Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

Ilustrasi: Douglas MacArthur saat tiba di Pulau Morotai dalam langkah awal memenangi Perang Pasifik. FOTO/Wikipedia
Biografi - Menduduki Filipina adalah hal penting bagi Jenderal Douglas MacArthur (1880-1964). Sebelum Perang Dunia II, MacArthur yang menjalani masa pensiun menjadi penasihat militer di Filipina. Namun, Perang Pasifik membuatnya ditugaskan pada 1941, menjabat Panglima Angkatan Darat Amerika Serikat di Timur Jauh. Kekuatan Jepang di sekitar Filipina membuat MacArthur dan pengikutnya mundur ke Australia. Di sana MacArthur pernah bilang, "Aku akan kembali."

Untuk bisa kembali ke Filipina, kekuatan Jepang di sekitar Papua harus dipreteli. Sebuah pulau dengan dataran luas tentu diperlukan sebagai batu pijakan untuk menuju Filipina. Pilihan jatuh ke Halmahera atau Morotai.

“Data intelijen yang tersedia mengindikasikan bahwa garnisun tempur Jepang yang kuat ada di Halmahera,” tulis Robert Ross Smith dalam The Approach to the Philippines (2014: 451). Sementara di Morotai pertahanan militer Jepang terbilang lemah. Akhirnya, MacArthur memilih Morotai.

Rencana penyerbuan itu diberitahukan via radio kepada Jenderal Walter Krueger (1881-1967), komandan Sixth United States Army di Area Pasifik Barat Daya pada Perang Dunia II. Pada 21 Juli 1944, Krueger diperintahkan melakukan persiapan.

Kruger lantas menunjuk Mayor Jenderal Charles Philip Hall (1886–1953), yang baru selesai dalam kampanye serbuan ke Aitape, sebuah kota kecil di pesisir utara Papua Nugini, untuk memimpin satuan tugas Operasi Tradewind guna merebut Morotai. Serangan itu dilakukan pada 15 September 1944.

MacArthur bergerak semakin ke utara. William Manchester dalam MacArthur: Sang Penakluk (1994) menulis bahwa sang jenderal membuat markas besar di Hollandia (nama saat itu untuk Jayapura) pada 30 Agustus 1944, dan pada 15 September 1944 ia berada di kapal penjelajah Nashville menuju Morotai.

Memimpin pasukan pendarat menuju pantai, yang ditingkahi arus dan gelombang, MacArthur mendapati bahwa Pulau Morotai hanya dihuni 500-1.000 tentara Jepang, sementara ia punya pasukan 61.000 personel.

“Pendaratan itu tidak mendapat perlawanan; tanpa korban seorang pun,” tulis Manchester.

Smith menulis, sekitar 16 September pukul 8 pagi, pada hari-hari pertama operasi, ketiga resimen Divisi ke-31 pimpinan Mayjen John Cecil Persons bergerak maju. Sekitar pukul 1 siang mereka menemukan tentara Jepang menyerah begitu saja.

Divisi itu pun mengamankan daerah Pitu, yang dikenal sebagai daerah landasan pacu. Pada hari-hari berikutnya, pasukan penyerbu itu seolah menjadi pasukan pemburu terhadap satuan-satuan kecil serdadu Jepang yang bertahan di pulau itu. Resimen Infanteri ke-126 pada 17 September mulai menduduki pulau-pulau di lepas pantai barat daya dan sekitarnya.

Di bagian utara dan sepanjang pantai barat, militer AS menghantam aktivitas serdadu Jepang. Peralatan musuh berhasil dihancurkan, termasuk sekitar sepuluh truk peralatan radar, bahan bakar minyak, pakaian, dan mesin duplikasi. Banyak serdadu Jepang melarikan diri ke pedalaman Morotai ketika diserang, dan tak ingin mengambil langkah damai.

“Selain itu, stasiun radar dan pos pengamatan didirikan di banyak pulau lepas pantai dan di berbagai titik di sekitar pantai Morotai,” tulis Smith.

Pos-pos militer diperbanyak pada hari-hari berikutnya. Pos-pos tambahan dibangun di sekitar pantai timur laut dan utara. Kemudian di Pulau Raoe, stasiun radar terakhir didirikan pada 21 September 1944.

Sementara pos-pos dan stasiun radar dibangun, menurut catatan Smith, Divisi ke-31 telah membangun instalasi dan bivak militer. Morotai pun dijadikan basis pasukan AS dalam Perang Pasifik. Ia menjadi pusat arus logistik bagi pasukan AS beraksi ke arah Filipina dan Borneo timur.

Biaya Perang di Pihak Jepang & Sekutu
Militer Jepang di Halmahera, masih menurut catatan Robert Ross Smith (2014), berusaha dengan keterbatasannya, mengirim tak lebih tiga atau empat tongkang ke Morotai dari 15 September hingga 4 Oktober 1944.

Serdadu Jepang yang terbunuh di Morotai mencapai 104 orang, sementara 13 orang ditangkap. Beberapa nahkoda mencatat setidaknya 200 serdadu Jepang tenggelam dalam sebuah serangan di perairan antara Morotai dan Halmahera. Di pihak sekutu, hingga 4 Oktober, 30 orang tewas, 85 terluka, dan satu orang hilang. Sedikitnya, ada 46 kuburan tentara sekutu di daerah Tanjung.

Jenderal Krueger menyatakan operasi Morotai berakhir pada 4 Oktober 1944. Namun, bulan-bulan berikutnya, beberapa pasukan tongkang Jepang berhasil menyelinap melalui blokade Sekutu untuk mencapai Morotai dari Halmahera. Meski begitu, serangan via tongkang ini cuma bikin gangguan kecil bagi militer Sekutu.

Serangan militer Jepang via udaralah yang cukup merugikan bagi pasukan Sekutu. Meski hanya 12 prajurit Sekutu yang terluka, serangan-serangan udara berikutnya menyebabkan kerusakan pesawat-pesawat Sekutu di Morotai.

Hingga 4 Oktober 1944, hanya ada 49 kasus malaria dan 22 kasus demam berdarah; sebagian besar di luar Divisi ke-31. Sekitar 990 pria dari satuan tugas dirawat di rumah sakit. Di antara itu ada sekitar 175 tentara Sekutu yang cedera di luar pertempuran; dan 103 personel terluka akibat pertempuran. Hingga 4 Oktober, hampir semua kasus ini telah dievakuasi di kapal Seventh Fleet LST's.

Pihak yang luar biasa untung, dan nyaris tanpa kontribusi, atas perebutan Morotai dari pihak Jepang adalah Belanda. Sebelum Perang Dunia II, Morotai termasuk koloni Hindia Belanda. Di masa perang, di Australia, pejabat pelarian dari Hindia Belanda sudah mempersiapkan diri membentuk Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA), yang diartikan sebagai pemerintah sipil Hindia Belanda.

"Urusan sipil di Morotai ditangani, seperti biasa, oleh Detasemen NICA [...] detasemen ini cepat membawa penduduk asli kembali di bawah kedaulatan Belanda," tulis Smith.

Itu tugas yang tergolong mudah mengingat penduduk lokal bersikap kooperatif. Bekerja melalui NICA, banyak penduduk setempat memberikan informasi mengenai disposisi Jepang di Morotai dan Halmahera; sementara yang lain bertindak sebagai pemandu untuk patroli yang tersebar di Morotai.

Dari sanalah NICA memobilisasi penduduk lokal membangun desa-desa. Setidaknya ada sekitar 350 penduduk yang terlibat.

Warisan Vital Pasca-PD II
Sesudah keberhasilan Sekutu mengoyak kekuatan Jepang yang lemah di Morotai, gugus tugas Operasi Tradewind dibubarkan pada 25 September 1944. Pasukan sekutu lantas berfokus membangun lapangan udara.

Dari sanalah Jenderal MacArthur memutuskan memperluas pembangunan lapangan udara di Morotai. Melebihi dari yang dipikirkan sebelumnya, ada tujuh landasan pacu yang dibangun, lima bandara sepanjang 2 kilometer dan dua lain sepanjang 3 kilometer.

Mengingat serangan udara Jepang cukup bikin kerepotan Sekutu, pengerjaan landasan pacu itu agak terhambat. Toh, pada hari-hari berikutnya, landasan udara bisa dibereskan, dengan bahan material yang mudah ditemukan di Morotai yang penuh karang.

Setelah hari ke-19 perebutan Morotai, pada 4 Oktober, landasan di Morotai mulai didarati pesawat pertama. Puluhan pesawat, bahkan pesawat pembom berukuran besar, akhirnya bisa mendarat.

Posisi Morotai itu sekali lagi sangat vital bagi pasukan Jenderal Douglas MacArthur karena “menghindari 22 ribu pasukan musuh dan berada 300 mil dari Filipina,” tulis William Manchester dalam MacArthur: Sang Penakluk.

Semasa di Morotai, MacArthur sempat tinggal di Pulau Zum-zum. Berkat menguasai Morotai, armada MacArthur tak hanya mampu merebut Filipina, tentara Australia Divisi VII pun bisa merebut beberapa kota di kawasan Indonesia bagian timur.

Belasan tahun setelah Perang Dunia II, Morotai menjadi tempat yang menarik. Hingga tahun 1950-an, peninggalan basis Sekutu itu menjadi landasan pacu terbesar di Indonesia bagian Timur. Hal ini pernah dimanfaatkan oleh Ventje Sumual dan pemimpin Permesta lain, yang pernah mengirim pasukannya untuk beberapa saat menguasai Morotai. Harapannya, jika Permesta punya pesawat besar, mereka bisa menempatkannya di sana.

Maka, demi kemenangan Sekutu di Pasifik bagian timur, merebut Morotai adalah kunci.

Biografi - Gunung Lawu memang menyimpan berbagai pesonanya. Keindahan tidak hanya bisa ditemukan di sepanjang jalur PENDAKIAN LAWU yang penuh misteri, tetapi juga tersebar di banyak wilayah sekelilingnya. Jika postingan sebelumnya pernah mengulas tentang sejukanya TELAGA WAHYU yang berada di Kabupaten Magetan, kali ini pesona keindahan tersebut berada di lereng Lawu sebelah utara di Kabupaten Ngawi tepatnya di Air Terjun Pengantin.

ika mendengar nama tersebut, yang ada dalam benak pastilah merupakan judul film horor. Dahulu memang ada film horor dengan judul Air Terjun Pengantin yang diputar di layar lebar. Saat dicari di Google pun yang muncul pada pencarian teratas adalah tentang film horor tersebut. Namun ternyata Air Terjun Pengantin bukan hanya judul film horor semata, melainkan juga merupakan nama sebuah obyek wisata.

Menuju Air Terjun Pengantin
Secara administratif, Air Terjun Pengantin terletak di Desa Hargomulyo, RT 03, RW 01, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Jarak tempuh dari Kota Ngawi adalah sekitar 37 kilometer dengan waktu tempuh sekitar satu jam 15 menit. Sementara jarak tempuh  dari Kota Surakarta adalah sekitar 63 kilometer dengan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan.


Beruntung karena saat ini telah tersedia aplikasi Google Maps untuk menunjukkan arah menuju Air Terjun Pengantin ini yang mana lokasinya sudah tersedia. Rute menuju ke sana memang tida terlalu menanjak, tetapi kondisi jalan yang harus dilalui tidak semuanya halus karena di beberapa ruas jalan penuh dengan lubang. Menjelang sampai lokasi, kondisi jalan akan menyempit sehingga dan berada di perkampungan.

 Saat ini juga belum ada kendaraan umum untuk sampai ke Air Terjun Pengantin sehingga jika ke sana harus menggunakan kendaraan pribadi. Akses jalan yang tersedia hingga area parkirnya bisa menampung sepeda motor hingga minibus. Sementara bus besar masih cukup kesulitan untuk melewati akses jalannya yang sempit.

Menuju Dua Air terjun
Perjalanan menggunakan kendaraan pun telah usai begitu sampai di area parkir. Namun bukan berarti perjalanan telah selesai karena perjalanan menempuh jalan setapak masih harus dilakukan untuk sampai ke lokasi air terjun. Untungnya perjalanan menapaki jalan setapak bukan merupakan hal yang buruk. Kondisi jalan setapak kini begitu baik karena pada pertengahan 2017 lalu telah dilakukan perbaikan oleh dinas terkait bersama masyarakat.


Jalan setapak yang harus dilalui sudah berupa paving dan anak tangga sehingga rasanya begitu mudah untuk melaluinya. Tak perlu khawatir akan jalur yang licin dan becek saat melaluinya di musim hujan. Namun meski jaraknya tidak begitu jauh, persiapan untuk melalui turunan dan tanjakan harus dilakukan karena lokasi air terjunnya memang ada di bawah.

 Perlahan suara air terjun akan mulai terdengar di tengah jalan yang otomatis semakin memompa semangat untuk segera sampai di sana. Tak lama kemudian pemandangan ke arah Air Terjun Pengantin berupa dua air terjun yang berdampingan pun akan terlihat dengan indahnya dari ketinggian. Nantinya akan dijumpai semacam spot foto yang bisa digunakan dengan latar belakang dua air terjun tersebut.

Legenda Air Terjun Pengantin
Akhirnya perjalanan pun sampai di Air Terjun Pengantin. Seperti yang telah dijelaskan tadi, terdapat dua air terjun yang terletak berdampingan. Letak dua air terjun yang berdampingan ini pun menjadi inspirasi dari penamaan Air Terjun Pengantin karena melambangkan sepasang mempelai pria dan wanita.


Jika menghadap ke arah air terjun, maka aliran air terjun kanan lebih deras daripada aliran air terjun kiri. Hal ini pun kemudian menimbulkan persepsi bahwa air terjun yang kanan melambangkan pengantin pria karena aliran deras juga menggambarkan kegarangan. Sementara air terjun yang kiri yang alirannya tidak deras melambangkan pengantin wanita dengan kelembutannya.

Air terjun yang ada memang berjumlah dua, tetapi kedua air terjun ini tetap berasal dari satu sungai saja. Selain sungai asalnya, aliran airnya pun akhirnya kembali menyatu menjadi sebuah sungai yang melambangkan Tuhan Yang Maha Esa. Penggambaran dan pelambangan air terjun ini tak lepas dari legenda yang ada. Tulisan mengenai legenda air terjun ini juga telah disediakan oleh pengelola sehingga pengunjung bisa membacanya.

 Konon dahulu ada seseorang penyiar Agama Islam bernama Eyang Galiman yang masih keturunan ningrat dari Adipati Gendingan. Beliau tertarik oleh adat mantu yang dilakukan di Dusun Besek; permukiman yang berada dekat dengan Air Terjun Pengantin. Eyang Galiman pun beranggapan bahwa adat mantu harus dilakukan dengan cara agama agar kelak generasi keturunannya lebih berkualitas dan beradab.

Eyang Galiman kemudian dipercaya untuk melakukan ritual daup manten pada acara mantu (pernikahan) di Dusun Besek dan sekitarnya. Beliau kemudian mengambil air dari sebuah air terjun yang konon dikeramatkan masyarakat setempat untuk selanjutnya diminumkan kepada kedua mempelai. Konon katanya air dari air terjun tersebut memiliki khasiat untuk melanggengkan hubungan rumah tangga.

Pesona Air Terjun Pengantin
Terlepas dari mitos dan legenda yang ada, Air Terjun Pengantin merupakan tempat yang sangat nyaman untuk mengisi waktu liburan. Lokasinya yang berada di lereng Gunung Lawu menyebabkan udaranya di kawasan tersebut begitu sejuk dan segar. Selain itu pepohonan yang masih rimbun akan membawa suasana relaksasi bagi para pengunjungnya.


Air yang mengalir pun bersumber langsung dari Gunung Lawu sehingga kesegarannya masih sangat terjaga. Air dari air terjun ini bisa langsung diminum tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Namun tentu saja harus dipastika terlebih daulu bahwa tidak ada orang yang mencuci kakinya di ujung aliran sungai.

Selain kesegaran air dan kesejukan udaranya, suara air terjunnya juga merupakan nyanyian alam yang begitu merdu. Duduk-duduk sambil menikmati nyanyian air terjun tentu mampu untuk menghadirkan ketentraman dalam jiwa. Jika ingin bermain air, kolam dan aliran sungai dari Air Terjun Pengantin ini pun aman untuk dipakai berenang atau berendam. Saat musim kemarau air terjun ini masih tetap ada, tetapi dengan volume air yang lebih kecil.

Mengenai pantangan atau larangan, tidak ada peraturan khusus yang ada di sini. Larangan dan pantangan yang ada pun tidak jauh berbeda dari kebanyakan obyek wisata lainnya. Ada baiknya aturan tersebut harus dipatuhi selain agar tempatnya tetap terawat, aturan tersebut juga demi keselamatan pengunjung sendiri. Tentu rasanya tidak rela jika tempat seindah Air Terjun Pengantin ini dipenuhi sampah dan coret-coretan orang yang tidak bertanggung jawab.

Jika tiba-tiba lapar menyerang saat bermain air, tidak perlu untuk berjalan jauh ke area parkir karena sudah ada warung makan yang menyediakan berbagai makanan di area air terjun. Namun perlu diingan bahwa sampah kemasan makanan dan minuman harus selalu dibuang pada tempatnya. Tong sampah pun juga sudah banyak tersedia di sini; baik untuk sampah organik maupun anorganik yang ditujukan agar kawasan ini senantiasa bersih.

Video merekam seorang pria di China membawa pulang seekor lumba-lumba dari pantai setempat (Screengrab/Weibo via Channel News Asia)
Beijing - Seorang pria di China terekam kamera membawa pulang seekor lumba-lumba yang diduga telah mati, dari pantai setempat. Otoritas China sedang mencari pria ini untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Dilaporkan media lokal China, btime.com dan dilansir Channel News Asia, Jumat (4/5/2018), pria yang diduga turis itu terekam video sedang berjalan santai di pantai, sambil menggendong seekor lumba-lumba di bahunya dan memegang telepon genggam di salah satu tangannya.

Video yang direkam pada Selasa (1/5) waktu setempat itu dilaporkan diambil di sebuah pantai di Pulau Hailing, Provinsi Guangdong, China bagian tenggara. Pantai itu merupakan tujuan wisata populer.

Laporan media lokal menyebut pria yang hanya memakai celana renang itu kemudian memasukkan lumba-lumba ke dalam mobilnya dan pergi dari pantai tersebut.

Lumba-lumba yang dbawa pria itu terlihat telah tak bernyawa. Laporan menyebut pria itu menemukan lumba-lumba itu terdampar di pantai Pulau Hailing.

Video pria yang membawa luma-lumba ini beredar luar di media sosial China. Biro Perikanan lokal telah meluncurkan penyelidikan terkait insiden itu.

"Lumba-lumba merupakan hewan dilindungi di China. Baik mati atau hidup, jelas salah untuk membawanya. Dia (pria dalam video) seharusnya menghubungi otoritas setempat untuk menangani persoalan itu," ucap seorang pejabat setempat.

Ditambahkan pejabat tersebut bahwa pihak kepolisian telah dilibatkan untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut.

Keberadaan pria dalam video itu masih dicari tahu. Jika diketahui identitasnya dan ditemukan oleh otoritas China, pria dalam video itu akan dijatuhi hukuman. [detik]

Biografi - Hari ini, 23 tahun lalu, aku tiba di Semarang setelah menempuh perjalanan semalam penuh dari Jakarta menggunakan bus. Aku turun di Tambak Haji, di daerah Mangkang. Sesuai pesan kawan-kawan, aku dilarang langsung memasuki Kota Semarang.

Tambak Haji terletak di antara perbatasan Kota Kendal dan Semarang. Daerah ini konsentrasi pabrik, basis utama pengorganisasian Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI) cabang Semarang.

Sambil menunggu jemputan kurir, aku mampir di sebuah warung mi instan. Menyeruput kopi dan mengisap kretek, lamunanku mengembara saat aku masih beraktivitas di Semarang.

Teringat wajah Irmadi, Boy, Oskar, Supri, Bambang—kawan buruh yang pertama diorganisir sekitar tahun 1991 di Mangkang. Pertama kali yang mengorganisir adalah Sugeng Bahagijo dari Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Setelah berdiri Solidaritas Mahasiswa Semarang, hasil pengorganisasian Sugeng diserahkan ke kawan-kawan Semarang. Ignatius Pranowo alias Wowok adalah salah satu kader mahasiswa di Solidaritas yang diterjunkan ke basis buruh. Wowok adalah mahasiswa IKIP PGRI Semarang, pengelola majalah mahasiswa Vokal.

Tak banyak mahasiswa yang mau ditempatkan di basis buruh karena enggan tercerabut dari kampus. Salah satu syarat menjadi organiser buruh harus fokus ke basis, harus setop dulu beraktivitas di kampus. Tujuannya melindungi basis pengorganisasian buruh, yang harus dilakukan secara tertutup, karena masih tahap awal.

Wowok, pemuda bertubuh kecil berkacamata, mengerjakan tugasnya dengan tekun. Selain memimpin kolektif buruh Semarang, ia bertugas mengorganisir buruh pabrik di daerah Ungaran sampai kawasan industri sekitar Pabrik Jamu Jago.
PPBI berdiri pada 23 Oktober 1994 dalam Kongres Buruh di Bandungan, Jawa Tengah. Wowok dan para organiser buruh di Semarang menjadi peserta kongres itu.

Dua bulan sebelumnya, 3 Agustus 1994, Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) terbentuk melalui sebuah kongres yang dihadiri Solidaritas Mahasiswa Semarang, Solidaritas Mahasiswa Yogyakarta, Ikatan Mahasiswa Solo, Solidaritas Mahasiswa Surabaya, Solidaritas Mahasiswa Jakarta, Solidaritas Mahasiswa Salatiga, dan Solidaritas Mahasiswa Manado.

Aku terpilih menjadi pengurus pusat sebagai ketua departemen pengembangan organisasi. Kemudian, awal tahun 1995, dalam Dewan Nasional SMID di Solo, aku terpilih menjadi sekretaris jenderal.

Setelah gerakan buruh di Semarang membesar, PPBI Semarang dan SMID cabang Semarang mengusulkan Aksi Aliansi Mahasiswa dan Buruh untuk merayakan May Day (Hari Buruh Internasional). Aksinya bersifat nasional, dengan menggerakkan seluruh cabang SMID.

Aku mewakili SMID bertemu Dita Indah Sari, Ketua Umum Pusat Perjuangan Buruh Indonesia. Diputuskanlah aksi 1 Mei di Jakarta, dengan mendatangi kantor Departemen Tenaga Kerja, serta di Semarang. Isu yang kami angkat, di antara hal lain, adalah upah minimum nasional Rp7.000 per hari.

Kami berpendapat bahwa perlawanan kaum buruh adalah pondasi yang paling mungkin untuk diraih dan diorganisir dalam perjuangan demokratik. Jumlah massa yang semakin besar, kesetiaan perlawanan, dan makna strategisnya bagi perekonomian kapitalisme Orde Baru, akan membuat kaum buruh mampu menjadi benteng demokrasi di masa kini dan masa depan. Salah satu kelompok di luar PPBI yang melakukan perlawanan adalah Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI). Muchtar Pakpahan, Ketua SBSI, bahkan dipenjara.

Dalam persiapan aksi May Day di Semarang, aku telah membuat surat instruksi kepada semua cabang untuk melakukan mobilisasi nasional. Anggota SMID cabang harus dimobilisasi ke Semarang, satu hari menjelang aksi.

Rapat Persiapan Aksi
Aku dijemput seorang kurir dan menuju rumah Radjimo S. Wijono, mahasiswa jurusan sejarah Universitas Diponegoro, angkatan 1993. Kami langsung ke lantai dua di sebuah ruangan seluas sekitar 5 x 5 meter persegi.

Di rumah Momok, sapaan Radjimo, sudah ada Bimo Petrus dan Sardiyoko dari SMID Surabaya. Ada juga kawan-kawan dari SMID Semarang: Aan Rusdianto, Ari Trismana, Dody Ardiansyah, Fransica Ria Susanti, Nurul Qoiriyah, Rivani Noer, Sulaiman Akbar, dan Wirayanti. SMID Solo diwakili Prijo Warsono dan Sindu. SMID Yogyakarta mengutus Afandi, Jayadi, Nezar Patria, dan Samsul Prihatmo. Garda Sembiring dan Ardian Fadilah mewakili Jakarta. Para organiser buruh yang datang antara lain Ignatius Pranowo, Hari Sutanta, Indah Tri Arifah, dan Yahya Gunawan.

Sekitar pukul dua siang, kami mulai rapat. Para organiser buruh di Semarang melaporkan kondisi massa yang dimobilisasi dan cara membawanya ke kampus Undip. Dari laporan ke pengurus pusat SMID dan PPBI, pengorganisasian buruh sudah disiapkan tiga bulan sebelumnya.

Ada dua kawasan industri yang digarap: kawasan Mangkang dan Semarang Barat (dari pabrik Jamu Jago sampai ke Ungaran). Di Mangkang ada beberapa pabrik: PT Wira Petra Plastindo, PT Murti Plastindo, PT Surya Indah Garmindo, PT Kreasi Plastik Utama, dan satu pabrik roti. Organisernya Irmadi, Boy, Oscar, dibantu Indah Tri Arifah dan Yahya Gunawan.

Di Semarang Barat: PT Queen Ceramic Setiabudi, sebuah pabrik plastik di seberang Markas Kodam VII/Diponegoro (kini berganti Kodam IV), dan perkampungan buruh di sekitar Markas Brimob Semarang. Organisernya Ignatius Pranowo, Rivani Noer, Hari Sutanta, Bambang, dan Jemek.

“Kami kekurangan kurir yang akan mendampingi buruh menuju kampus. Kendala lain tidak semua buruh memahami tempat start awal di Fakultas Sastra Undip. Agar tak tersesat, sebaiknya ada beberapa titik kumpul yang mudah dikenali buruh. Mereka akan menunggu di titik tersebut untuk bergabung dengan barisan massa yang akan melewati mereka,” ujar Ignatius Pranowo alias Wowok.

Forum rapat menunjuk Ari Trismana bertugas di titik kumpul di Jalan Airlangga. Aan Rusdianto ditunjuk menjadi kurir di titik Matahari Mall di Simpang Lima, jantung Kota Semarang.

Aku menjelaskan bahwa aparat akan melakukan kekerasan untuk menghentikan aksi karena kita berani mengambil tema peringatan hari buruh sedunia. Belum pernah sekalipun hari buruh sedunia diperingati sejak Soeharto berkuasa.

Rezim Orde Baru mengharamkan peringatan 1 Mei dan selalu berpropaganda bahwa Hari Buruh 1 Mei "berbau komunis." Gantinya, Presiden Soeharto menetapkan 20 Februari sebagai Hari Pekerja Nasional sejak 1973, merujuk pada hari lahir Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), wadah tunggal bagi organisasi buruh di masa Orde Baru—sebagaimana pemerintah Soeharto membuat saluran tunggal lain pada banyak organisasi politik dan profesi.

“Selain akan dituduh komunis, aksi reli ini akan mengundang sikap represif aparat,” ujarku.

Kami memutuskan bahwa Lukman Hakim, pengurus pusat PPBI, dan Aan Rusdianto harus siap menghadapi hal paling buruk. Bila ada peserta aksi yang tertangkap, demi perlindungan, mereka harus mengatakan penanggung jawab utama aksi adalah Sekjen SMID. Kartu identitas harus ditinggal, dan harus memakai nama palsu.

Perangkat keamanan akan dikoordinasi oleh Sulaiman Akbar, dibantu kurir dalam dan kurir luar. Yang harus selamat untuk nantinya melanjutkan kepemimpinan SMID di Jakarta adalah Nurul Qoiriyah (Ketua SMID Semarang) dan Andi Arief (Ketua SMID Yogyakarta).

Nezar Patria dan Wirayanti bertugas membuat catatan kronologi peristiwa bila aksi berujung kekerasan, untuk disampaikan ke sejumlah pihak termasuk ke kantor redaksi media massa. Mereka tidak boleh bergabung dalam barisan massa.

Fransisca Ria Susanti dan Rivani Noer juga harus di luar barisan massa, dengan tugas utama membagi rilis kepada awak media.

Peringatan: 1 Mei 1995
Senin pagi, 1 Mei 1995, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro terlihat ramai oleh para mahasiswa. Sudah hampir setahun kampus ini kutinggal ke Jakarta sejak aku ditunjuk sebagai Sekjen SMID.

“Bung, lebih dari seratus buruh baru saja masuk ke kampus Sastra. Aku dan Rivani yang membawanya keluar dari pabrik,” ujar Gombloh, panggilan akrab Hari Sutanta. Teman kuliah satu angkatan pun menceritakan bahwa sejak pagi tentara sudah berjaga di depan pabrik.

“Rivani berhasil mengeluarkan seratus lebih buruh untuk ikut aksi, walau diadang dan direpresi militer. Sayangnya, yang diadang dan dicegah untuk aksi juga banyak,” ujarnya.

Ignatius Pranowo alias Wowok mengatakan sejak pagi para organiser sudah memobilisasi buruh di pabrik untuk mengikuti aksi hari ini. Beberapa di antaranya sudah tiba di Jalan Airlangga Timur dan di Jalan Ahmad Yani, dekat Simpang Lima.

Tepat pukul 10.00, Sardiyoko dari SMID Surabaya sebagai komando lapangan berseru agar para mahasiswa dan buruh segera merapat dan bersiap diri. Ia naik ke sebuah panggung dan mulai membakar semangat peserta aksi lewat pelantang suara.

Di barisan depan terbentang sejumlah spanduk dan poster. Isinya seruan: Peringatan Hari Buruh Se-dunia. Upah Minimum Nasional 7000 Sekarang Juga! Bebaskan Buruh Berorganisasi. SPSI No Way. Kami Emoh SPSI. Buruh Terisap, Rakyat Melarat. Stop Intervensi Militer dalam Kasus Perburuhan. Cabut 5 UU Politik.

Setelah keluar dari Fakultas Sastra, kami berbelok melewati Universitas Semarang menuju Jalan Airlangga Timur, yang sudah dipadati puluhan buruh. Dari sana kami menuju Jalan Ahmad Yani. Tepat di dekat Matahari Mall, Simpang Lima Semarang, kami pun berhenti dan melakukan orasi. Ratusan buruh kemudian bergabung.

“Buruh dan mahasiswa harus berjuang bersama. Bila bersatu, semakin mudah kita merebut demokrasi,” ujarku saat berorasi.

Pelantang suara lalu kuserahkan ke Bimo Petrus dan Lukman Hakim; keduanya bertugas menjadi dinamisator lapangan.

Dalam skenario aksi, 30 menit dipakai untuk orasi di Simpang Lima. Namun, tiba-tiba, barisan belakang sudah berteriak-teriak meminta agar kami segera reli.

Sulaiman Akbar sibuk mengoordinasi perangkat keamanan agar menghalau pihak di luar peserta aksi, yang berusaha merangsek ke barisan. Barisan massa sudah dibatasi dengan tali rafia.

Ketika massa bergerak, sepanjang sisi kanan barisan banyak pedagang bergerobak mengikuti kami. Jalanan lebih sepi dari biasanya. Barisan aksi tetap berjalan, meski polisi memerintahkan massa agar berhenti melalui pengeras suara.

Ketika kami memasuki Jalan Pahlawan, terlihat polisi sudah mengadang di Bundaran Air Mancur—terletak di persimpangan Jalan Pahlawan dan Jalan Imam Barjo serta Jalan Menteri Supeno.

Ada yang mengendarai motor trail, ada yang membawa pentungan. Kapoltabes Semarang saat itu, Adang Rismanto, dan Komandan Kodim 0733/Semarang saat itu, Letkol Putu Satra, memimpin anak buahnya untuk menghadang barisan massa.

Kekerasan

Sulaiman Akbar dan Prijo Warsono bertanya, “Apakah tetap jalan?” Aku jawab: “Tetap sesuai skenario, walau harus berhadapan dengan aparat.”

Rubaidah, organister tani, dan aku melakukan negosiasi dengan polisi. Sardiyoko dan para dinamisator aksi menggelar mimbar bebas, tepat di sebelah Bundaran Air Mancur, sekitar 200 meter dari kantor DPRD Jawa Tengah.

“Sebaiknya kami diberi jalan untuk lewat. Kami hanya mau menyampaikan aspirasi kepada anggota DPRD I Jateng. Setelah itu kami akan bubar,” ujarku.

Aparat keamanan bersikeras agar kami bubar saat itu. Terdengar suara Letda Imam Saputra, perwira polisi dari Poltabes Semarang melalui pengeras suara di mobil patroli, meminta kami segera membubarkan barisan.

Tiba-tiba pedagang bergerobak, yang sejak dari Simpang Lima mengikuti kami, mendorong massa paling belakang dan merebut beberapa poster. Mereka juga berusaha menarik massa keluar dari barisan. Suasana menjadi kacau. Kami terdesak ke trotoar, ke seberang Bundaran Air Mancur.

Sardiyoko berusaha menenangkan massa. Samsul Prihatmo, David Kris, Heru, dan beberapa mahasiswa lain membuat pagar hidup dengan cara bergandengan tangan agar massa tetap solid.

Di suatu tempat terdengar raungan motor trail. Dua di antaranya ditabrakkan kepada massa paling depan. Kawan-kawan kami terpental dan roboh ke jalan beraspal.

Mengabaikan kecaman kami, aparat berseragam dan berpakaian preman merangsek ke barisan massa. Dengan tongkat, mereka menghajar secara membabibuta; merebut spanduk dan poster. Terdengar tangisan dan jeritan.

Sardiyoko, yang berusaha menenangkan massa, dipukul hingga roboh kemudian ditangkap.

Bagian belakang kepala Anom Astika, ketua departemen agitasi dan propaganda SMID, terkena pukulan, tapi ia berhasil lolos dari penangkapan polisi.

Fransisca Ria Susanti, yang berada di luar barisan, berteriak histeris ketika menyaksikan polisi menginjak-injak kepala Ardian Fadilah alias Ardi. Kamera yang dibawa Ardi jatuh. Lensa lepas dari bodi kamera. Dalam keadaan pingsan, tubuh Ardi diseret lalu dinaikkan ke truk.

Ari Trismana, mahasiswa bertubuh kerempeng dan berkacamata, menendang motor trail yang mencoba menabrak barisan massa dari sisi trotoar. Tak lama ia diringkus dan diseret ke truk polisi.

Peristiwa kekerasan itu secepat kilat. Aku menyaksikan sekilas lalu aku terjatuh dan terkapar di jalan. Seorang aparat mendorong tubuhku. Belum sempat bangkit, sudah ada dua orang yang memegang kedua tanganku. Ketika berdiri, sebuah pukulan keras menghantam rahang kiriku. Aku diseret ke mobil Daihatsu Hijet, lalu diseret ke bagian depan mobil itu. Ternyata di situ sudah ada Kapoltabe Semarang Adang Rismanto.

“Kalian ini komunis. Kalian memperingati hari kemenangan komunis,” bentaknya dengan murka.

Aku berkata balik bahwa anak buahnya biadab, bertindak brutal, menabrak massa seenaknya dengan motor trail.

"Kami tidak terima,” ujarku, geram. “Kami akan membawa kasus ini ke Komnas HAM. Kami juga akan mengampanyekan kekerasan yang kalian lakukan ke dunia internasional.”

Adang Rismanto, dengan muka marah, meninggalkan aku sendirian di mobil. Lantas ia memimpin kembali operasi kekerasan yang dilancarkan anak buahnya.

Aku sempat melihat detik-detik terakhir kawan-kawan bertahan. Teriakan dan tangisan memilukan. Pukulan tongkat bertubi-tubi. Kawan-kawan yang menyelamatkan nyawa menuju kampus utama Undip.

Aku melihat Nia Damayanti berlari kencang mengejar mobil bak terbuka. Dari kejauhan, aku melihat Nia bersama David Kris, Heru, dan Icha—semuanya anggota SMID cabang Surabaya—akhirnya berhasil menumpang mobil itu, meninggalkan kejaran aparat.

Interogasi
Aku tiba paling awal di Kantor Poltabes Semarang. Kantor ini terletak di seberang Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi. Dalam perjalanan, aku terus mengomel. Salah satu polisi berpakaian preman dan berambut gondrong membentakku.

“Aku bukan polisi yang berurusan dengan aksi mahasiswa. Aku bagian kriminal. Kalau kamu tidak diam, aku tusuk kamu! Aku tidak ada urusan dengan politik,” ancamnya.

Sejak awal interogasi, aku berkata bahwa aku yang bertanggungjawab atas aksi 1 Mei 1995.

“Silakan saya dijadikan tersangka. Lepaskan buruh yang tertangkap,” ujarku kepada dua polisi yang memeriksaku.

Proses berita acara pemeriksaan berjalan cepat karena aku lancar menjawab. Beda dari setahun lalu ketika aku tertangkap dan harus memakai nama palsu, harus berbohong. Kini, setelah Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi menyatakan diri sebagai organisasi yang terbuka dan terang-terangan melawan Soeharto, pengurus pusat harus berani pasang badan.

Saat interogasi, aku mendengar kamar sebelah gaduh. Ada suara bentakan saat Lukman Hakim tak bisa menghafalkan Pancasila. Mungkin penyidik menghajarnya.

Ketika interogasi dihentikan, Nurul Qoiriyah dan Aan Rusdianto serta pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum Semarang datang. Mereka ingin memastikan kami dalam keadaan baik.

“Kenapa kamu ke sini? Kamu menyalahi keputusan rapat. Kamu harus bersembunyi. Bila terjadi sesuatu dengan pengurus pusat, kamu yang harus menggantikan kepemimpinan kami,” ujarku dengan nada marah kepada Nurul.

Nurul menjelaskan, karena tidak ada orang, ia dan Aan terpaksa mendatangi kami di kantor Poltabes Semarang.

“LBH Semarang hanya mau datang kemari bila ada pengurus SMID Semarang yang mendampingi mereka,” ujarnya dengan tersenyum.

Setelah Nurul pergi, aku melihat Lukman Hakim berlari menuju parkiran mobil. Ia segera masuk ke mobil operasional LBH Semarang, langsung keluar areal kantor kepolisian. Mungkin, saat itu, tak ada polisi yang berjaga di ruang pemeriksaannya.

Sore hari kami dikumpulkan di aula. Ada 15 orang yang tertangkap. Afandi, Ardian Fadilah, Ari Trismana, Bimo Petrus, Garda Sembiring, Fanani (mahasiswa Sastra Undip), Rivani Noer, Sardiyoko, dan beberapa kawan buruh.

“Mengapa kamu bisa tertangkap?” ujarku kepada Rivani.

“Memang seharusnya aku tidak boleh tertangkap. Tetapi Santi (Fransisca Ria Susanti) menjerit histeris sambil memegang tanganku. Padahal setingnya kita berdua tidak saling kenal,” ucapnya dengan tawa.

“Tapi tenang, mereka tetap susah mengetahui identitasku. Sepanjang jalan menuju ke sini, aku berhasil melukai sidik jariku. Walau mereka mengambil sidik jariku, pasti kabur dan tidak akurat,” ujar Rivani.

Ardian Fadilah bercerita ketika siuman sudah dalam truk. “Karena aku mengaku wartawan foto dan kebetulan aku membawa kartu nama seorang fotografer sebuah majalah, kamera yang mereka ambil dikembalikan. Itu kameranya Santi. Bagaimana aku harus mengatakannya nanti? Kameranya rusak, dan ketika terjatuh terlihat berantakan.” Muka Ardi terlihat biru, bekas dihajar aparat.

Ari Trismana, setiba di kantor kepolisian, langsung dimasukkan ke sel bercampur tahanan kriminal. “Aku sempat diperas untuk beli makan siang. Untungnya, satu jam berikutnya Bimo Petrus ikut nyusul. Ketakutanku berkurang. Mungkin karena aku menendang motor trail, ya?”

Saat itu kami belum melihat Garda Sembiring. Kata kawan-kawan, Garda bertengkar dengan penyidik sejak pertanyaan pertama saat interogasi.

Dibebaskan
Sehari kemudian, 2 Mei 1995, kami dibebaskan pada sore hari. Aku menuju Kampus Undip, tepatnya di Rumah Joglo, pusat kegiatan mahasiswa. Di sanalah letak markas Resimen Mahasiswa Undip, sekretariat mahasiswa pencinta alam (Wapeala), dan kantor lembaga pers mahasiswa Manunggal.

Di sana sudah ada Aan Rusdianto dan beberapa anggota Forum Komunikasi Lembaga Kemahasiswaan (FKLK), antara lain Asmono Wikan, Ikwan, dan Iswardani. Saat kami ditangkap, mereka melakukan advokasi dengan mendatangi DPRD I, bertemu dengan E. Susilo, Sekretaris Komisi E Bidang Kesra.

Mendadak muncul Nur Hidayat, Ketua Senat Mahasiwa (Sema) Undip. Dengan suara tinggi, ia memarahi anggota Forum.

“Sema Undip tidak mengakui FKLK. Jangan bawa nama kelembagaan mahasiswa Undip. Hanya ada Sema Undip sebagai institusi resmi di sini. Sema menolak kampus dijadikan tempat aksi SMID dan buruh,” kecamnya.

Sikap Sema sudah dapat kami duga. Forum Komunikasi Lembaga Kemahasiswaan baru terbentuk kemarin karena institusi kampus memang mandul. Itulah keberhasilan rezim Soeharto menerapkan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Kampus dilarang berpolitik secara kritis. Lembaga mahasiswa dibatasi hanya untuk menyalurkan minat dan bakat.

Sore itu juga aku baru mendengar ada penangkapan saat peringatan Hari Buruh Sedunia di Jakarta, yang dipimpin oleh Dita Indah Sari, Ketua Umum Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI). Dita dan beberapa aktivis PPBI ditangkap setelah mendatangi Kantor Departemen Tenaga Kerja.

Sudah ada sekitar 60 buruh PPBI mendatangi Kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Baharudin Lopa, anggota Komnas HAM (1993-1998), menerima tuntutan kawan-kawan agar aktivis SMID dan PPBI, baik yang di Jakarta dan Semarang, segera dibebaskan.

Mereka juga mengadukan telah terjadi pelanggaran HAM dalam aksi di Semarang. Selain ditangkap, beberapa massa buruh dan mahasiswa terluka karena ditabrak motor trail, dipukul dan dihajar dengan pentungan. Beberapa di antaranya harus dirawat di Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah, Semarang.

Epilog: Kejatuhan Soeharto
Aksi Buruh 1 Mei 1995 yang dilawan dengan kekerasan oleh aparat menunjukkan wajah asli Orde Baru. Politik kekerasan menjadi senjata utama pemerintahan Soeharto mempertahankan kekuasaannya, yang dilandasi pembantaian massal 1965-1966.

Mesin Orde Baru dibikin sangat represif terhadap gerakan buruh. Buruh dilarang membangun organisasinya sendiri. Hukum melarang pendirian serikat buruh. Hanya ada satu serikat buruh yang boleh berdiri, yakni Serikat Pekerja Seluruh Indonesia. Di luar itu, gerakan buruh dibonsai.

Buruh yang berani melawan sistem terpusat mesin Orde Baru akan menghadapi militer sejak di tingkat pabrik. Aparat militer dan paramiliter tak segan memenjarakan pimpinan serikat buruh yang dianggap ilegal dan berani melawan, seperti terjadi pada Muchtar Pakpahan karena mendirikan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia. Bahkan, tentara-tentara Orde Baru telah membunuh salah satu aktivis buruh perempuan yang pemberani seperti Marsinah pada 1993.

Tahun-tahun berikutnya menjelang kerontokan pemerintahan Soeharto, gerakan buruh sudah tidak dapat dibendung. Kaum buruh menemukan kawan sejatinya—gerakan mahasiswa yang progresif. Bersama-sama, kedua elemen ini saling menumbuhkan kesadaran perlawanan. Bersama-sama, mereka membangun kemampuan teknik mogok, melancarkan aksi, dan menyusun tuntutan politik sejati.

Buntutnya adalah tiga tahun kemudian. Disaksikan dan dirayakan oleh lautan massa di seluruh negeri, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.

Moehammad Jasin (1920-2012), penggagas Brimob. Gramedia Pustaka Utama/"Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang"
Oleh: Iswara N Raditya - 3 Mei 2018
Biografi - “Pada dasarnya, saya berkeberatan untuk masuk pendidikan polisi. Namun, Abu Baeda berusaha membujuk saya dengan mengatakan bahwa kader polisi juga amat gagah seragamnya,” ungkap Moehammad Jasin mengenang asal-muasal kariernya di kepolisian yang bermula pada awal dekade 1940-an.

Abu Baeda yang dimaksud adalah kakak ipar Jasin. Dalam buku berjudul Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia (2010: 63), Jasin mengakui bahwa ia semula memang tidak tertarik masuk kepolisian pemerintah Hindia Belanda. Ia bercita-cita menjadi penerbang.

Maka, selulus sekolah menengah pada 1941, Jasin bermaksud mengikuti pelatihan penerbangan militer Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM) di Bandung. Namun, keinginannya itu tidak mendapat restu. Orangtua Jasin menganggap terbang dengan pesawat sama saja cari mati.

Untuk mengobati kekecewaan Jasin, kakak iparnya kemudian menghubungi Komisaris Polisi di Makassar dengan harapan bisa diterima sebagai anggota kepolisian. Dari situlah jejak langkah Jasin sebagai polisi bermula.

Justru di kepolisian inilah Jasin menunjukkan kecemerlangan dalam kariernya. Dari masa akhir pemerintah Hindia Belanda, berlanjut ke zaman pendudukan Jepang, hingga era kemerdekaan juga waktu-waktu setelahnya.

Hingga berpuluh-puluh tahun kemudian, tanggal 5 November 2015, Moehammad Jasin yang lahir di Baubau, Sulawesi Tenggara, pada 9 Juni 1920, mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Jasin adalah polisi pertama dalam sejarah Republik yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Sang Polisi Istimewa

Saat Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, Moehammad Jasin (ejaan baru: Muhammad Yasin) menjabat sebagai Komandan Tokubetsu Keisatsutai, kesatuan polisi yang dibentuk pada masa pendudukan Jepang, di Surabaya. Benedict Anderson dalam Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946 (2006) menyebutnya dengan istilah Special Police Force atau “Polisi Istimewa” (hlm. 141).

Kemerdekaan RI yang dikumandangkan di Jakarta langsung direspons Jasin dari Surabaya beberapa hari berselang. Tanggal 21 Agustus 1945, Jasin menyatakan bahwa Tokubetsu Keisatsutai beralih rupa menjadi Pasukan Polisi Republik Indonesia. Inilah cikal-bakal lahirnya Kepolisian Republik Indonesia.

Asvi Warman Adam dalam buku Menguak Misteri Sejarah (2010) menyebut pernyataan Jasin itu sebagai “proklamasi polisi Karesidenan Surabaya” yang mengakui bahwa mereka adalah “pegawai polisi Republik Indonesia yang berkewajiban menjunjung tinggi dan mempertahankan kedaulatan dan kehormatan negara Republik Indonesia” (hlm. 56).

Ketika terjadi rentetan perang di Surabaya melawan Sekutu yang dikenal dengan nama peristiwa 10 November 1945, Jasin memegang peranan penting. Soedarto, seorang petinggi militer yang turut terlibat dalam momen yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan itu, mengatakan bahwa tanpa peran Jasin dan pasukan polisi istimewanya, tidak akan ada pertempuran di Surabaya.

Kesan serupa juga diungkapkan oleh mantan Kapolri, Bambang Hendarso Danuri, dalam tulisan sambutannya di buku Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia (2010).

“Ketokohan Komjen Pol. (Purn.) DR. H Moehammad Jasin pada periode awal pasca-Proklamasi Kemerdekaan RI, dengan segenap anggota Tokubetsu Keisatsutai (Kesatuan Polisi Istimewa yang terorganisir rapi bersenjata lengkap, serta setia kepada perjuangan Indonesia), telah mampu mempelopori serta memberikan kesadaran akan kemampuan diri sendiri dan identitas bangsa [...] serta membangkitkan militansi pemuda-pemuda di Surabaya yang kemudian memantik pertempuran heroik sejak tanggal 28 Oktober hingga 28 November 1945 dengan titik puncaknya peristiwa 10 November 1945,” tulis Bambang.

Jasin memang bukan polisi sembarangan. Gelar Bapak Brigade Mobil (Brimob) tersemat pada namanya. Seperti diungkap dalam buku 44 Tahun Kepolisian Negara Republik Indonesia (1990), ia diakui sebagai pendiri Brimob yang diresmikan 14 November 1946. Saat itu, kesatuan tersebut masih bernama Mobile Brigade Polisi, disingkat Mobbrig (hlm. 48).

Pasukan Mobile Brigade Polisi yang dipimpin Jasin selanjutnya turut mengambil peran dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, termasuk ketika Belanda dua kali melancarkan agresi militer.

Suatu hari pada 1947, Jasin dan pasukannya sempat tertangkap Belanda dan dikurung di Penjara Kalisosok Surabaya. Mereka dibebaskan pada 1948, ditukar dengan sejumlah tentara Belanda yang ditawan pihak republik.

Menumpas Separatisme


Moehammad Jasin senantiasa hadir ketika ada pihak-pihak yang dituding melakukan separatisme setelah Indonesia merdeka. Ia dan laskar brigade mobilnya nyaris selalu turun tangan setiap kali ada upaya macam itu.

Sebelum Peristiwa Madiun 1948, misalnya, Jasin sudah memantau pergerakan kaum kiri. Menurut Pinardi dalam Peristiwa Coup Berdarah PKI September 1948 di Madiun (1967), kegiatan PKI di kota tersebut dinilai secara tepat oleh Jasin selaku Komandan Mobile Brigade Besar Jawa Timur saat itu (hlm. 133).

Usai itu, Jasin terlibat dalam penanggulangan Gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang bermaksud melakukan kudeta pada 23 Januari 1950. Ia memperoleh misi penting untuk menyelamatkan pemerintah dari bahaya APRA di bawah pimpinan Kapten Raymond Westerling.

“Untuk itu,” sebut Jasin dalam Jasin Sang Polisi Pejuang, “saya membentuk satu komando Operasi Mobile Brigade yang terdiri dari 25 kompi dan dikonsentrasikan di Jakarta. Saya duduk sebagai pimpinan komando. Operasi ini juga bertujuan untuk menunjukkan kekuatan demi kepentingan wibawa pemerintah sambil mengatasi bahaya APRA dan mitranya” (hlm. 167).

Setelah masalah APRA dapat diatasi, muncul gerakan separatis lainnya, yakni gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang dideklarasikan pada 7 Agustus 1949 di Jawa Barat.

Jasin kembali dipanggil untuk ambil bagian dalam menuntaskan urusan ini. Ia kemudian membentuk dan memimpin batalyon khusus berupa 10 kompi Brigade Mobil untuk menumpas DI/TII.

Dalam prosesnya, Jasin juga harus menangani misi serupa di Aceh. DI/TII rupanya sudah menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk di Serambi Mekkah yang dimotori Daud Beureueh.

Perjalanan ke markas DI/TII di Aceh menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi Jasin dan pasukannya. Dikutip dari Seri Buku Tempo tentang “Tokoh Islam di Awal Kemerdekaan: Daud Beureueh” (2016), rombongan Jasin beberapa kali dicegat ratusan pasukan DI/TII.

Jasin sempat terheran-heran karena laskar pemberontak itu memiliki persenjataan yang cukup canggih, termasuk bazooka, padahal, kata Jasin, “Saat itu TNI belum memiliki bazooka. Kita tidak punya uang untuk membelinya” (hlm. 26).

Dalam persoalan DI/TII di Aceh ini, Jasin melakukan pendekatan personal, bukan lewat penyerangan. Tiba di markas mereka, ia justru terlibat diskusi santai dengan Daud Beureueh sembari menyeruput kopi panas. Akhirnya, misi Jasin tuntas secara damai. Pada 9 Mei 1962, Daud Beureueh dan ribuan pengikutnya menyatakan kembali ke pangkuan NKRI.

Selain itu, dalam kurun waktu yang kurang lebih sama, Jasin juga dikirim ke Indonesia bagian timur untuk menuntaskan urusan terkait Republik Maluku Selatan (RMS) yang diproklamirkan pada 25 April 1950.

Karier polisi Jasin mulai meredup setelah terjadinya peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Ia memang amat mengagumi Sukarno, namun Jasin tidak pernah sejalan dengan orang-orang PKI. Situasi ini menjadi bumerang baginya. Jasin pun “dibuang” jauh ke Afrika sebagai Duta Besar Tanzania sejak 1967.

Jasin pulang ke tanah air ketika pemerintahan Sukarno telah berakhir, digantikan oleh Soeharto. Pada masa Orde Baru ini, Jasin aktif di pemerintahan dan sempat menjadi anggota MPR-RI periode 1972-1977.

Rezim demi rezim ia lalui. Dari masa Sukarno, kemudian zaman Orde Baru yang dikuasai Soeharto, selanjutnya era reformasi, bahkan hingga lumayan jauh setelah itu. Moehammad Jasin akhirnya menutup mata untuk selama-lamanya pada 3 Mei 2012, tepat hari ini enam tahun silam, dalam usia 92.

Biografi - Komnas HAM hari ini memutuskan peristiwa Simpang Kertas Kraft Aceh (KAA) yang terjadi 3 Mei 1999 sebagai pelanggaran HAM. Komnas HAM meminta Kejagung untuk mengusut kasus ini.

Tragedi Simpang KKA adalah sebuah peristiwa penembakan yang dilakukan pasukan militer saat warga Aceh tengah berdemo. Peristiwa ini terjadi di sebuah persimpangan jalan dekat pabrik PT Kertas Kraft Aceh di Kecamatan Dewantara, Aceh Utara.

19 Tahun berlalu, namun peristiwa Simpang KAA masih meninggalkan duka yang mendalam bagi warga Aceh Utara. Hampir setiap tahunnya warga Aceh Utara memperingati insiden itu dengan kenduri dan doa bersama. Mereka berharap ada keadilan dalam peristiwa berdarah itu.

Melihat sejarahnya diambil dari berbagai sumber, tragedi simpang KAA terjadi saat warga berdemo memprotes penganiayaan warga yang terjadi pada tanggal 30 April di Cot Murong, Lhokseumawe. Kala itu, Jumat 30 April 1999 malam hari, warga Desa Cot Murong mengadakan rapat besar untuk memperingati tahun baru Islam 1 Muharam. Rapat ini dianggap ceramah Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Bersamaan dengan rapat tersebut, muncul kabar seorang anggota TNI dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom yang berpangkat sersan hilang saat melakukan penyusupan di tengah kegiatan ceramah. Namun informasi itu belum jelas kebenarannya, dan malam itu tidak terjadi apa-apa di Desa Cot Murong.

Besoknya sebuah truk militer berputar-puter di sekitar Desa Cot Murong, kemudian mereka kembali ke markas. Minggu pagi pasukan Den Rudal 001/Pulo Rungkom datang ke Desa untuk mencari anggotanya yang hilang. Saat itu warga tengah melakukan persiapan kenduri untuk memperingati 1 Muharam.

Saat melakukan penyisiran ke rumah-rumah, sebanyak 20 warga dianiaya anggota TNI. Disebutkan juga pasukan militer itu mengancam akan menembak warga bila anggotanya tak ditemukan. Namun mereka tak berhasil menemukan anggotanya yang hilang. Kondisi semakin mencemaskan itu mendorong warga Desa Cot Murong berkumpul untuk membahas masalah ini. Warga desa kemudian mengirim utusan ke komandan TNI setempat untuk bernegosiasi. Komandan TNI berjanji aksi ini tidak akan terulang lagi dan TNI tidak akan datang lagi ke desa.

Tanggal 3 Mei 1999 pagi hari 4 truk pasukan TNI datang ke Desa Lancang Barat yang bersebelahan dengan Desa Cot Murong. TNI melanggar kesepakatan untuk tidak kembali datang ke desa. Warga berunjuk rasa di Simpang KKA, mereka memprotes penganiayaan yang dilakukan TNI. Aksi warga dibalas tembakan oleh aparat TNI satuan Detasmen Rudal 001/Lilawangsa dan Yonif 113/Jaya Sakti.

Selain melakukan tembakan ke arah masa, TNI juga mengarahkan tembakan ke rumah-rumah penduduk, sehingga banyak warga yang sedang di dalam rumah juga menjadi korban. Koalisi NGO HAM Aceh mencatat sedikitnya 46 warga sipil tewas, 156 mengalami luka tembak, dan 10 orang hilang dalam peristiwa itu. Tujuh dari korban tewas adalah anak-anak.

Sedangkan kesimpulan Tim Ad Hoc Komnas HAM menyebutkan dalam peristiwa itu telah terjadi kejahatan kemanusiaan yaitu:

a. Pembunuhan
Penduduk sipil yang menjadi korban pembunuhan sebagai akibat dari tindakan aparat TNI yang terjadi di Simpang KKA sekurang-kurangnya sebanyak 23 (dua puluh tiga) orang sebagai akibat penembakan.

b. Penganiayaan (Persekusi)
Penduduk sipil yang menjadi korban penganiayaan (persekusi) sebagai akibat tindakan yang dilakukan oleh aparat negara yang terjadi di Simpang KKA tercatat sekurang-kurangnya sebanyak 30 (tiga puluh) orang.

Komnas HAM merinci individu/komandan militer yang yang dapat dimintai pertanggungjawabannya yaitu:

A.1 Komandan pembuat kebijakan

a. TNI pada saat Peristiwa Simpang KKA 1999
b. Pangdam I/Bukit Barisan pada saat Peristiwa Simpang KKA 1999.

A.2. Komandan yang memiliki kemampuan kontrol secara efektif (duty of control) terhadap anak buahnya

a. Danrem 011 / Lilawangsa pada saat Peristiwa Simpang KKA 1999.
b. Dandim 0103/Aceh Utara pada Peristiwa Simpang KKA 1999.
c. Komandan Batalyon Infantri 113/JS pada saat Peristiwa Simpang KKA 1999
d. Komandan Detasemen Arhanud Rudal 001/Pulo Rungkom pada saat Peristiwa Simpang KKA 1999.
e. Danramil Dewantara Kodim 0103/Aceh Utara

B. Individu/Komandan/Anggota Kesatuan Yang Dapat Dimintai Pertanggungjawaban Sebagai Pelaku Lapangan

a. Anggota Detasemen Arhanud Rudal 001/Pulo Rungkom
b. Anggota Yonif 113/JS pada saat kejadian.
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget