Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

Header Al Hasan Nasruddin Ath Thusi. tirto.id/Sabit
Biografi - Nasiruddin al-Tusi atau bernama lengkap Abu Jafar Muhammad Ibn Muhammad Ibnu Al Hasan Nasiruddin Al-Tusi adalah seorang ilmuwan serba bisa dari Persia. Ia lahir pada 18 Februari 1201 Masehi di Kota Tus yang terletak di dekat Mashed, Persia (sekarang sebelah timur laut Iran).

Sebagai seorang ilmuwan yang tersohor pada zamannya, al-Tusi memiliki banyak nama, antara lain Muhaqqiq, Khuwaja Thusi, Khuwaja Nasir, al-Din Tusi, dan (di Barat dikenal sebagai) Tusi.

Di masa kecilnya, al-Tusi digembleng ilmu pengetahuan oleh ayahnya Muhammad Ibn al Hasan yang berprofesi sebagai ahli hukum di sekolah Imam Kedua Belas, sekte utama muslim Syiah. Selain digembleng ilmu agama, ia mempelajari Fiqih, Ushul Fiqih, Hikmah, dan Kalam, terutama pemikiran Ibnu Sina dari Mahdar Fariduddin Damad dan matematika dari Muhammad Hasib. Al-Tusi akhirnya menyelesaikan pendidikannya di Nihshapur, sekitar 75 kilometer barat Mashed.

Ia kemudian pergi ke Bagdad, yang pernah menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan dan puncak keemasan peradaban Islam. Di sana, ia mempelajari lagi ilmu pengobatan dan filsafat dari Qutbuddin dan juga matematika dari Kamaluddin bin Yunus dan fiqih serta ushul dari Salim bin Bardan.

Semasa hidupnya, Tusi mendedikasikan diri untuk mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan seperti astronomi, biologi, kimia, metamatika, filsafat, kedokteran, hingga ilmu agama islam.

Menurut O'Connor dan Robertson, pengetahuan tambahan diperoleh dari pamannya begitu berpengaruh pada perkembangan intelektualnya. Al-Tusi lahir pada abad ke-13, saat dunia Islam mengalami era sulit. Pada zaman itu, militer Mongol menginvasi wilayah kekuasaan Islam yang begitu luas. Kota-kota dihancurkan dan penduduknya dibantai oleh tentara Mongol. Hilangnya rasa aman dan ketenangan menyebabkan banyak ilmuwan sulit mengembangkan ilmu pengetahuan.

Pada tahun 1220 masehi, invasi militer Mongol telah mencapai kota Tus, tempat Tusi dilahirkan. Kota itu pun dihancurkan. Di tengah situasi tak jelas, penguasa Islamiyah Abdurahim mengajak sang ilmuwan bergabung. Tawaran itu pun tak disia-siakan oleh al-Tusi. Ia bergabung menjadi salah satu pejabat Istana Islamiyah. Ia kemudian mengisi waktunya dengan beragam karya penting tentang astronomi, filsafat, logika serta matematika.

Akhirnya, pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan (cucu Jengis Khan) berhasil menguasai Istana pada 1256 dan meluluhlantakannya. Beruntung, nyawa al-Tusi selamat karena Hulagu sangat menaruh minat terhadap ilmu pengetahuan, khususnya astronomi. Tusi diangkat Hulagu menjadi penasihat ilmiah bagi pasukan Mongol, dan tak lama kemudian ia pun menikah dengan orang Mongol.

Posisi istimewa al-Tusi membuatnya merencanakan pembangunan The National Research Institute Astronomical Observatory atau disebut Observatorium Rasad Khaneh di Maragha. Perencanaan itu ia ungkapkan kepada Hulagu yang kemudian menyetujui keinginan ilmuwan Persia tersebut.

Hulagu saat itu telah menjadikan wilayah Maragha yang berada di wilayah Azerbaijan sebagai ibu kota pemerintahnya. Kepercayaan Hulagu kepada Al-Tusi membuat pemimpin tertinggi Mongol tersebut mendukung pembangunan observatorium megah pada 1259. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1262, gedung Observatorium Maragha selesai.

Observatorium itu terletak di ketinggian barat Maragha, Provinsi Azerbaijan Timur, Iran, yang pernah dianggap sebagai salah satu observatorium paling bergengsi di dunia. Menurut Raghib As Sirjani dalam Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, observatorium ini kemudian menjadi pegangan para ilmuwan Eropa di bidang astronomi.

Bangunan yang kini berbentuk setengah bola berwarna putih tersebut menjadi yang terbesar di masanya, terdiri dari serangkaian bangunan berukuran lebar 150 meter dan panjang 350 meter. Salah satu ciri khas bangunan ini adalah sebuah kubah yang memungkinkan sinar matahari memasukinya.

Observatorium Maragha
Ada misi penting yang membuat Tusi meminta Hulagu membangun observatorium, yakni agar tabel astronomi yang mampu memberikan prediksi tabel lebih tepat bisa disusun. Maka, bisa dibilang Observatorium Maragha merupakan sumbangan monumental al-Tusi yang sangat besar di bidang astronomi.

Pembangunan dan operasional observatorium melibatkan sarjana dari Persia dibantu astronom dari Cina. Teknologi yang digunakan pun tergolong canggih pada zamannya. Peralatan dan teknologi penguak luar angkasa yang digunakan ternyata merupakan penemuan al-Tusi, salah satunya adalah Kuadran Azimuth.

Selama 12 tahun menjabat sebagai pemimpin observatorium, al-Tusi berhasil membuat tabel planet seperti yang digambarkan dalam bukunya Zij-i ilkhani (Ilkhan Tables). Buku tersebut berisikan tabel astronomi untuk mengkalkulasi posisi planet dan nama-nama bintang. Model yang dihasilkan untuk sistem planet diyakini sebagai suatu yang sangat maju pada jamannya, dan digunakan secara ekstensif sampai berkembangnya model heliosentris pada masa Nicolaus Copernicus, astronom berkebangsaan Polandia.

Observatorium ini juga memiliki perpustakaan dengan 400 ribu jilid buku dalam semua bidang ilmu pengetahuan. Di tempat itu, al-Tusi tak hanya mengembangkan bidang astronomi saja, ia pun turut mengembangkan filsafat dan matematika.  Selanjutnya

Biografi - Kereta merapat di stasiun Jombang. Situasi stasiun tak terlalu ramai. Eropa tengah tergoncang tahun pertama Perang Dunia Kedua. Proklamasi kemerdekaan Indonesia masih enam tahun lagi. Keadaan Jombang baik-baik saja. Tenang dan normal.

Anggota aktif Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah itu keluar dari gerbong kereta. Pandangannya mengitari area stasiun, mencari seseorang. Seseorang dari Tebuireng yang dalam surat akan menjemputnya. Ditelusuri dengan pandangannya, orang yang dimaksud ternyata ada.

Seorang pemuda. Kulitnya putih, wajahnya tampan. Tubuhnya padat berisi dan sedikit pendek. Sangat sulit menilai jika orang yang menjemputnya ini adalah seorang santri—atau dulunya seorang santri. Pakaiannya tidak mencerminkan itu. Tidak mengenakan sarung dan blangkon. Tetapi peci putih ala Jawaharlal Nehru dan celana panjang. Tampilan yang terlalu modis dan modern tentu saja pada era itu.

“Ahlan wa sahlan, marhaban… ahlan.. ahlan,” kata sambutan meluncur sambil menjabat tangan erat. Si tamu tidak kalah ramah menyalaminya.

Keduanya baru kali itu bertemu setelah hanya bertegur sapa lewat surat. Sudah barang tentu keduanya menyebutkan nama masing-masing. Basa-basi memperkenalkan diri sekalipun sudah tahu sama tahu.

“Saifuddin Zuhri,” kata si tamu sambil terus menjabat.

Orang yang menyalami membalas, “Wahid Hasyim.”

Iya, dia KH. Wahid Hasyim, ayah KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Zuhri lantas diantarkan Wahid keluar dari stasiun. Lengan Zuhri dipegang begitu erat, seolah Wahid takut Zuhri akan melarikan diri. Tangan Wahid yang lain menjinjing koper Zuhri. Keduanya langsung menuju jalanan depan stasiun. Di sana sudah menunggu delman milik Wahid. Setelah naik dan memastikan tidak ada yang tertinggal, keduanya menuju Pondok Pesantren Tebuireng.

Sepanjang perjalanan, Wahid bercerita banyak sekali kisah lucu di pesantren. Zuhri mendengarnya dengan antusias dan bisa mengikis rasa letih dalam perjalanan.

“Suasana jadi akrab sekali, seakan-akan kami dua orang sahabat yang telah lama berkenalan,” tulis Zuhri dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren (2007: 140).

Sayangnya, cerita yang mengasyikkan dari Wahid ini tidak masuk semuanya ke pikiran Zuhri. Ada perasaan sungkan dan minder karena di hadapannya disadari benar adalah orang besar. Meskipun orang di hadapannya itu baru berusia sekitar 25 tahun, selisih sekitar 5 tahun lebih tua dari Zuhri, tetapi Zuhri sadar bahwa “Gus” yang jadi teman bicaranya adalah anak dari seorang kiai paling dihormati di tanah Jawa. Itu membuat Zuhri tidak bisa sepenuhnya menikmati percakapan.

“Dalam fantasiku, orang besar mestilah memperlihatkan mahal senyum. Kalau bicara dihemat. Perhatiannya dipusatkan kepada dirinya bukan kepada yang diajak bicara,” terang Zuhri. “Tapi orang yang satu ini tidak demikian. Pusat perhatiannya ditujukan kepadaku, orang kecil.”

Entah mimpi apa Zuhri sebelumnya, hari itu ia satu delman dengan orang yang diam-diam ia kagumi.

Mendekati Pesantren Tebuireng, dalam hati penuh syukur, Zuhri bisa diberi kesempatan mengunjungi salah satu pesantren yang termasyhur ini.

Begitu sampai, Wahid Hasyim menganjurkan Zuhri untuk istirahat sejenak, “Minumlah dulu, nanti aku antarkan menghadap Hadratus Syaikh.”

Yang dimaksud tentu saja sang ayah, KH. Hasyim Asya’ari. Mendengar akan menghadap Maha Guru, suasana hati Zuhri bercampur antara girang dan tegang. Gembira sekaligus takut. Orang yang akan jadi legenda itu akan ia temui langsung dan berhadap-hadapan. Sudah barang tentu merasa terhormat sekali Zuhri jadinya.

Zuhri mengakui untuk orang yang baru pertama kali bertemu dengan Hadratus Syaikh, akan ada pancaran wibawa yang membuat sedikit tertekan siapa pun yang bertamu.

“Ketika aku memberikan salam, beliau sedang duduk di atas permadani yang memenuhi ruangan tamu yang luas,” terang Zuhri.

Berbeda dengan putranya yang terlihat “modern”, Hadratus Syaikh masih setia dengan baju “Jawa”. Pakaian yang dikenakan terlihat seperti piyama yang tak berkerah. Berwarna putih kain katun, mengenakan sarung dan sorban. Saat Zuhri menghadap, Hadratus Syaikh sedang membaca sebuah surat.

“Aku heran sekali, melihat seorang tua yang usianya lebih dari 70 tahun masih dapat membaca tanpa kaca mata,” tulis Zuhri dalam otobiografinya.

Wahid Hasyim pun mendekat. Memperkenalkan Zuhri kepada ayahnya. Lalu keduanya terlibat pembicaraan menggunakan bahasa Arab yang bercampur bahasa Jawa. Sesekali Wahid menjawab pertanyaan Hadratus Syaikh dengan bahasa Jawa halus. Tentu bukan karena tidak mampu menjawab dengan bahasa Arab, tapi karena rasa hormat kepada orang tua sudah menjadi gerak refleks bicara Wahid.

“Tapi setelah KH. Wahid Hasyim memberitahu bahwa aku dari kalangan Pemuda Ansor, Hadratus Syaikh kontan menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan denganku,” terang Zuhri.

Meski begitu, sesekali Hadratus Syaikh juga menanyai Zuhri dengan bahasa Arab. Zuhri pun menjawabnya dengan bahasa Indonesia, mengikuti cara Wahid yang juga sesekali menjawab percakapan itu dengan bahasa Jawa halus. Artinya, dalam pembicaraan tiga orang itu, ada tiga bahasa yang digunakan oleh masing-masing. Bahasa Arab oleh Kiai Hasyim, Bahasa Indonesia oleh Zuhri, dan Bahasa Jawa halus oleh Wahid Hasyim. Selanjutnya

07:19 ,
Biografi - Otoritas Turki mengirimkan kapal pertamanya yang membawa bantuan pangan ke Qatar. Selain itu, Turki juga mengirimkan bantuan ke negara sahabatnya itu berupa kontingen kecil tentara beserta kendaraan lapis baja. Bantuan ini dikirim pada Kamis, kemarin, 22 Juni 2017.

Dilansir dari Reuters, Jumat, 23 Juni 2017, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga sudah berkomunikasi dengan para pemimpin Arab Saudi terkait ketegangan di wilayah Teluk tersebut.

Seperti diketahui, Turki mendukung Qatar setelah sejumlah negara Teluk, mulai Arab Saudi, Mesir dan lainnya memutuskan hubungan diplomatik, termasuk ekonomi terhadap Qatar. Berbagai tuduhan bahwa pihak Qatar sebagai negara yang mendukung aksi terorisme. Meski tuduhan ini juga dibantah Turki.

Sebagai negara sekutu, Turki ingin membantu Qatar. Sejak lama, Turki punya peranan sebagai mediator di kawasan tersebut. Upaya bantuan ini juga untuk meredam pengaruh pihak yang kontra seperti Arab Saudi.

Sementara, dua negara dilaporkan memiliki kesepakatan yang ditandatangani bersama pada 2014. Dalam undang-undang yang disepakati, antarnegara bisa mengirimkan bantuan termasuk militer.

Adapun dalam bantuan ini, lima kendaraan lapis baja dan 23 personel militer tiba di kota Doha pada Kamis kemarin. Pihak Turki menyatakan bantuan ini merupakan tahapan baru sebagai langkah kerangka tindakan hukum mengenai pelatihan militer dan kerja sama antara kedua negara.

Hingga sekarang, sekitar 88 tentara Turki sudah berada di Qatar. Jumlah ini dikutip Reuters dari surat kabar Hurriyet. Rencananya, selain 'kontingen' tentara angkatan darat, dipertimbangkan pula bantuan kontingen angkatan udara ke Qatar.

Kapal Turki

Empat ribu ton persediaan makanan kering, buah, dan sayuran dibawa kapal Turki pertama. Kapal ini berangkat dari sebuah pelabuhan di provinsi Izmir, Turki barat, Kamis pagi. Sumber dari kantor berita Turki, Anadolu mengatakan bantuan ini diharapkan tiba di Doha dalam waktu sekitar 10 hari.

Pihak otoritas Turki menegaskan bantuan terhadap Qatar ini tak bermaksud untuk mengancam pihak lain. Juru Bicara Presiden Turki, Ibrahim Kalin, menyatakan pengiriman bantuan ini bukan bertujuan untuk memanaskan tensi di kawasan teluk.

"Kami tidak ingin ada ketegangan dengan negara Teluk manapun, kami juga tidak ingin mereka bertengkar satu sama lain. Ini adalah pendekatan kami terhadap masalah krisis ini dari awal," kata Ibrahim, Kamis, di Ankara, Turki.

Menurutnya, jika ada negara Teluk yang tak setuju dengan kebijakan Turki, maka bisa dimaklumi. Namun, sebagai negara sahabat, ia mengingatkan agar negara lain juga bisa memahami kebijakan Turki yang ingin berbuat terhadap Qatar.

"Jika dua teman Anda, dua tetangga saling tidak setuju satu sama lain dan jika ada sesuatu yang dapat Anda lakukan mengenai hal ini, wajar jika kita bertindak," tuturnya. (viva)

Biografi - Hari ini media sosial diramaikan oleh perbincangan mengenai asal-usul patih Kerajaan Majapahit, Gadjah Mada. Muaranya adalah perdebatan apakah Gadjah Mada benar seorang muslim?

Nama Gadjah Mada memang harum hingga kini. Tentu karena ia dikenal sebagai sosok patih pemersatu beragam wilayah kepulauan yang kemudian bernama Nusantara.

Ahli arkeologi dari Universitas Indonesia Ali Akbar mengatakan, saking mewanginya nama Gadjah Mada membuat banyak wilayah di Indonesia yang merasa memilikinya. Termasuk dengan makamnya, ada beberapa pihak di wilayah tertentu yang mengklaim jasad Gadjah Mada dikebumikan di sana.

Namun hingga kini belum ada bukti arkeologi atau naskah kuno sahih yang menyatakan bagaimana akhir hidup Gadjah Mada, di mana dan dengan cara apa ia dikuburkan.

"Yang pertama figur Gadjah Mada sangat terkenal, dia kan tangan kanan Kerajaan Majapahit. Tapi akhir hidupnya nggak ada yang tahu, karena itu sampai sekarang nggak ada makam Gadjah Mada yang definitif. Namun memang ada beberapa yang mengklaim dengan menyebutkan bukti arkeologis," kata Ali Akbar dalam perbincangannya dengan kumparan (kumparan.com), Kamis (15/6).

Namun Ali menjelaskan, diceritakan dalam Kitab Negarakertagama, sebelum Gadjah Mada meninggal, dia melakukan ekspedisi ke luar Pulau Jawa.

"Ada ekspedisi ke Dompu, Seram, dan berbagai wilayah di Pulau Luar Jawa lainnya. Dampaknya adalah hampir semua masyarakat setempat (mengklaim) di situ ada makam Gadjah Mada. Misalnya datang ke Lombok ada yang mengklaim di sana makam dia ada di dekat air terjun," bebernya.

 Selanjutnya

Biografi - Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto menyatakan bahwa permintaan Red Notice yang diajukan Polda Metro Jaya ke Interpol untuk kasus konten pornografi dengan tersangka Rizieq Shihab ditolak. Alasan penolakan Interpol karena bukti dalam kasus ini belum memenuhi syarat.

"Saya tadi dapat informasi dari Sekretariat NCB Interpol Indonesia, kasus ini dikembalikan lagi ke Polda Metro Jaya," kata Setyo di Mabes Polri (12/6/2017).

Interpol menolak Red Notice kasus Rizieq karena bukti yang ada dalam gelar perkara yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya dan Interpol belum memenuhi syarat untuk penerbitan Red Notice.

Red Notice adalah permintaan penahanan terhadap seorang pelaku kriminal yang telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dan tersangka kepada Interpol. Dengan penerbitan Red Notice, pergerakan pelaku kriminal di luar negeri menjadi terbatas.

"Itu kan sudah gelar perkara. Ternyata gelar perkaranya belum cukup. Jadi dikembalikan ke penyidik," katanya.

Ditanya mengenai kabar Rizieq yang mendapatkan visa unlimited dengan jangka waktu tidak terbatas, Setyo menyatakan tidak mau menjawab soal itu. Karena, menurutnya hal ini bukan wewenangnya untuk menjawab.

"Saya bukan yang berwenang untuk menjawab itu," katanya.

Tidak hanya itu, Setyo juga menyatakan bahwa pihaknya tidak memiliki persiapan khusus untuk menjemput maupun mengenai rencana kedatangan Rizieq. Meskipun, sempat dikabarkan bahwa akan ada massa pendukung Rizieq yang berencana untuk menyerbu bandara.

"Belum ada rencana untuk itu," katanya.

Sampai saat ini Rizieq Shihab masih berada di Arab Saudi dan belum diketahui kapan akan kembali ke Indonesia. Bahkan, penasihat hukum Rizieq, Sugito Atmo Prawiro, menyatakan dirinya belum mendapat informasi apapun terkait kedatangan Rizieq.

"InsyaAllah belum datang hari ini," katanya kepada Tirto (12/6/2017).

Saat ditanya mengenai visa unlimited Rizieq, Sugito enggan menjawab. Sugito menyebut visa tersebut tidak memiliki masa kedaluwarsa. Ia juga memilih bungkam saat ditanya kemungkinan Rizieq untuk menetap permanen di Saudi Arabia.
Imigrasi Tegaskan Tidak Ada Visa Unlimited
Meski begitu, Kabag Humas Ditjen Imigrasi Agung Sampurno menyatakan tidak ada visa unlimited seperti yang dimaksudkan. Melainkan, menurutnya visa hanya ada dua jenis, yakni single dan multiple.

"Visa itu secara universal diartikan hanya ada dua: single dan multiple. Maksudnya entry-nya atau ijin masuk. Mau masuk sekali atau berkali-kali masuk," katanya saat dihubungi Tirto (12/6/2017).

Ia pun menjelaskan bahwa yang dimaksud visa adalah izin masuk yang diberikan oleh suatu negara kepada orang asing melalui perwakilan negaranya.

Sehingga, untuk mengetahui jenis visa yang dipakai Rizieq masuk ke Arab Saudi, adalah kewenangan Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia.

"Itu kewenangan negara pemberi visa. Kalau misal Arab Saudi, ya tanya ke Kedubes Arab Saudi," katanya.

Beredar kabar mengenai kepulangan Imam Besar FPI Rizieq Shihab pada Senin (12/6/2017) mengingat visa Rizieq di Arab Saudi akan habis. Bahkan sehari sebelumnya, pada Minggu (11/6/2017) sempat tersiar kabar bahwa Rizieq akan kembali ke Indonesia. Tetapi kabar ini ditepis oleh penasihat hukum Rizieq, Sugito Atmo Prawiro yang justru menekankan bahwa kliennya mendapat izin tinggal lebih lama di Arab Saudi.

Pengacara Rizieq lainnya, Kapitra Ampera mengaku tidak mengetahui secara pasti tanggal Rizieq kembali dari Arab Saudi. Namun, ia memastikan, Rizieq sudah mendapat perpanjangan visa dari Kedubes Arab Saudi sehingga kemungkinan besar akan tinggal di sana lebih lama.

Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya telah menetapkan Imam Besar Front Pembela Islam, Rizieq Shihab sebagai tersangka dalam kasus dugaan chat berkonten pornografi dengan wanita bernama Firza Husein, Senin (29/5/2017). Polisi menerapkan Pasal 4 ayat 1 juncto pasal 29 dan atau Pasal 6 juncto pasal 32 dan atau Pasal 9 juncto Pasal 35 Undang-undang nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Sebelum Rizieq, Firza Husein juga sudah ditetapkan sebagai tersangka pornografi dalam kasus itu pada Selasa (16/5/2017). Untuk diketahui, kasus chat antara Rizieq dan Firza mencuat setelah tersebar di sebuah situs bernama domain baladacintarizieq. Di situs yang kini sudah tidak bisa diakses itu, terdapat percakapan mesra seorang pria bernama akun WhatsApp Rizieq dengan wanita diduga Firza Husein. (Tirto)
loading...

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget