Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

Biografi - Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mondar-mandir di Direktorat Polisi Satwa Mako Brimob, Rabu malam (9/5/2018). Begitu bertemu wartawan, ia dicecar banyak pertanyaan, dari kondisi terkini penyanderaan hingga hasil negosiasi.

“Kami belum bisa cerita itu, masih rahasia,” katanya menjawab pertanyaan salah seorang wartawan soal negosiasi.

Malam itu ia mungkin polisi paling sibuk di Indonesia. Hampir tiap menit ia harus meladeni pertanyaan wartawan. Dalam semalam, ia pun sudah menggelar dua kali konferensi pers. Matanya sudah sedikit merah. Makin malam, suaranya makin pelan. Mungkin sudah kelelahan.

Saya hadir dalam konferensi pers terakhir Setyo. Saat itu ia baru saja tiba dari gedung terdekat dengan blok rumah tahanan tempat para narapidana dan terdakwa terorisme melakukan penyanderaan. Ia datang dengan informasi baru: Brigadir Iwan Sarjana, sandera terakhir, sudah berhasil dibebaskan.

“Brigadir Iwan mengalami luka-luka lebam di muka dan di tubuhnya, sejam lalu sudah berhasil dibawa keluar,” ujar Setyo.

Jika sandera sudah habis, mengapa polisi tidak segera bertindak? Apakah adakah sandera lain? Pertanyaan itu tidak dijawab Setyo.

Kronologi Tak Sinkron
 
Sejak awal, polisi memang irit komentar tentang kasus kerusuhan di Mako Brimob. Setelah informasi bocor dan menyebar, polisi barulah buru-buru membenarkan. Sekali berkomentar pun muncul banyak versi.

Simpang siur pertama adalah waktu kejadian. Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, kericuhan ini bermula seusai magrib. Saat itu salah seorang terdakwa kasus terorisme menemui sipir untuk menanyakan titipan makanan. Sialnya, petugas jaga sudah ganti. Titipan makanan itu disimpan oleh petugas jaga sebelumnya.

Tak terima dengan alasan itu, si terdakwa lantas mengamuk dan mengajak teman-temannya membuat kerusuhan di Blok C. Terdakwa itu belakangan diketahui bernama Wawan Kurniawan alias Abu Afif, pimpinan Jamaah Ansharut Daulah Pekanbaru, Riau.

Keterangan Argo Yuwono ini berbeda dari keterangan Wakapolri Komjen Syafruddin. Versi Syafruddin, kerusuhan sudah terjadi sejak pukul 5 sore. Soal penyebabnya, Syafruddin tak menjelaskan. Namun, Kepala Biro Penerangan Mabes Polri, Brigjen Mohamad Iqbal, menjelaskan penyebab kerusuhan sama dengan omongan Argo.

Waktu kerusuhan versi Syafruddin tidak masuk akal. Sebab hari itu, Wawan tengah mengikuti persidangan di Jakarta Barat hingga sore. Pengacara Wawan, Asludin Hatjani, mengatakan masih bersama Wawan sampai pukul 4 sore.

Sebelum mulai persidangan, Wawan sempat mengeluh pada Asludin bahwa makanan titipan dari istrinya tak boleh masuk ke sel. Persoalan ini sudah terjadi beberapa kali, tetapi Wawan baru bercerita kepada Asludin hari itu.

Kerusuhan itu, kata Argo, melibatkan satu Blok C yang berjumlah 34 penghuni. Para tahanan di Blok C lantas memprovokasi Blok B lalu merusak ruang penjaga dan penyidikan. Di sanalah empat polisi dihajar dan mendapat luka-luka lebam. Keempatnya berhasil kabur.

Waktu kerusuhan itu menurut versi Syafruddin terjadi pukul 19.30. Namun, versi lain ada yang menyebutkan kerusuhan baru dimulai pukul 22.00. Waktu mulai kerusuhan ini penting karena terkait penyanderaan enam polisi yang berakhir tragis.

Polisi tak memberikan keterangan apa pun setelah itu, sampai akhirnya pada Kamis dini hari, Brigjen M. Iqbal mengumumkan kerusuhan itu hanya membuat beberapa polisi terluka.

"Ada beberapa korban luka. Baik dari petugas, tapi lukanya tidak serius. Tetapi saat ini, saat ini, tepat pukul 01.00 dini hari, tidak ada yang meninggal dunia," kata Iqbal.

Dalam keterangan pers, Iqbal tak menyinggung enam polisi yang disandera para teroris di dalam. Ini cukup aneh. Sebab, malam itu, kantor berita ISIS Amaq sudah mengklaim aksi teror di Rutan Mako Brimob adalah bagian dari mereka dan sudah menewaskan lima polisi. Kabar itu justru dibantah oleh polisi.

Pada waktu hampir bersamaan, polisi sudah menseterilkan area di sekitar Mako Brimob. Para jurnalis yang meliput dijauhkan dari Mako. Mereka bahkan sudah membentangkan pagar berduri. Penjagaan di sekitar Mako makin ketat. Sejumlah polisi sudah berjaga di setiap jalan yang masuk dan keluar Mako Brimob.

Polisi baru memberi pernyataan resmi tentang kematian 6 orang dalam insiden tersebut pada pukul 16.20. Dari jumlah itu 5 orang adalah polisi, 1 orang teroris. Mereka adalah Bripda Wahyu Catur Pamungkas (Idensos), Bripda Syukron Fadhli (Idensos), Ipda Rospuji (Penyidikan), Bripka Denny (Penyidikan), Briptu Fandi (Penyidikan), dan teroris Benny Syamsu Tresno.

Pernyataan itu jauh terlambat. Amaq sudah lebih dahulu merilis kematian para polisi pada Selasa malam, 8 Mei, bahkan mengunggah videonya. Sedangkan polisi baru merilis pada Rabu sore, 9 Mei. Terlambatnya polisi merilis informasi itu menunjukkan polisi menyembunyikan sesuatu dari publik.

Munculnya video ini tentu menimbulkan pertanyaan: Bagaimana bisa para narapidana dan terdakwa itu memiliki ponsel untuk berkomunikasi dengan pihak luar?

Negosiasi Lunak dengan Teroris
Polisi baru bisa membawa keluar jasad korban meninggal sekitar pukul 10 pagi Rabu (9/5). Semua jasad itu tiba satu jam kemudian di Rumah Sakit Kramat Jati untuk visum. Setelahnya, polisi baru memberikan keterangan pers soal jumlah korban pada petang harinya.

Hilangnya nyawa enam orang itu tidak lantas membuat eskalasi menurun. Para teroris justru makin beringas. Pada pukul 22.00, polisi mengabarkan para teroris sudah berhasil menguasai tiga blok, yakni Blok A, B dan C. Polisi pun makin mengetatkan keamanan.

Malam itu semua akses jalan ke Mako Brimob ditutup. Tidak ada yang boleh masuk tanpa rekomendasi dari dalam Mako. Saya sempat diadang polisi ketika menuju ke arah Mako Brimob. Mereka sudah lengkap memegang senjata api dan mengenakan rompi anti peluru serta helm. Meski sudah menjelaskan bahwa saya adalah jurnalis, saya tidak diperbolehkan masuk, kecuali dengan satu syarat: shifting dengan jurnalis di dalam Mako.

Untuk masuk ke Mako pun tidak mudah. Para jurnalis harus menunjukkan kartu pers dan mencocokkannya dengan data KTP, setelah itu difoto dengan tangan memperlihatkan KTP dan kartu pers. Di dalam pun jurnalis tak bisa bergerak dengan leluasa. Semua informasi hanya bisa didapat dari satu sumber kepolisian.

Jarak lokasi pusat informasi, tempat jurnalis menunggu, tidak terlalu jauh dari Blok A, B dan C. Lokasi penyanderaan itu ada di sebelah kanan Direktorat Polisi Satwa yang gedungnya menjadi tempat pusat informasi. Jika Anda hendak ke blok tersebut, Anda harus berjalan melewati deretan asrama Brimob, sebuah lapangan serba guna, dan barulah terlihat gedung tempat para teroris bersembunyi.

Saat saya sampai di sana, polisi tengah melakukan negosiasi. Cukup mengesankan, para negosiator berhasil meyakinkan teroris untuk melepas sandera hidup, Brigade Iwan Sarjana. Sebagai gantinya, teroris meminta makanan. Pukul 00.00, Iwan pun dibebaskan.

Setyo enggan mendetailkan permintaan lain dari para teroris. Bahkan untuk jumlah porsi dan menu makan untuk para teroris itu, Setyo tidak bisa memberitahukan. “Mereka minta dukungan makanan. Kami bujuk untuk mau bebaskan dulu,” katanya.

Pilihan polisi memilih jalan negosiasi ini patut diapresiasi. Meski demikian, pilihan ini cukup aneh jika melihat rekam jejak kepolisian. Selama ini polisi terkenal garang jika berhadapan dengan kelompok yang dianggap mengganggu. Misalnya, dalam kasus pengamanan sengketa lahan di desa Patiala Bawa, Sumba Barat, pada 25 April 2018. Di sana Brimob justru garang. Bahkan tak segan menembak warga. Poro Duka, seorang warga dalam kasus konflik agraria itu, mati dengan luka tembak di dada.

Sikap itu tidak ditunjukkan polisi terhadap para teroris di Mako Brimob. Alih-alih bertindak tegas, polisi bernegosiasi meski sandera sudah bebas semua. Polisi bahkan memfasilitasi para teroris untuk pindah ke Nusakambangan.

Kamis pagi, sekitar pukul 4, dua buah bus dan 5 truk berisi pasukan polisi terlihat memasuki Mako Brimob. Bus itu yang nantinya digunakan untuk memindahkan teroris ke Nusakambangan. Kedatangan dua bus itu kemudian disusul mobil berpelat RI 13. Tampaknya sejak malam itu sudah ada kesepakatan antara polisi dan para teroris.

Tembakan dan Ledakan Bom
Pemindahan ke Nusakambangan rupanya tak disepakati utuh oleh para teroris. Dari 155 teroris, 145 orang di antaranya sepakat menyerahkan diri dan pindah ke Nusakambangan. Sementara 10 sisanya bersikeras angkat senjata.

Sebanyak 145 teroris menyerahkan diri pada pukul 5 pagi. Mereka kemudian disiapkan untuk diangkut dalam bus. Pukul 07.20, tiba-tiba terdengar suara ledakan bom sebanyak empat kali, kemudian disusul suara rentetan tembakan.

Baku tembak tidak berlangsung lama. Kata Menkopolhukam Wiranto, sepuluh teroris turut menyerahkan diri setelahnya. Namun, sepuluh orang terakhir ini tidak masuk dalam kesepakatan pemindahan ke Nusakambangan.

Wakapolri Komjen Syafruddin menegaskan suara tembakan dan ledakan bom itu bukan dari baku tembak, melainkan proses sterilisasi oleh polisi. Karena saat itu polisi menemukan bom rakitan yang dibuat oleh para teroris.

“Di dalam ada banyak senjata. Tapi ledakan yang Anda dengar, tidak ada korban jiwa,” katanya.

Senjata yang dipegang oleh para teroris adalah senjata sitaan yang diambil oleh para teroris dari gudang barang bukti di sebelah Blok A. Menurut Wiranto, ada sekitar 30 senjata api yang diambil oleh para teroris.

“Bukan senjata organik dari kepolisian, tapi senjata sitaan dari aparat keamanan pada saat melaksanakan operasi lawan terorisme sebelumnya,” kata Wiranto.

Klarifikasi terakhir dari kepolisian datang dari Syafruddin. Ia mengkritik penggunaan nama Rutan Mako Brimob karena sebetulnya Rutan itu adalah Rutan cabang Salemba. Dirjen Pemasyarakatan Kemenkum HAM, Sri Puguh Budi Utami membenarkan hal itu. Namun untuk pengawasan Rutan tersebut sepenuhnya menjadi wewenang Brimob.(*)

“TUANKU, Gubernur Jenderal. Tuanku, dengan dalih yang dicari-cari sekurang-kurangnya dengan alasan-alasan provokasi yang dibuat-buat, kini sedang memaklumkan perang kepada Sultan Aceh dengan maksud hendak merampas kedaulatan tanah pusakanya. Tuanku, perbuatan ini bukan saja tidak tahu berterima kasih, tidak satria ataupun tidak jujur, melainkan juga tidak bijaksana.”

Inilah isi surat yang ditulis pujangga Multatuli. Ia merupakan nama pena dari tokoh Belanda ternama, Dowes Dakker. Surat itu ditulis saat Multatuli mendengar kasak-kusuk yang menyebutkan Kerajaan Belanda akan segera menyerang Kesultanan Aceh. Surat terbuka berjudul Brief aan den koning (Surat untuk Paduka Raja) itu dikirim Oktober 1872, beberapa bulan sebelum Hindia Belanda mengumumkan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873, 142 tahun yang lalu.

Sejarawan Aceh, Rusdi Sufi, menyebutkan, Surat untuk Paduka Raja ditulis Multatuli untuk mengingatkan raja Belanda agar tidak menyerang Aceh. Sebab, Multatuli khawatir Belanda akan kualat kalau tetap menyerang kesultanan yang berada di pintu masuk Selat Melaka itu. “Menyerang Aceh aka nada malapetakanya,” ujar Rusdi Sufi.


Surat peringatan Multatuli itu bukan tak beralasan. Menurut Rusdi, dosen sejarah Universitas Syiah Kuala, Kesultanan Aceh lah yang pertama menyatakan dukungan terhadap kedaulatan Belanda, saat negara Kincir Angin itu masih berperang melawan Spanyol selama 80 tahun dalam merebut kemerdekaannya.

Di tengah peperangan kemerdekaan itu, Sultan Aceh Darussalam Alaidin Riayatsyah, pada 1602 M, mengirim dua utusan bersama surat dukungan kepada Raja Belanda. Kedua utusan diplomatik Sultan Aceh itu adalah Abdul Hamid dan Amir Hasan.

“Mereka keduanya meninggal di Belanda. Abdul Hamid waktu itu sudah tua dan tidak tahan dengan musim dingin,” terang Rusdi Sufi lagi. Keduanya dimakamkan di sana.


Meski mendapat kritikan keras, Raja Belanda tetap gelap mata. Pada 26 Muharram 1290 H atau bertepatan 26 Maret 1873, di geladak kapal Citadel van Antwerpen, Wakil Presiden Hindia Belanda F.N Nieuwenhuijzen menyatakan perang terhadap Aceh. Saat itu, kapal Citadel van Antwerpen tengah berlayar di antara daratan Aceh dan Pulau Sabang.

“Ada beberapa sebab kenapa Belanda ingin memerangi Aceh,” sebut Rusdi, “di antaranya karena takut nantinya wilayah ini diambil oleh kolonial lain dan juga karena ini tempat yang paling staregis karena pintu masuk jalur laut.”

Memerangi Aceh, Belanda mengerahkan enam kapal perangnya. Selain Citaden van Antwerpen, ada pula kapal Coehoorm, Soerabaya, Sumatera, Marnix, dan Djambi. Belanda juga mengerahkan kapal Angkatan Laut Siak dan Bronbeek. Pada Senin, 16 April 1873, sebulan kemudian, Mayor Jenderal J.H.R Kohler mendarat bersama pasukannya di Pante Ceureumen, Ulee Lheue, Banda Aceh.


Bisik-bisik intelijen menyebutkan bahwa jantung pertahahan Aceh berada di Masjid Raya Baiturrahman. Jadilah, Kohler mengarahkan pasukan perangnya ke Baiturrahman. Naas, saat berada di depan Masjid yang terbuat dari kayu itu, di bawah sebatang pohon geulumpang, Kohler memekik keras.

“Oh, Tuhan… Aku terkena,” ia meringis sembari memegang dada. Ia tersungkur seketika.

Prajurit Belanda terbirit-birit melihat Sang Jenderal Kohler tewas bersimbah darah. Mereka mundur dan Hindia Belanda menuai kekalahan pertamanya.

“Aceh tidak takluk, tidak pada hari itu tidak pula setelahnya. Ini kisah perang yang panjang yang oleh orang Belanda disebut Aceh Oorlog atau Perang Aceh,” kisah Rusdi Sufi.

***

BERPERANG melawan Aceh, Belanda menuai kepedihan dan kehilangan yang tiada tara. Di Tanah Seulanga, mereka kehilangan empat jenderal dan lebih 2.200 serdadu. Para serdadu itu dimakamkan di sebuah perkuburan umum di kawasan Blang Padang, selatan Masjid Raya Baiturrahman. Kuburan ini dinamakan dengan Kerkhof Peutjoet. Inilah tempat peristirahatan terakhir serdadu Belanda yang meregang nyawa di tangan pejuang-pejuang Aceh.

Kerkhof Peutjoet pun menjadi saksi bahwa Belanda harus membayar mahal perang melawan Aceh.


Kerkhof, sering juga disebut Kuburan Belanda, terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda, tersembunyi di balik kemegahan gedung Museum Tsunami. Dari Jalan Teuku Umar, Kuburan Belanda bisa dilihat dari kejauhan. Kerkhof dikunjungi turis lokal, nasional, maupun mancanegara. Biasanya, usai melihat-lihat Museum Tsunami, para turis menyempatkan diri mengunjungi Kerkhof.

Memasuki Kerkhof, kita akan disambut tembok tinggi melengkung. Pintu gerbang itu dibangun pada 1893, yang terbuat dari batu bata. Di atasnya tertulis “Untuk sahabat kita yang gugur di medan perang. Ditulis dalam empat Bahasa: Belanda, Arab, Melayu, dan Jawa.

Gerbang ini dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada letnan satu J.J.P Weijerman yang tewas dalam pertempuran dekat Masjid Siem, Kroeng Kale pada 20 Oktober 1883.

Buku De hel den serie jilid 8 halaman 25 yang diterbitkan oleh Atjehsch Leger Museum (museum tentara Belanda di Aceh) tahun 1940 menuliskan, “Luitent Weijerman was de eerste officer die op peutjoet na de oprachting van de monumentele poor ter aarde werd besdteld (Letnan Weijerman adalah perwira pertama yang dikuburkan di Peutjeoet setelah Peutjoet dilengkapi dengan pintu gerbang kehormatan).”


Di sebelah kiri pintu gerbang terukir ”In memoriam Generaal – Majoor JHR Kohler, Gesneuveld, 14 April 1873”. Sementara itu di sisi kanan tertulis kalimat “In Memoriam Luitenant – Kolonel W.B. J.A Scheepens Overleden 17 October 1913”. Di bawah kalimat tersebut juga tertulis J.H.J Brendgen VRIEND VAN Aceh.

Menurut Amri, juru kunci Kerkhof, nama-nama yang tercetak di dinding gerbang adalah tentara yang tewas di pelbagai lokasi perperangan. Nama mereka diurut berdasarkan nama tepat tersebut. Ada Teunom, Lambesoi, Koewala, Sigli, Olee Karang, Samalanga, Kandang dan lainnya yang terjadi dari tahun 1873 sampai 1910.

Nama-nama itu tak melulu mereka yang berkebangsaan Belanda. Kita juga akan mudah menemukan nama-nama Ambon, Manado, Jawa, dan bangsa nusantara lainnya. Sebab, serdadu Belanda –selain menggunakan tentara Belanda—juga berasal dari kaum pribumi.

“Tidak semua di antara mereka berasal dari Belanda namun ada prajurit Marsose lainnya yang berasal dari Jawa, Ambon dan Manado yang dibawa kemari,” jelas Amri menunjuk relief yang ada.


“Nah kalau prajurit Belanda itu di nama belakangnya ada tanda EF/F Art. Kalau Ambon dengan tanda AMB, Manado ada tulisan MND sedangkan kalau dari Jawa identitasnya dengan If atau Inlander Fuselier,” ujar Amri.

***

KERKHOF berasal dari kata Belanda yang artinya kuburan ataupun halaman gereja. Sedangkan Peutjoet merupakan nama panggilan dari putra mahkota kesayangan Sultan Iskandar Muda yang makamnya sudah lama ada dalam kompleks itu.

Memang, di situ ikut dikuburkan putra mahkota Sultan Iskandar Muda yaitu Meurah Pupok atau Poe Cut. Meurah Pupok dipancung karena dinilai melanggar hukum Islam yang berlaku di Kerajaan Aceh Darussalam. Makam Meurah Pupok ada dalam pagar kecil di sisi kiri di bawah sebatang pohon besar. Kuburan itu berbeda dengan yang lainnya. Di tempat itu mempunyai motif  Batu Aceh pada tanda nisannya. Kuburan itu juga dipayungi oleh pohon tua yang lebat daunnya yang akarnya juga sudah menonjol keluar dari tanah.


“Poe Cut itu panggilan kesayangan dalam bahasa Aceh. Dia anak Sultan yang dihukum mati oleh ayahnya sendiri karena tuduhan berbuat tidak sesuai agama,” ungkap Rusdi Sufi. “Saat itu tidak ada yang berani menghukum karena dia adalah anak Sultan. Kemudian Iskandar Muda menghukumnya sendiri.”

Ketika itu banyak yang melarang Sultan karena Meurah Pupok merupakan anak laki-laki satu-satunya dan merupakan putra mahkota kerajaan. Sehingga Sultan mengatakan “Matee aneuk meupat jirat, matee adat pat tamita.”  Kata bijak itu diingat sampai sekarang.

Tanah Kerkhof ini sebelumnya merupakan milik Kerajaan Aceh Darussalam, jauh sebelum Belanda datang dan menyerang Aceh. “Jadi makam anak Sultan sudah ada di situ lama sekali dan Belanda sangat menghargai itu sehingga tidak dihancurkan,” kisah jebolan Universitas Leiden, Belanda ini. “Namun tidak ada yang tahu dua makam yang lain itu milik siapa karena arkeolog sendiri belum melakukan pengalian eskatasi untuk meneliti.”

Sebelum menjadi komplek kuburan, tanah ini merupakan kebun milik seorang Yahudi kaya bernama Bolchover, yang oleh orang Aceh karena kesulitan pengucapan lambat laun menjadi Blower. Ia juga dimakamkan di kawasan itu. “Banyak keturunan Yahudi yang mempunyai tanah di Aceh dahulu, seperti tanah Gedung Sosial itu, juga punya orang Yahudi,” ungkapnya Rusdi.

Komplek Kerkhof ini sudah ada sejak 1880. Namun setelah itu tempat ini kurang terawat. Tahun 1979, salah seorang bekas tentara KNEIL bernama J.H.J Brendgen melihat ini dan merasa prihatin karena tanpa pagar dan takut rusak. Merekapun mendirikan Stichting Peutjut Fonds sejak 29 Januari 1976. Letnan Jendral F. Van der Veen yang merupakan mantan perwira dari Korp Marchausse yang pernah bertugas di Aceh menjadi ketua yayasan yang pertama.

“Ini sebagai pengingat bahwa pernah terjadi perang besar dulu dan bukti kekuatan orang Aceh. Ada empat jenderal Belanda yang mati di sini. Sedangkan untuk perang Diponogoro saja, Belanda hanya mengutus prajurit berpangkat kapten,” sebut Rusdi Sufi yang juga merupakan perwakilan Yayasan Peutjut Fond di Aceh. “Aset ini menjadi penting, bersejarah. Kalau hilang, cuma jadi cerita saja, jadi cerita rakyat bak dongeng,” ujarnya.

Empat jenderal Belanda yang tewas di Aceh adalah Mayor Jenderal J.H.R Kohler, Mayor Jenderal J.L.J.H. Pel, Demmeni dan Jenderal J.J.K. De Moulin. Minus Kohler, tiga Jenderal itu dimakamkan di Kompleks Kerkhof Peutjoet. Ini menjadi “kebanggaan” bagi orang Belanda yang pernah bertugas di Aceh, yang mewasiatkan andaikata mati agar dimakamkan di Peutjoet, di tengah-tengah semua teman-temannya seperjuangan.

Jenderal Van Heutsz di masa Perang Aceh juga berpesan serupa. Ia ingin dimakamkan di Kerkhof jika meninggal saat bertugas di Aceh. Namun keinginannya tidak tercapai. Meski jasadnya penuh luka perang, ia tidak meninggal di sini. Para perwira yang mati muda bahkan menuliskan pesan “Zegaan mujn moeder dat lk mijin best hrb gedaan (Katakan kepada ibuku bahwa aku telah melakukan tugas dengan sebaik baiknya).

Kohler sendiri walaupun tewas di depan Masjid Raya Baiturrahman namun ia dikuburkan jauh di Batavia sana. Tahun 1978 atas permintaan keluarga dan pemerintah Belanda, ketika Tanah Abang, Jakarta, akan digusur untuk dibuat pusat perbelanjaan, tulang belulang sang jenderal dipindahkan.

Selain Peutjuet, dulu ada Tugu Serdadu Belanda, tempat pemakaman massal di Lampade dan Oedjong Peunajong Banda Aceh. Namun kini jejaknya sudah tak terbaca lagi.

Yayasan Peutjut hingga kini terus memberikan dana untuk perawatan dan pemugaran serta biaya lainnya dengan juga dibantu oleh Dinas Pariwisata. “Mereka masih terikat emosi dengan tempat ini, namun dana terus berkurang setiap tahunnya,” harap Rusdi Sufi.

***

SIANG itu Kompleks Dutch Cemetery terluas di luar Belanda masih dipenuhi pengunjung. Tak banyak memang, namun di antaranya terdapat para kameramen yang datang untuk membuat film dokumenter. Ada pula seorang turis asal Belanda bernama Mar Sarens. Rambut cokelat kemerah-merahannya pendek sebahu, kacamata hitam tersemat di dahinya. Dia datang dari Medan, Sumatera Utara.

“First time I see this feel pain (Ketika saya melihat ini pertama sekali sakit rasanya),”  kata Mar Sarens usai berkeliling. “Kemudian saya terkejut akan luasnya, terenyuh karena tempat ini masih ada dan sangat menarik because we remember with this way (karena kami bisa mengigat dengan cara ini).”

Perempuan itu berkisah bahwa sedikit sulit mendapatkan informasi tentang lokasi komplek ini namun ayahnya dulu pernah bercerita tentang perang Aceh, sehingga merasa terpanggil untuk mengunjunginya. Saat tahu masih banyak tempat lainnya yang berhubungan dengan negaranya “Lho kok saya nggak tahu ya?” katanya.

Sebelum bergegas pulang Mar Sarens memenuhi permintaan pengunjung lain yang meminta foto bersama. “Oh I love Aceh people,” katanya sambil berdiri dan membuat bermacam gaya bahkan meminta juga difoto dengan kameranya.

Tak lama kemudian datang Jasmine van Der land, ia berjalan bersama temannya dari Museum Tsunami karena orang-orang bilang ia harus kemari. Memakai baju batik kurung dengan rambut biru yang terkepang, ia terkejut melihat komplek ini.

“Banyak sekali ya,” katanya.

Ketika mengetahui bahwa ada lembaga yang dibentuk di Belanda untuk mendanai tempat ini, dia binggung dan kehilangan senyum.

“Untuk apa?” tanyanya. ”Oh, begitu ya itu hak mereka” tambahnya ketika kemudian mendapat penjelasan kalau itu dibiayai oleh sebagian keluarga tentara yang terkubur di situ.

“Kolonialisme bukanlah sesuatu yang perlu dibangga-banggakan setidaknya buat saya,” ujar Jasmine sebelum berlalu pergi. []

Sumber: acehkita.com

Saladin. ©2018 Wikipedia/Ismail al-Jazari
Biografi - Saladin terkenal sebagai sultan yang menyatukan dunia Muslim pada abad ke-12. Ia berhasil merebut kembali Yerusalem, yang memicu terjadinya Perang Salib Ketiga.

Dia kemudian meninggal setelah sebuah penyakit misterius menyerang tubuhnya. Para ahli kemudian menganalisis gejala-gejala penyakit Saladin berdasarkan data yang ditulis lebih dari 800 tahun yang lalu.

Seorang profesor kedokteran dari University of Pennsylvania's Perelman School of Medicine, Amerika Serikat, Stephen Gluckman mengungkapkan, tifus adalah penyakit yang membunuh Saladin.

"Diagnosis pasti mungkin tidak akan pernah diketahui karena Saladin hidup sebelum zaman alat diagnostik penyakit modern muncul. Tifus tampaknya sesuai perkiraan yang jadi penyebabnya. Penyakit ini masuk ke tubuh setelah seseorang menelan makanan atau air yang terkontaminasi dengan bakteri Salmonella typhi," kata Gluckman, dikutip dari Live Science, Minggu (6/5/2018).

Tifus yang dialami Saladin baru saja diumumkan pada 4 Mei 2018 dalam sesi Konferensi Klinopatologi Tahunan ke-25 di Fakultas Kedokteran Universitas Maryland.

Para ahli yang hadir dalam konferensi itu mendiagnosis kematian para tokoh sejarah dunia. Diagnosis kematian Lenin, Darwin, Eleanor Roosevelt, dan Lincoln pun dibahas pada konferensi tersebut.

Pemimpin Muslim terpenting

Saladin adalah sosok yang berperan penting dalam sejarah Eropa dan Timur Tengah. Seorang profesor sejarah abad pertengahan di Queen Mary University of London, Tom Asbridge mengungkapkan, Saladin termasuk salah satu pemimpin Muslim terpenting di era Perang Salib pada Abad Pertengahan.

Mantan Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser (1918-1970) bahkan terobsesi dengan Saladin. Saladin, lahir sekitar tahun 1137 atau 1138 di Tikrit--lokasi yang sekarang menjadi Irak. Ia berasal dari keluarga Kurdi sewaan (yang bekerja hanya demi uang).

Jejak perjuangannya terlihat saat Saladin dan pamannya, seorang pemimpin militer, melawan Kekhalifahan Mesir Fatimiyah, sebuah dinasti keagamaan yang memerintah dari tahun 909 hingga 1171.

Setelah pamannya meninggal pada tahun 1169, Saladin menggantikan kedudukan pamannya menjadi pemimpin militer. Pada waktu itu, Saladin berusia 31 atau 32 tahun. Menang dalam pertempuran, Saladin ditunjuk sebagai komandan pasukan Suriah di Mesir, menurut Encyclopedia Britannica.

Pada 1187, tentara Saladin berhasil menaklukkan kota suci Yerusalem dan mengusir kaum Frank, yang mengambil Yerusalem 88 tahun sebelumnya pada Perang Salib Pertama. Tindakannya ini menyebabkan Perang Salib Ketiga terjadi pada tahun 1189 sampai 1192.

Setahun kemudian (1193), Saladin mengalami demam tanpa diketahui penyakitnya. Ia hanya bertahan selama dua minggu melawan penyakit itu. Ia meninggal pada usia 55 atau 56 tahun.

Gluckman punya beberapa rincian untuk membuat diagnosis. Wabah atau cacar mungkin bukan penyebab Saladin meninggal. Ini penyakit itu membunuh orang dengan cepat. Bukan pula tuberkulosis (TBC) karena catatan tidak menyebutkan Saladin didera masalah pernapasan.

Gejala yang dialami Saladin cocok dengan gejala tifus, yang ditandai demam tinggi, lemah, sakit perut, sakit kepala, dan kehilangan nafsu makan.

Sumber: Liputan6.com

Ilustrasi: Douglas MacArthur saat tiba di Pulau Morotai dalam langkah awal memenangi Perang Pasifik. FOTO/Wikipedia
Biografi - Menduduki Filipina adalah hal penting bagi Jenderal Douglas MacArthur (1880-1964). Sebelum Perang Dunia II, MacArthur yang menjalani masa pensiun menjadi penasihat militer di Filipina. Namun, Perang Pasifik membuatnya ditugaskan pada 1941, menjabat Panglima Angkatan Darat Amerika Serikat di Timur Jauh. Kekuatan Jepang di sekitar Filipina membuat MacArthur dan pengikutnya mundur ke Australia. Di sana MacArthur pernah bilang, "Aku akan kembali."

Untuk bisa kembali ke Filipina, kekuatan Jepang di sekitar Papua harus dipreteli. Sebuah pulau dengan dataran luas tentu diperlukan sebagai batu pijakan untuk menuju Filipina. Pilihan jatuh ke Halmahera atau Morotai.

“Data intelijen yang tersedia mengindikasikan bahwa garnisun tempur Jepang yang kuat ada di Halmahera,” tulis Robert Ross Smith dalam The Approach to the Philippines (2014: 451). Sementara di Morotai pertahanan militer Jepang terbilang lemah. Akhirnya, MacArthur memilih Morotai.

Rencana penyerbuan itu diberitahukan via radio kepada Jenderal Walter Krueger (1881-1967), komandan Sixth United States Army di Area Pasifik Barat Daya pada Perang Dunia II. Pada 21 Juli 1944, Krueger diperintahkan melakukan persiapan.

Kruger lantas menunjuk Mayor Jenderal Charles Philip Hall (1886–1953), yang baru selesai dalam kampanye serbuan ke Aitape, sebuah kota kecil di pesisir utara Papua Nugini, untuk memimpin satuan tugas Operasi Tradewind guna merebut Morotai. Serangan itu dilakukan pada 15 September 1944.

MacArthur bergerak semakin ke utara. William Manchester dalam MacArthur: Sang Penakluk (1994) menulis bahwa sang jenderal membuat markas besar di Hollandia (nama saat itu untuk Jayapura) pada 30 Agustus 1944, dan pada 15 September 1944 ia berada di kapal penjelajah Nashville menuju Morotai.

Memimpin pasukan pendarat menuju pantai, yang ditingkahi arus dan gelombang, MacArthur mendapati bahwa Pulau Morotai hanya dihuni 500-1.000 tentara Jepang, sementara ia punya pasukan 61.000 personel.

“Pendaratan itu tidak mendapat perlawanan; tanpa korban seorang pun,” tulis Manchester.

Smith menulis, sekitar 16 September pukul 8 pagi, pada hari-hari pertama operasi, ketiga resimen Divisi ke-31 pimpinan Mayjen John Cecil Persons bergerak maju. Sekitar pukul 1 siang mereka menemukan tentara Jepang menyerah begitu saja.

Divisi itu pun mengamankan daerah Pitu, yang dikenal sebagai daerah landasan pacu. Pada hari-hari berikutnya, pasukan penyerbu itu seolah menjadi pasukan pemburu terhadap satuan-satuan kecil serdadu Jepang yang bertahan di pulau itu. Resimen Infanteri ke-126 pada 17 September mulai menduduki pulau-pulau di lepas pantai barat daya dan sekitarnya.

Di bagian utara dan sepanjang pantai barat, militer AS menghantam aktivitas serdadu Jepang. Peralatan musuh berhasil dihancurkan, termasuk sekitar sepuluh truk peralatan radar, bahan bakar minyak, pakaian, dan mesin duplikasi. Banyak serdadu Jepang melarikan diri ke pedalaman Morotai ketika diserang, dan tak ingin mengambil langkah damai.

“Selain itu, stasiun radar dan pos pengamatan didirikan di banyak pulau lepas pantai dan di berbagai titik di sekitar pantai Morotai,” tulis Smith.

Pos-pos militer diperbanyak pada hari-hari berikutnya. Pos-pos tambahan dibangun di sekitar pantai timur laut dan utara. Kemudian di Pulau Raoe, stasiun radar terakhir didirikan pada 21 September 1944.

Sementara pos-pos dan stasiun radar dibangun, menurut catatan Smith, Divisi ke-31 telah membangun instalasi dan bivak militer. Morotai pun dijadikan basis pasukan AS dalam Perang Pasifik. Ia menjadi pusat arus logistik bagi pasukan AS beraksi ke arah Filipina dan Borneo timur.

Biaya Perang di Pihak Jepang & Sekutu
Militer Jepang di Halmahera, masih menurut catatan Robert Ross Smith (2014), berusaha dengan keterbatasannya, mengirim tak lebih tiga atau empat tongkang ke Morotai dari 15 September hingga 4 Oktober 1944.

Serdadu Jepang yang terbunuh di Morotai mencapai 104 orang, sementara 13 orang ditangkap. Beberapa nahkoda mencatat setidaknya 200 serdadu Jepang tenggelam dalam sebuah serangan di perairan antara Morotai dan Halmahera. Di pihak sekutu, hingga 4 Oktober, 30 orang tewas, 85 terluka, dan satu orang hilang. Sedikitnya, ada 46 kuburan tentara sekutu di daerah Tanjung.

Jenderal Krueger menyatakan operasi Morotai berakhir pada 4 Oktober 1944. Namun, bulan-bulan berikutnya, beberapa pasukan tongkang Jepang berhasil menyelinap melalui blokade Sekutu untuk mencapai Morotai dari Halmahera. Meski begitu, serangan via tongkang ini cuma bikin gangguan kecil bagi militer Sekutu.

Serangan militer Jepang via udaralah yang cukup merugikan bagi pasukan Sekutu. Meski hanya 12 prajurit Sekutu yang terluka, serangan-serangan udara berikutnya menyebabkan kerusakan pesawat-pesawat Sekutu di Morotai.

Hingga 4 Oktober 1944, hanya ada 49 kasus malaria dan 22 kasus demam berdarah; sebagian besar di luar Divisi ke-31. Sekitar 990 pria dari satuan tugas dirawat di rumah sakit. Di antara itu ada sekitar 175 tentara Sekutu yang cedera di luar pertempuran; dan 103 personel terluka akibat pertempuran. Hingga 4 Oktober, hampir semua kasus ini telah dievakuasi di kapal Seventh Fleet LST's.

Pihak yang luar biasa untung, dan nyaris tanpa kontribusi, atas perebutan Morotai dari pihak Jepang adalah Belanda. Sebelum Perang Dunia II, Morotai termasuk koloni Hindia Belanda. Di masa perang, di Australia, pejabat pelarian dari Hindia Belanda sudah mempersiapkan diri membentuk Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA), yang diartikan sebagai pemerintah sipil Hindia Belanda.

"Urusan sipil di Morotai ditangani, seperti biasa, oleh Detasemen NICA [...] detasemen ini cepat membawa penduduk asli kembali di bawah kedaulatan Belanda," tulis Smith.

Itu tugas yang tergolong mudah mengingat penduduk lokal bersikap kooperatif. Bekerja melalui NICA, banyak penduduk setempat memberikan informasi mengenai disposisi Jepang di Morotai dan Halmahera; sementara yang lain bertindak sebagai pemandu untuk patroli yang tersebar di Morotai.

Dari sanalah NICA memobilisasi penduduk lokal membangun desa-desa. Setidaknya ada sekitar 350 penduduk yang terlibat.

Warisan Vital Pasca-PD II
Sesudah keberhasilan Sekutu mengoyak kekuatan Jepang yang lemah di Morotai, gugus tugas Operasi Tradewind dibubarkan pada 25 September 1944. Pasukan sekutu lantas berfokus membangun lapangan udara.

Dari sanalah Jenderal MacArthur memutuskan memperluas pembangunan lapangan udara di Morotai. Melebihi dari yang dipikirkan sebelumnya, ada tujuh landasan pacu yang dibangun, lima bandara sepanjang 2 kilometer dan dua lain sepanjang 3 kilometer.

Mengingat serangan udara Jepang cukup bikin kerepotan Sekutu, pengerjaan landasan pacu itu agak terhambat. Toh, pada hari-hari berikutnya, landasan udara bisa dibereskan, dengan bahan material yang mudah ditemukan di Morotai yang penuh karang.

Setelah hari ke-19 perebutan Morotai, pada 4 Oktober, landasan di Morotai mulai didarati pesawat pertama. Puluhan pesawat, bahkan pesawat pembom berukuran besar, akhirnya bisa mendarat.

Posisi Morotai itu sekali lagi sangat vital bagi pasukan Jenderal Douglas MacArthur karena “menghindari 22 ribu pasukan musuh dan berada 300 mil dari Filipina,” tulis William Manchester dalam MacArthur: Sang Penakluk.

Semasa di Morotai, MacArthur sempat tinggal di Pulau Zum-zum. Berkat menguasai Morotai, armada MacArthur tak hanya mampu merebut Filipina, tentara Australia Divisi VII pun bisa merebut beberapa kota di kawasan Indonesia bagian timur.

Belasan tahun setelah Perang Dunia II, Morotai menjadi tempat yang menarik. Hingga tahun 1950-an, peninggalan basis Sekutu itu menjadi landasan pacu terbesar di Indonesia bagian Timur. Hal ini pernah dimanfaatkan oleh Ventje Sumual dan pemimpin Permesta lain, yang pernah mengirim pasukannya untuk beberapa saat menguasai Morotai. Harapannya, jika Permesta punya pesawat besar, mereka bisa menempatkannya di sana.

Maka, demi kemenangan Sekutu di Pasifik bagian timur, merebut Morotai adalah kunci.

Biografi - Gunung Lawu memang menyimpan berbagai pesonanya. Keindahan tidak hanya bisa ditemukan di sepanjang jalur PENDAKIAN LAWU yang penuh misteri, tetapi juga tersebar di banyak wilayah sekelilingnya. Jika postingan sebelumnya pernah mengulas tentang sejukanya TELAGA WAHYU yang berada di Kabupaten Magetan, kali ini pesona keindahan tersebut berada di lereng Lawu sebelah utara di Kabupaten Ngawi tepatnya di Air Terjun Pengantin.

ika mendengar nama tersebut, yang ada dalam benak pastilah merupakan judul film horor. Dahulu memang ada film horor dengan judul Air Terjun Pengantin yang diputar di layar lebar. Saat dicari di Google pun yang muncul pada pencarian teratas adalah tentang film horor tersebut. Namun ternyata Air Terjun Pengantin bukan hanya judul film horor semata, melainkan juga merupakan nama sebuah obyek wisata.

Menuju Air Terjun Pengantin
Secara administratif, Air Terjun Pengantin terletak di Desa Hargomulyo, RT 03, RW 01, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Jarak tempuh dari Kota Ngawi adalah sekitar 37 kilometer dengan waktu tempuh sekitar satu jam 15 menit. Sementara jarak tempuh  dari Kota Surakarta adalah sekitar 63 kilometer dengan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan.


Beruntung karena saat ini telah tersedia aplikasi Google Maps untuk menunjukkan arah menuju Air Terjun Pengantin ini yang mana lokasinya sudah tersedia. Rute menuju ke sana memang tida terlalu menanjak, tetapi kondisi jalan yang harus dilalui tidak semuanya halus karena di beberapa ruas jalan penuh dengan lubang. Menjelang sampai lokasi, kondisi jalan akan menyempit sehingga dan berada di perkampungan.

 Saat ini juga belum ada kendaraan umum untuk sampai ke Air Terjun Pengantin sehingga jika ke sana harus menggunakan kendaraan pribadi. Akses jalan yang tersedia hingga area parkirnya bisa menampung sepeda motor hingga minibus. Sementara bus besar masih cukup kesulitan untuk melewati akses jalannya yang sempit.

Menuju Dua Air terjun
Perjalanan menggunakan kendaraan pun telah usai begitu sampai di area parkir. Namun bukan berarti perjalanan telah selesai karena perjalanan menempuh jalan setapak masih harus dilakukan untuk sampai ke lokasi air terjun. Untungnya perjalanan menapaki jalan setapak bukan merupakan hal yang buruk. Kondisi jalan setapak kini begitu baik karena pada pertengahan 2017 lalu telah dilakukan perbaikan oleh dinas terkait bersama masyarakat.


Jalan setapak yang harus dilalui sudah berupa paving dan anak tangga sehingga rasanya begitu mudah untuk melaluinya. Tak perlu khawatir akan jalur yang licin dan becek saat melaluinya di musim hujan. Namun meski jaraknya tidak begitu jauh, persiapan untuk melalui turunan dan tanjakan harus dilakukan karena lokasi air terjunnya memang ada di bawah.

 Perlahan suara air terjun akan mulai terdengar di tengah jalan yang otomatis semakin memompa semangat untuk segera sampai di sana. Tak lama kemudian pemandangan ke arah Air Terjun Pengantin berupa dua air terjun yang berdampingan pun akan terlihat dengan indahnya dari ketinggian. Nantinya akan dijumpai semacam spot foto yang bisa digunakan dengan latar belakang dua air terjun tersebut.

Legenda Air Terjun Pengantin
Akhirnya perjalanan pun sampai di Air Terjun Pengantin. Seperti yang telah dijelaskan tadi, terdapat dua air terjun yang terletak berdampingan. Letak dua air terjun yang berdampingan ini pun menjadi inspirasi dari penamaan Air Terjun Pengantin karena melambangkan sepasang mempelai pria dan wanita.


Jika menghadap ke arah air terjun, maka aliran air terjun kanan lebih deras daripada aliran air terjun kiri. Hal ini pun kemudian menimbulkan persepsi bahwa air terjun yang kanan melambangkan pengantin pria karena aliran deras juga menggambarkan kegarangan. Sementara air terjun yang kiri yang alirannya tidak deras melambangkan pengantin wanita dengan kelembutannya.

Air terjun yang ada memang berjumlah dua, tetapi kedua air terjun ini tetap berasal dari satu sungai saja. Selain sungai asalnya, aliran airnya pun akhirnya kembali menyatu menjadi sebuah sungai yang melambangkan Tuhan Yang Maha Esa. Penggambaran dan pelambangan air terjun ini tak lepas dari legenda yang ada. Tulisan mengenai legenda air terjun ini juga telah disediakan oleh pengelola sehingga pengunjung bisa membacanya.

 Konon dahulu ada seseorang penyiar Agama Islam bernama Eyang Galiman yang masih keturunan ningrat dari Adipati Gendingan. Beliau tertarik oleh adat mantu yang dilakukan di Dusun Besek; permukiman yang berada dekat dengan Air Terjun Pengantin. Eyang Galiman pun beranggapan bahwa adat mantu harus dilakukan dengan cara agama agar kelak generasi keturunannya lebih berkualitas dan beradab.

Eyang Galiman kemudian dipercaya untuk melakukan ritual daup manten pada acara mantu (pernikahan) di Dusun Besek dan sekitarnya. Beliau kemudian mengambil air dari sebuah air terjun yang konon dikeramatkan masyarakat setempat untuk selanjutnya diminumkan kepada kedua mempelai. Konon katanya air dari air terjun tersebut memiliki khasiat untuk melanggengkan hubungan rumah tangga.

Pesona Air Terjun Pengantin
Terlepas dari mitos dan legenda yang ada, Air Terjun Pengantin merupakan tempat yang sangat nyaman untuk mengisi waktu liburan. Lokasinya yang berada di lereng Gunung Lawu menyebabkan udaranya di kawasan tersebut begitu sejuk dan segar. Selain itu pepohonan yang masih rimbun akan membawa suasana relaksasi bagi para pengunjungnya.


Air yang mengalir pun bersumber langsung dari Gunung Lawu sehingga kesegarannya masih sangat terjaga. Air dari air terjun ini bisa langsung diminum tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Namun tentu saja harus dipastika terlebih daulu bahwa tidak ada orang yang mencuci kakinya di ujung aliran sungai.

Selain kesegaran air dan kesejukan udaranya, suara air terjunnya juga merupakan nyanyian alam yang begitu merdu. Duduk-duduk sambil menikmati nyanyian air terjun tentu mampu untuk menghadirkan ketentraman dalam jiwa. Jika ingin bermain air, kolam dan aliran sungai dari Air Terjun Pengantin ini pun aman untuk dipakai berenang atau berendam. Saat musim kemarau air terjun ini masih tetap ada, tetapi dengan volume air yang lebih kecil.

Mengenai pantangan atau larangan, tidak ada peraturan khusus yang ada di sini. Larangan dan pantangan yang ada pun tidak jauh berbeda dari kebanyakan obyek wisata lainnya. Ada baiknya aturan tersebut harus dipatuhi selain agar tempatnya tetap terawat, aturan tersebut juga demi keselamatan pengunjung sendiri. Tentu rasanya tidak rela jika tempat seindah Air Terjun Pengantin ini dipenuhi sampah dan coret-coretan orang yang tidak bertanggung jawab.

Jika tiba-tiba lapar menyerang saat bermain air, tidak perlu untuk berjalan jauh ke area parkir karena sudah ada warung makan yang menyediakan berbagai makanan di area air terjun. Namun perlu diingan bahwa sampah kemasan makanan dan minuman harus selalu dibuang pada tempatnya. Tong sampah pun juga sudah banyak tersedia di sini; baik untuk sampah organik maupun anorganik yang ditujukan agar kawasan ini senantiasa bersih.

Video merekam seorang pria di China membawa pulang seekor lumba-lumba dari pantai setempat (Screengrab/Weibo via Channel News Asia)
Beijing - Seorang pria di China terekam kamera membawa pulang seekor lumba-lumba yang diduga telah mati, dari pantai setempat. Otoritas China sedang mencari pria ini untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Dilaporkan media lokal China, btime.com dan dilansir Channel News Asia, Jumat (4/5/2018), pria yang diduga turis itu terekam video sedang berjalan santai di pantai, sambil menggendong seekor lumba-lumba di bahunya dan memegang telepon genggam di salah satu tangannya.

Video yang direkam pada Selasa (1/5) waktu setempat itu dilaporkan diambil di sebuah pantai di Pulau Hailing, Provinsi Guangdong, China bagian tenggara. Pantai itu merupakan tujuan wisata populer.

Laporan media lokal menyebut pria yang hanya memakai celana renang itu kemudian memasukkan lumba-lumba ke dalam mobilnya dan pergi dari pantai tersebut.

Lumba-lumba yang dbawa pria itu terlihat telah tak bernyawa. Laporan menyebut pria itu menemukan lumba-lumba itu terdampar di pantai Pulau Hailing.

Video pria yang membawa luma-lumba ini beredar luar di media sosial China. Biro Perikanan lokal telah meluncurkan penyelidikan terkait insiden itu.

"Lumba-lumba merupakan hewan dilindungi di China. Baik mati atau hidup, jelas salah untuk membawanya. Dia (pria dalam video) seharusnya menghubungi otoritas setempat untuk menangani persoalan itu," ucap seorang pejabat setempat.

Ditambahkan pejabat tersebut bahwa pihak kepolisian telah dilibatkan untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut.

Keberadaan pria dalam video itu masih dicari tahu. Jika diketahui identitasnya dan ditemukan oleh otoritas China, pria dalam video itu akan dijatuhi hukuman. [detik]
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget