian Malaikat Jibril a.s memanggil malaikat penjaga gunung. Ketika malaikat penjaga gunung datang Ia berkata kepada Rasulullah SAW “Tuhanmu telah mengutusku, dan kami telah mendengar dan menyaksikan apa yang dilakukan orang-orang kepadamu. Perintahkanlah apa yang harus kulakukan. Apapun katamu akan ku lakukan. Apa kau ingin aku mengangkat dua gunung di Kota Mekkah? Sehingga orang-orang itu akan remuk karena terhimpit gunung itu?“

Rasulullah SAW menjawab “Tidak, aku lebih mengizinkan jika Allah SWT menjadikan keturunan dari orang-orang ini, generasi oran-orang setelah ini menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya”

Bayangkanlah Nabi bersabda bahwa ini adalah hari terburuk dalam hidupnya. Bayangkan jika ini hari terburuk dalam hidupmu dan seseorang ingin menolongmu dan berkata “Aku dapat menghancurkan mereka” Tapi di sini Rasulullah menjawab “Jangan hancurkan mereka” Beliau justru menginginkan agar keturunanan mereka tidak mengikuti mereka dan beriman kepada Allah.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari Volume 8 hadist nomor 6397 bahwa seseorang menghampiri Rasulullah dan berkata “Penduduk Daus mereka tidak setuju dengan pesan Islam dan mereka menolak pesannya mengapa kau tidak mengutuk penduduk Daus ini?”

Dan sahabat mengira bahwa sekarang Rasulullah akan mengutuk penduduk Daus. Tapi Rasulullah SAW justru berdoa kepada Allah “Ya Allah, tuntunlah penduduk Desa Daus sehingga mereka dengat dengan kami. Berilah hidayah, berilah petunjuk”. Dan Rasul tidak mengutuk mereka.

Begitulah teladan Nabi, selalu sabar dalam segala kondisi. Hal ini tentu akan sangat sulit direalisasikan pada masa kini. Dimana sebagian kita, lebih memilih marah dan benci. (Sumber: ukhtiindonesia.com)

Biografi - Harus diakui, setiap kemenangan politik selalu diikuti kegiatan kanduri. Makan-makan dengan menu gulai kambing, masakan lembu/kerbau, si itek, dan lainnya sudah menjadi pemandangan yang mentradisi dalam hajatan politik.

Bukan hanya itu, penyambutan kemenangan politik, atau jabatan politik baru juga diikuti dengan ucapan selamat dari berbagai pihak, baik melalui iklan di media maupun melalui iklan di papan bunga.

Ditengah kebiasaan yang sudah mentradisi di hajatan politik kekuasaan itu, Irwandi Yusuf, gubernur terpilih menawarkan gagasan kombinasi, mempertemukan kenduri dengan aksi kegiatan sosial.

Syukuran kenduri tidak dibuang, melainkan kenduri dilakukan setelah dilakukan syukuran membantu merehab rumah yatim miskin. Setiap usai merehab 25 rumah baru dilakukan kenduri. Menariknya, biaya rehab rumah juga dilakukan lewat donasi publik.

Kepada semua donatur akan disampaikan ucapan terimakasih, dengan cara mencantumkan nama si penyumbang di plakat yang dibuat khusus dan ditempelkan di bagian rumah yang direhab. Cara ini, menurutnya tidaklah riya’ melainkan sebagai bahagian dari dakwah untuk membangun gerakan sosial yang lebih luas.

Ide baru ini disambut luas oleh publik. Kesadaran publik atas realitas sosial dimana memang masih banyak rumah yatim miskin yang masih sangat memprihatinkan mendorong publik untuk bersedia ambil bagian dalam membantu sesama. Mereka pasti akan ikut serta sejauh pengelolanya dapat dipercaya.

Mereka sadar, pemerintah dengan segenap problematika yang melilitnya tidak mungkin lagi diharapkan menjadi solusi tunggal, publik ingin juga menolong sesama sebagai bahagian dari kesadaran humanis bahkan kesadaran keagamaan.

Tradisi donasi publik bukanlah aksi baru, ia sudah ada sejak manusia hadir secara sosial. Begitu pula dengan cara berterimakasih melalui penulisan nama penyumbang di plakat yang ditempelkan. Di berbagai negara, ide ini sudah ada dan bisa dilihat di banggunan yang berkaitan dengan keagamaan. Bahkan ada juga penulisan nama di donasi dalam bentuk pohon.

Saripati kebaikan ini memang sepantasnya kita dukung penuh. Kenduri sebagai bagian dari tradisi yang dapat membangun silahturahim masih patut untuk diteruskan mengingat dampak ekonomi yang terdapat di dalamnya, dan pada saat yang bersamaan kegiatan sosial yang langsung bermanfaat bagi saudara kita yang dhuafa juga penting digalakkan sebab kemenangan yang patut dirayakan adalah kemenangan yang membahagiakan banyak orang sekaligus membantu banyak orang pula. Inilah hajatan politik yang dirindukan oleh semua.

Bisa dibayangkan betapa ide sederhana yang melibatkan publik luas ini akan menjadi gerakan sosial baru di Aceh jika saja hal yang sama juga diikuti oleh seluruh bupati atau walikota terpilih di pilkada 2017. Maka, tidak salah juga bila gubernur terpilih menularkan ide baru terkait syukuran ini kepada bupati-walikota terpilih lainnya. Mengajak orang lain juga bukan kesalahan, apalagi mengajak ke jalan kebaikan. Yang mengajak dapat pahala, dan yang diajak juga mendapat pahala. Bukankah begitu? [aceHTrend.co]

Gubernur Aceh terpilih Irwandi Yusuf bersama koordinator Relawan Provinsi Aceh Ahmad Dani
Banda Aceh – Irwandi Yusuf, calon gubernur Aceh terpilih mengusulkan agar acara syukuran kemenangan pilkada melalui potong kambing, kerbau atau sapi diganti dengan aksi kegiatan soal berupa merehab rumah-rumah anak yatim miskin.

“Bagaimana kalau dana yang akan dipakai untuk acara sembelih-sembelih dan makan-makan itu kita gunakan untuk kegiatan sosial berupa merehab rumah-rumah anak yatim. Makan-makan alakadarnya akan kita lakukan saat peresmian 25 unit pertama rumah selesai rehab. Nanti kalau sudah selesai rehab 25 unit yang kedua kita makan-makan lagi alakadarnya,” tulis calon gubernur Aceh pemenang pilkada 2017.

Untuk kebutuhan dana awal, ia akan memberikan uangnya dan donasi pihak lain. Kepada donatur syukuran model baru ini akan diucapkan terimakasih berupa di dinding rumah yang telah selesai direhab itu plakat yang bertulis “RUMAH INI DIREHAB BERKAT INFAQ DARI PULAN”.

“Ini tidak termasuk riya’ karena ini termasuk kedalam FASTABIQUL KHAIRAT dan mengandung makna dakwah,” tambah Irwandi.

Menurut Irwandi, cara berterimakasih kepada donatur itu tidak termasuk riya’.

“Saya sudah diingatkan oleh Abu Tumin tentang hal itu karena saya jarang mempublikasi kegiatan sosial saya dengan alasan takut menjadi riya’. TIDAK, kata Abu Tumin, itu semua harus diketahui orang agar orang lain pun tergerak hatinya untuk melakukan kebaikan,” kata Irwandi Yusuf masih dihalaman faceboooknya.

Ide yang menurut Irwandi Yusuf itu tergolong baru langsung mendapat dukungan luas dari publik. Sampai berita ini diturunkan sudah 3 ribu lebih yang sukai. Salah satu dukungan datang dari pelaku aksi sosial yang sampai saat ini sudah banyak membangun rumah rakyat dari donasi publik. Edi Fadhil menulis:

“Sepenuhnya setuju dengan ide Pak Gubernur Terpilih.
Pemerintah kedepan kita harapkan adalah Pemerintahan yang lebih dekat dengan rakyat, memahami dan mampu memberikan jawaban dengan baik akan kebutuhan riil masyarakat. Seremonial seremonial yang tidak begitu penting harusnya bisa dikurangi dan bisa dialihkan untuk hal yang lebih esensial.
Terpilihnya Pak Irwandi bagi saya adalah sinyal kuat bahwa masyarakat butuh sesuatu yang lebih riil.”[Sumber: aceHTrend.co]

Biografi - Belakangan ini banyak beredar poster yang berisi foto-foto ulama kharismatik Aceh. Poster-poster tersebut bisa dengan mudah kita dapatkan di toko-toko buku yang ada di Aceh. Di sebagian tempat juga ada para pedagang keliling yang membawa poster-poster tersebut pada hari-hari pasaran (uroe peukan). Keberadaan poster-poster tersebut yang memuat foto dan juga biografi singkat para ulama Aceh tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat guna mengenal ulama dan tokoh-tokoh pendahulunya.

Namun di sebalik itu, saya melihat ada “kejanggalan” dalam poster-poster tersebut, di mana ramai ulama-ulama besar di Aceh yang namanya tidak tercantum dalam poster dimaksud. Pada awalnya, saya berpikir cuma saya saja yang merasa heran, tapi ternyata dugaan saya ini keliru. Beberapa waktu lalu, saya sempat membaca sepucuk surat terbuka yang dikirimkan oleh salah seorang masyarakat Aceh melalui rubrik droe keu droe di Harian Serambi Indonesia. Penulis surat tersebut mempertanyakan kenapa Teungku Muhammad Daud Beureueh tidak masuk dalam poster ulama Aceh.

Sebenarnya, jika ditelisik lebih jauh, bukan saja Teungku Muhammad Daud Beureueh yang tidak masuk dalam poster tersebut, tetapi juga ramai ulama lainnya yang juga tidak tercantum foto dan namanya di poster dimaksud. Di antara ulama yang tidak masuk dalam katagori ulama Aceh “versi poster” adalah Teungku Muhammad Daud Beureueh, Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap, Teungku Syekh Hamid Samalanga, Teungku Ahmad Hasballah Indrapuri dan masih banyak lagi ulama lainnya yang tidak mungkin kita sebut satu persatu.

Muncul pertanyaan. Apakah karena nama-nama mereka tidak tercantum dalam poster lantas mereka bukan ulama? Untuk menjawab pertanyaan ini, baiknya kita ajukan saja pertanyaan serumpun. Apakah untuk menjadi seorang ulama harus dipampang di poster? Nah! Semoga saja pertanyaan ini menjadi PR bagi kita semua.

Oke, kita lanjut. Demi mengisi kekosongan informasi, dalam artikel singkat ini, saya akan berusaha menampilkan riwayat singkat dan juga sekelumit pemikiran dari ulama-ulama besar Aceh yang namanya tidak masuk atau mungkin “terdelete” di poster-poster ulama kharismatik yang terpajang di kedai-kedai kopi.

Untuk kali ini, saya memilih menulis tentang sosok Al Mujahid Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri Rahimahullah. Beliau adalah seorang ulama besar Aceh yang pernah memimpin Dayah Indrapuri. Di antara murid beliau yang di kemudian hari juga menjadi ulama besar di Aceh adalah Teungku Syekh Mudawali Al-Khalidi Rahimahullah, pimpinan Dayah Labuhan Haji Aceh Selatan yang saat ini murid-muridnya tersebar hampir di seluruh Aceh.
Adapun riwayat singkat tentang Al Mujahid Teungku Muhammad Daud Beureueh Rahimahullah sudah pernah saya tulis dalam artikel yang bertajuk “Teungku Muhammad Daud Beureueh, Sang Revolusioner dan Mujaddid Tanah Rencong”.

Tentang Nama dan Istilah

Dalam menulis nama Teungku Ahmad Hasballah Indrapuri, para penulis sejarah memakai sebutan yang berbeda-beda tetapi tetap bermuara pada orang yang sama. Nama-nama dimaksud adalah Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri, Teungku Ahmad Hasballah Indrapuri (tanpa kata haji), Teungku Hasballah Indrapuri (tanpa Ahmad dan Haji), Teungku Syekh Ahmad Hasballah Indrapuri, Teungku Chik Indrapuri dan Abu Indrapuri. Ada pula sebagian penulis yang menyebut beliau dengan nama Teungku Ahmad Hasbullah, wallahu a’lam.

Sebenarnya kita bebas saja menggunakan nama mana pun sebagaimana tersebut di atas. Tapi dalam artikel singkat ini, saya memilih memakai nama Abu Indrapuri dan akan saya gunakan secara konsisten Insya Allah.

Adapun istilah Wahabi atau Wahabiyah yang juga akan anda temukan dalam artikel ini pada prinsipnya hanyalah sebuah istilah yang dinisbahkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebenarnya saya kurang tertarik menggunakan nama ini (Wahabi), karena nama yang cocok untuk mereka adalah Salafiyah. Lebih tepat lagi nama mereka adalah “Muwahhidun”, nama yang mereka pakai sendiri. Namun dalam artikel ini saya “terpaksa” menggunakan nama Wahabi atau Wahabiyah dengan pertimbangan bahwa nama tersebut sudah cukup dikenal dan telah akrab di telinga kaum muslimin.

Kelahiran dan Pendidikan

Nama lengkap Abu Indrapuri adalah Teungku Haji Ahmad Hasballah bin Teungku Haji Umar bin Teungku Auf. Ali Hasjimi menceritakan bahwa Abu Indrapuri dilahirkan di Kampung Lam-U, Aceh Besar pada tanggal 03 Juni 1888. Abu Indrapuri adalah anak dari pasangan, Teungku Haji Umar dan Hajjah Safiah.[1] Ayah Abu Indrapuri yaitu Teungku Umar bin Auf adalah salah seorang ulama, pejuang dan juga pimpinan Dayah Lam-U Aceh Besar.
Abu Indrapuri dilahirkan dalam suasana peperangan melawan Belanda di Aceh. Pada saat beliau lahir, ayahnya sedang berada dalam medan pertempuran melawan Belanda. Sejak kecil (remaja) Abu Indrapuri telah dibawa oleh ayahnya ke medan perang untuk berjihad.[3]

Pada saat masih kecil Abu Indrapuri belajar langsung kepada ayahnya Teungku Haji Umar. Abu Indrapuri sangat tertarik untuk menjadi qari yang baik. Bakatnya tersebut terus dikembangkan pada saat beliau belajar di Mekkah. Tidak hanya belajar pada ayahnya, Abu Indrapuri muda juga menuntut ilmu di beberapa dayah di Aceh, seperti Dayah Piyeung, Dayah Samalanga, Dayah Titeu dan Dayah Lamjabat. Dengan ketekunan belajar, akhirnya Abu Indrapuri dapat menguasai bahasa Arab, Fiqih, Tauhid, Sejarah, Tafsir dan Hadits.[4]

Dalam perjalanan ilmiahnya untuk menuntut ilmu, di tengah kondisi Aceh yang tidak kondusif, Abu Indrapuri muda memiliki daya nalar yang cukup kuat sehingga beliau mampu menguasai bahasa Arab dengan predikat mumtaz.[5]

Pada saat sebagian wilayah Aceh dapat dikuasai oleh Belanda, beberapa tokoh dan masyarakat Aceh atas izin dari pimpinan perang gerilya berhijrah ke Semenanjung Tanah Melayu. Pada saat itu, Abu Indrapuri bersama ayahnya juga turut berhijrah ke sana. Di tanah Melayu, Abu Indrapuri belajar di Dayah Yan yang merupakan pusat pendidikan Islam di Kerajaan Kedah. Di antara pemuda-pemuda dari Aceh saat itu yang seangkatan dengan beliau adalah Hasan Krueng Kalee dan Muhammad Saman. Ketiga pemuda ini kemudian melanjutkan pendidikan ke Mekkah. Setelah belajar di Mekkah beberapa lama, akhirnya ketiga pemuda tersebut kembali ke Aceh dan menjadi ulama besar. Selanjutnya ketiga pemuda tersebut dikenal dengan Tengku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri, Teungku Haji Hasan Krueng Kalee dan Teungku Syekh Muhammad Saman.[6]

Menjadi Pimpinan Dayah Indrapuri
Dari kiri ke kanan: Abu Indrapuri, Abu Daud Beureueh dan Tgk Di Lam Oe
Sumber Foto: T.A. Talsya, Sekali Republiken Tetap Republiken
Dayah Indrapuri dibangun oleh Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam pada tahun 1607-1636 M. Dayah tersebut berpusat di Mesjid Jami’ Indrapuri yang saat ini dikenal dengan nama Mesjid Tuha (mesjid lama) yang terletak di Gampong Pasar Indrapuri Aceh Besar.[7]

Pada masa Kerajaan Aceh, Mesjid Indrapuri merupakan salah satu pusat pendidikan Islam. Semenjak dahulu, sebagaimana dikemukakan oleh Hasjimi, Dayah Indrapuri telah melahirkan banyak ulama dan juga tokoh yang berpengaruh dalam Kerajaan Aceh. Namun akibat peperangan dengan Belanda, banyak dayah-dayah di Aceh yang macet dalam melaksanakan aktivitas pendidikan. Seperti halnya dayah-dayah lain, Dayah Indrapuri juga mengalami kevakuman disebabkan para pemimpin dayah tersebut juga turut dalam pertempuran melawan Belanda.[8]

Atas anjuran dan bantuan dari Tuanku Raja Keumala dan Teuku Panglima Polem Muhammad Daud, pada tahun 1912 Teungku Haji Ismail (Teungku Chiek Empeu Trieng) berusaha menghidupkan kembali Dayah Indrapuri yang telah berhenti beraktivitas selama puluhan tahun. Setelah aktivitas Dayah Indrapuri berjalan selama sepuluh tahun dibawah pimpinan Teungku Haji Ismail, namun kemajuan Dayah Indrapuri belum terlihat. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kesibukan Teungku Haji Ismail yang tidak hanya memimpin Dayah Indrapuri, tetapi juga memiliki tugas untuk mengajak masyarakat membangun dayah-dayah lain yang sudah terhenti aktivitasnya selama perang berlangsung.[9]

Pada tahun 1922 dilaksanakan satu musyawarah yang dihadiri oleh Tuanku Raja Keumala, Teuku Panglima Polem Muhammad Daud, Teungku Haji Ismail dan Teungku Haji Abdullah Lam-U. Musyawarah tersebut memutuskan untuk mencari seorang tokoh ulama lain yang mampu memimpin Dayah Indrapuri. Atas saran dari Teungku Haji Hasan Krueng Kalee, akhirnya dipilihlah Abu Indrapuri untuk memimpin dayah tersebut. Pada saat itu Abu Indrapuri masih bermukin di Yan, Semenanjung Tanah Melayu. Setelah mendapat pesan dari utusan Tuanku Raja Keumala, akhirnya Abu Indrapuri bersedia pulang ke Aceh untuk memimpin dayah tersebut. Sejak saat itulah, Dayah Indrapuri dipimpin oleh Abu Indrapuri, seorang ulama muda yang banyak terinspirasi dengan semangat Gerakan Wahabiyah di Mekkah Al-Mukarramah.[10]

Selama berada di bawah pimpinan Abu Indrapuri, Dayah Indrapuri semakin maju dan berkembang pesat. Pada saat itu ramai para santri dari seluruh tanah Aceh datang dan belajar di Dayah Indrapuri.[11]

Pemikiran Keagamaan

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa Abu Indrapuri pernah mununtut ilmu di Mekkah di bawah asuhan ulama-ulama Wahabi (Salafi). Sesuai dengan ajaran yang pernah diperolehnya di Mekkah, Abu Indrapuri berpendapat bahwa iman dan ibadah yang murni merupakan syarat mutlak bagi umat Islam jika ingin bangkit dan maju. Akidah dan ibadah harus dibersihkan dari berbagai bid’ah dan khurafat. Tidak hanya itu, dalam proses pembelajaran di Dayah Indrapuri, Abu Indrapuri juga menggunakan Kitab Tauhid yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.[12]

Abu Indrapuri menolak segala bentuk bid’ah dan khurafat seperti kupanji, yaitu meletakkan kain putih di kuburan dengan maksud melepas nazar. Beliau juga menolak ritual tolak bala (tulak bala) dengan memakai sesajen dari bubur nasi. Tradisi rabu abeh, yaitu pergi ke laut pada akhir bulan Safar untuk peulheuh jalen (buang sial) juga ditolak oleh Abu Indrapuri, karena menurut beliau perbuatan tersebut masuk dalam katagori syirik.[13]

Abu Indrapuri merupakan ulama yang punya pengaruh besar di Aceh, khususnya Aceh Besar. Abu Indrapuri sangat giat dalam melaksanakan pemurnian akidah dan pembaharuan pemikiran umat Islam di Aceh. Sebagaimana disebut di atas bahwa Abu Indrapuri menggunakan Kitab Tauhid karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sebagai pegangannya. Kitab tersebut telah memberi inspirasi kepada Abu Indrapuri dalam mengadakan pembaharuan dan juga menanam semangat anti penjajahan kepada masyarakat Aceh.[14]

Abu Indrapuri pernah mendirikan sebuah organisasi yang beliau beri nama Jam’iyah Al-Ataqiyah Al-Ukhrawiyah (Persatuan Kemerdekaan Akhirat). Organisasi ini bertujuan untuk membebaskan masyarakat dari kurafat dan bid’ah. Menurut Abu Indrapuri “apabila manusia telah bebas dari perbudakan hawa nafsu, dari akidah yang salah dan dari ibadah bukan kepada Allah, maka ia akan menjadi manusia yang dapat dengan sendirinya berjuang untuk membebaskan dirinya dari belenggu perbudakan jasmani”.[15]

Di sisi lain, Abu Indrapuri adalah salah seroang ulama yang sangat anti kepada paham komunisme dan atheisme. Sebagai seorang “ulama Wahabiyah” beliau berkeyakinan bahwa hanya dengan kemurnian akidah dan ibadah umat Islam akan menang menghadapi musuh-musuhnya. Abu Indrapuri juga sempat merasa sangat kecewa kepada Pemerintah Republik Indonesia saat itu yang memberi keleluasaan kepada kaum komunis melalui Partai Komunis Indonesia (PKI).[16]

Nazaruddin Sjamsuddin menyatakan bahwa Abu Indrapuri dan Teungku Hasan Krueng Kalee adalah ulama kelas 1 di Aceh, khususnya pasca revolusi. Cuma saja mereka berdua memiliki pandangan keagamaan yang berbeda. Abu Indrapuri seorang ulama reformis, sedangkan Teungku Hasan Krueng Kalee lebih condong kepada tradisionalis. Namun menurut Sjamsuddin, pengaruh dua ulama besar tersebut tidaklah mampu menandingi pengaruh dari Teungku Muhammad Daud Beureueh.[17]

Abu Indrapuri adalah ulama tertua dalam kubu reformis. Menurut Sjamsuddin hal tersebutlah yang membuat Abu Indrapuri sangat dekat dengan Teungku Muhammad Daud Beureueh. Dalam konferensi pertama PUSA pada tahun 1940 di Sigli, Abu Indrapuri diangkat sebagai penasehat PUSA. Wafatnya Abu Indrapuri pada tahun 1956 [1959?] dirasakan sebagai satu kehilangan besar bagi perjuangan Darul Islam, terutama bagi Teungku Muhammad Daud Beureueh.[18]

Abu Indrapuri adalah salah seorang ulama yang sangat berpengaruh di masanya. Nazaruddin Sjamsuddin mengisahkan suatu kejadian yang menimpa Abu Indrapuri. Pada awal tahun 1953, Abu Indrapuri mengalami musibah kecelakaan lalul lintas di Kutaraja. Pada saat itu beliau ditabrak oleh sebuah truk militer. Kejadian tersebut telah menggoncangkan masyarakat di pedesaan, khususnya di Aceh Besar. Melihat gelagat masyarakat yang tegang akibat kejadian tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan militer. Pihak militer takut terjadinya huru-hara akibat kejadian yang menimpa ulama besar tersebut. Akibat kekhawatiran tersebut, akhirnya pihak militer meminta maaf kepada Abu Indrapuri secara terbuka dan menyatakan bahwa kejadian tersebut tidak disengaja. Pihak militer juga mengumumkan bahwa supir truk militer tersebut sudah dihukum.[19]

Kontribusi dalam Pembaharuan Pendidikan Islam

Abu Indrapuri adalah salah satu tokoh yang sangat peduli kepada pendidikan umat Islam di Aceh. Rusdi Sufi dan Agus Budi Wibowo juga memasukkan nama Abu Indrapuri dalam bukunya Tokoh-Tokoh Pendidikan di Aceh Awal Abad XX.

Nazaruddin Sjamsuddin, mengemukakan bahwa para pemimpin reformis di masa lalu, yaitu Teungku Muhammad Daud Beureueh dan Abu Indrapuri tidak hanya mendirikan sekolah-sekolah di seluruh daerah Aceh, tetapi mereka juga mengembangkan gagasan keagamaan yang baru dan belum dikenal oleh masyarakat Aceh. Waktu itu juga sempat terjadi perbedaan pendapat dan pertentangan dengan ulama-ulama tradisional yang dipimpin oleh Teungku Hasan Krueng Kalee.[20]

Hasjimi menceritakan bahwa dalam rangka melaksanakan pembaharuan pendidikan Islam, Abu Indrapuri mendirikan Madrasah Hasbiyah dalam lingkungan Dayah Indrapuri. Madrasah Hasbiyah ini terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah dengan menggunakan kurikulum baru yang sesuai dengan kurikulum madrasah di seluruh Indonesia. Tidak hanya Madrasah Hasbiyah, Abu Indrapuri juga mendirikan madrasah khusus perempuan di Tanjung Karang Lhue dengan nama Madrasah Lil Ummahat.[21]

Dayah Indrapuri dan Madrasah Hasbiyah dibawah asuhan Abu Indrapuri telah melahirkan banyak ulama yang menjadi pemimpin umat di Aceh. Di antara lulusan Dayah Indrapuri adalah Teungku Haji Mudawali Al-Khalidi yang di kemudian hari menjadi pimpinan Madrasah Islamiah Labuhan Haji Aceh Selatan.[22] Teungku Haji Mudawali Al-Khalidi sebagaimana diceritakan oleh Hasjimi belajar ilmu-ilmu Al-Qur’an di Dayah Indrapuri.

Teungku Haji Mudawali Al-Khalidi yang dikenal dengan sebutan Teungku Muda Wali lahir di Labuhan Haji pada tahun 1917. Teungku Mudawali sempat menjadi murid Abu Indrapuri. Sebagaimana diceritakan oleh Said Abubakar, bahwa Abu Indrapuri melihat sosok Teungku Muda Wali sebagai seorang yang cerdas dan berbakat. Abu Indrapuri kemudian meminta kepada T.M Hasan Glumpang Payong yang menjabat sebagai wakil ketua Aceh Studi Fonds agar membantu Teungku Muda Wali untuk melanjutkan pendidikan pada Normal Islam di Padang yang dipimpin oleh Mahmud Yunus yang juga beraliran reformis.[23]

Kontribusi dalam Politik

Abu Indrapuri bukan hanya ulama besar dan tokoh pendidikan, tetapi beliau juga terlibat aktif dalam gerakan politik, pra dan pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau adalah salah seorang pemimpin politik yang sangat berpengaruh di Aceh, selain Teungku Muhammad Daud Beureueh dan Teungku Hasan Krueng Kalee.

Sebelum kemerdekaan, Abu Indrapuri pernah menjabat sebagai ketua Majelis Syura Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA).[24] Sebagaimana diterangkan oleh Aboebakar Atjeh, bahwa organisasi PUSA bertujuan untuk menyiarkan, menegakkan dan mempertahankan syiar Islam yang suci, khususnya di Aceh.[25]

Pasca kemerdekaan, dalam musyawarah ulama seluruh Aceh pada 23 November 1945 di Mesjid Raya Baiturrahman disepakati untuk membentuk Barisan Hizbullah dengan ketua umum Teungku Muhammad Daud Beureueh. Dalam Barisan Hizbullah tersebut Abu Indrapuri menjabat sebagai wakil ketua umum.[26]

Di antara jabatan dalam pemerintah yang pernah dipikul oleh Abu Indrapuri adalah: (1) Kadi pada Teungku Panglima Polem Muhammad Daud di zaman Belanda; (2) Ketua Pengadilan pada zaman pendudukan Jepang; (3) Anggota Pengadilan Tentara Divisi X pada zaman Republik Indonesia; (4) Ketua Bagian Kehakiman pada Dewan Agama Kerisidenan Aceh; (5) Ketua Mahkamah Syar’iyah Kerisidenan Aceh; (6) Anggota Mahkamah Islam Tertinggi; dan (7) Ketua Majelis Ifta pada Jawatan Agama Kerisidenan Aceh.[27]

Jabatan dalam organisasi politik yang pernah diemban oleh Abu Indrapuri, di antaranya: (1) Ketua Majelis Syura Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA); (2) Penasehat Pemuda PUSA; (3) Penasehat Kepanduan Islam; (4) Penasehat Pergerakan Angkatan Muda Islam Indonesia (PERAMINDO); Penasehat Serikat Pemuda Islam Aceh (SEPIA); (5) Penasehat Pucuk Pimpinan Serikat Pegawai Republik Indonesia (SERPRI); dan (6) Penasehat Lasykar Mujahidin.[28]

Sejak bulan Oktober 1945, pada awal-awal revolusi kemerdekaan, Abu Indrapuri pernah menjabat sebagai Kepala Mahkamah Syari’ah Daerah Aceh.[29] Abu Indrapuri adalah salah seorang dari empat ulama besar yang mengeluarkan fatwa perang sabil untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada saat revolusi fisik. Fatwa tersebut keluar pada tanggal 15 Oktober 1945 yang ditandatangani oleh Teungku Haji Hasan Krueng Kalee, Teungku Muhammad Daud Beureueh, Teungku Haji Jakfar Shiddiq dan Abu Indrapuri [30].

Sebagaimana dicatat oleh Kahin, bahwa dalam pernyataan tersebut keempat ulama dimaksud, termasuk Abu Indrapuri di dalamnya, menyerukan kepada seluruh rakyat Aceh untuk bersatu dan berada di belakang Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno, dalam rangka melawan agresi Belanda yang akan kembali ke Indonesia.[31]

Abu Indrapuri adalah salah seorang pendiri Majelis Ifta Daerah dalam konferensi di Kutaraja pada tanggal 15 Februari 1950. Majelis tersebut berfungsi untuk menasehati pemerintah daerah dalam masalah-masalah keagamaan pasca revolusi fisik.[32] Majelis Ifta yang berfungsi memberikan fatwa ini diketuai langsung oleh Abu Hasballah Indrapuri.[33]

Abu Indrapuri juga salah satu tokoh Darul Islam yang terlibat aktif dalam pemberontakan terhadap pemerintah Republik di bawah pimpinan Teungku Muhammad Daud Beureueh. Dalam gerakan DI TII di Aceh, Abu Indrapuri menjabat sebagai ketua mahkamah.[34]

Wafatnya Sang Pejuang dan Ulama Besar

Setelah Panglima Kodam I Iskandar Muda, Syamaun Gaharu dan Gubernur Aceh Ali Hasjimi berhasil meyakinkankan ulama-ulama Aceh yang tergabung dalam DI TII bahwa PKI tidak akan sanggup menghapus sila Ketuhanan Yang Maha Esa dari Pancasila, maka para ulama Aceh tersebut bersedia kembali ke pangkuang Republik Indonesia. Pada saat itu, Abu Indrapuri juga turun gunung bersama ulama-ulama lainnya.
Atas persetujuan Panglima dan juga Gubernur Aceh, akhirnya Abu Indrapuri hijrah kembali untuk kedua kalinya ke Semenajung Tanah Melayu. Salah satu asalan beliau hijrah ke sana adalah karena ayah beliau dikuburkan di Kampung Yan Keudah. Abu Indrapuri ingin apabila dia wafat juga dikuburkan di samping ayahnya yang sekaligus juga merupakan gurunya. Abu Indrapuri berangkat ke Semanjung Tanah Melayu pada akhir tahun 1958. Hanya lebih kurang satu tahun berada di Tanah Melayu, Abu Indrapuri wafat pada 26 April 1959. Beliau dikuburkan di Kampung Yan Keudah, dekat dengan makam ayahnya Teungku Haji Umar bin Auf.[36]

Penutup

Sebagai masyarakat Aceh, tentunya kita harus bersyukur karena di Aceh pernah hidup ulama-ulama besar, di antaranya Abu Indrapuri yang telah menghabiskan usianya untuk menjaga kemurnian tauhid kaum muslimin di Aceh. Sebagaimana telah penulis kemukakan di atas bahwa Teungku Haji Mudawali Labuhan Haji yang juga ulama besar di Aceh adalah salah seorang murid yang diasuh dan bahkan direkomendasikan untuk belajar di Padang oleh Abu Indrapuri. Sekarang mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, pantaskah kita “mencaci” ulama-ulama “Wahabi” semisal Abu Indrapuri yang memiliki kontribusi besar dalam melahirkan ulama-ulama besar Aceh di kemudian hari?

Abu Indrapuri tidak hanya berperan sebagai guru umat bagi masyarakat Aceh, tapi beliau juga salah seorang mujahid (pejuang) yang sejak remaja telah maju di medan tempur melawan kafir Belanda. Dan, sebagaimana telah diulas di atas, Abu Indrapuri juga merupakan salah seorang ulama besar yang mengeluarkan fatwa Perang Sabil melawan Belanda dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

Akhinya hanya kepada Allah kita kembali dan menyerahkan diri. Mari kita berdoa kepada Allah ‘Azza Wajalla agar mengampuni dosa-dosa Abu Indrapuri, seorang mujahid, seorang mujaddid dan ulama besar di Aceh. Kita berdoa kepada Allah agar kebaikan beliau dibalas oleh Allah, dan ditempatkan di sisi-Nya – Insya Allah. Allahumagfirlahu warhamhu. 

Daftar Pustaka
Ali Hasjimi, Ulama Aceh Mujahid Pejuang Kemerdekaan dan Pembangun Tamaddun Bangsa, Jakarta: Bulan Bintang, 1997

A. Hasjimi, 50 Tahun Aceh Membangun, Banda Aceh: t.p, 1995

Aboebakar Atjeh, Salaf Muhji Atsaris Salaf Gerakan Salafijah di Indonesia, Jakarta: Penerbit Permata, 1970

Amran Zamzami, Jihad Akbar di Medan Area, Jakarta: Bulan Bintang, 1990

A. K. Jakobi, Aceh Daerah Modal Long March Ke Medan Area, Jakarta: Yayasan Seulawah RI-001

Audrey R. Kahin, Pergolakan Daerah Pada Awal Kemedekaan, terj. Satyagraha Hoerip, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1990

Cornelis Van Dijk, Darul Islam Sebuah Pemberontakan, terj. Grafiti Press, Jakarta: Garfiti Press, 1983

Depdikbud, Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Istimewa Aceh, Jakarta: Depdikbud, 1983

Lembaga Research dan Survey IAIN Djami’ah Ar-Raniry, Laporan Penelitian Pengaruh PUSA terhadap Reformasi di Aceh, Banda Aceh: Lembaga Reseacrh dan Survey IAIN Djami’ah Ar-Raniry, 1978

Muliadi Kurdi dkk (Ed), Ensiklopedi Ulama Besar Aceh (The Encyclopedia of Great Acehnese Ulamas) Volume 1, t.t: Lembaga Kesehteraan Aceh Semata, 2010

Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan Kaum Republik Kasus Darul Islam di Aceh, Jakarta: Pustaka Utama Graviti, 1990

Rusdi Sufi dan Agus Budi Wibowo, Tokoh-Tokoh Pendidikan di Aceh Awal Abad XX, Banda Aceh: Badan Perpustakaan Prov Aceh, 2007

Said Abubakar, Berjuang Untuk Daerah: 70 Tahun H. Said Abubakar, Banda Aceh: Yayasan Nagasakti, 1995

Endnote:

[1]Ali Hasjimi, Ulama Aceh Mujahid Pejuang Kemerdekaan dan Pembangun Tamaddun Bangsa, (Jakarta: Bulan Bintang, 1997), hal. 46.

[2]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 47.

[3]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 46.

[4]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 47.

[5]Muliadi Kurdi dkk (Ed), Ensiklopedi Ulama Besar Aceh (The Encyclopedia of Great Acehnese Ulamas) Volume 1, (t.t: Lembaga Kesehteraan Aceh Semata, 2010), hal. 157.

[6]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 49.

[7]Muliadi Kurdi dkk (Ed), Ensiklopedi..., hal. 159.

[8]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 49.

[9]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 50-51.

[10]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 51.

[11]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 51.

[12]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 52.

[13]Rusdi Sufi dan Agus Budi Wibowo, Tokoh-Tokoh Pendidikan di Aceh Awal Abad XX, (Banda Aceh: Badan Perpustakaan Prov Aceh, 2007), hal. 109-110.

[14]Lembaga Research dan Survey IAIN Djami’ah Ar-Raniry, Laporan Penelitian Pengaruh PUSA terhadap Reformasi di Aceh, (Banda Aceh: Lembaga Reseacrh dan Survey IAIN Djami’ah Ar-Raniry, 1978), hal. 34.

[15]A. Hasjimi, 50 Tahun Aceh Membangun, (Banda Aceh: t.p, 1995), hal. 70.

[16]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 59.

[17]Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan Kaum Republik Kasus Darul Islam di Aceh, (Jakarta: Pustaka Utama Graviti, 1990), hal. 194.

[18]Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan…, hal. 194.

[19]Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan…, hal. 184.

[20]Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan…, hal. 21.

[21]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 53.

[22]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 53.

[23]Said Abubakar, Berjuang Untuk Daerah: 70 Tahun H. Said Abubakar, (Banda Aceh: Yayasan Nagasakti, 1995), hal. 117.

[24]A. Hasjimi, 50 Tahun…, hal. 81.

[25]Aboebakar Atjeh, Salaf Muhji Atsaris Salaf Gerakan Salafijah di Indonesia, (Jakarta: Penerbit Permata, 1970), hal. 184.

[26]Amran Zamzami, Jihad Akbar di Medan Area, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), hal. 55.

[27]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 55.

[28]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 54.

[29]Depdikbud, Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Istimewa Aceh, (Jakarta: Depdikbud, 1983), hal. 186.

[30]Tgk. A. K. Jakobi, Aceh Daerah Modal Long March Ke Medan Area, (Jakarta: Yayasan Seulawah RI-001), hal. 91.

[31]Audrey R. Kahin, Pergolakan Daerah Pada Awal Kemedekaan, terj. Satyagraha Hoerip, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1990), hal. 98.

[32]Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan…, hal. 38.

[33]Cornelis Van Dijk, Darul Islam Sebuah Pemberontakan, terj. Grafiti Press, (Jakarta: Garfiti Press, 1983), hal. 299.

[34]Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan…, hal. 187.

[35]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 60.

[36]Ali Hasjimi, Ulama Aceh…, hal. 60.
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget